BERITA TERKINI
Indonesia Economic Summit 2026 Dorong Percepatan Investasi, Kalimantan Disorot sebagai Pusat Pertumbuhan Baru

Indonesia Economic Summit 2026 Dorong Percepatan Investasi, Kalimantan Disorot sebagai Pusat Pertumbuhan Baru

Forum Indonesia Economic Summit (IES) 2026 resmi dibuka pada 3 Februari, menampilkan langkah Indonesia untuk mempercepat investasi sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara.

IES 2026 diikuti perwakilan dari 53 negara dan mempertemukan pemimpin pemerintahan, pelaku usaha, investor global, akademisi, hingga organisasi internasional. Forum ini juga diarahkan untuk merespons tantangan ekonomi global yang semakin kompleks, mulai dari fragmentasi geopolitik, perlambatan ekonomi, hingga tekanan transformasi struktural.

Salah satu fokus utama IES 2026 adalah investasi sebagai mesin pertumbuhan baru. Dalam sesi strategis, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Premier Sarawak Datuk Patinggi Tan Sri Abang Haji Abdul Rahman Zohari serta Chairman ICCD Abdullah Saleh Kamel membahas peluang investasi lintas kawasan, termasuk potensi Kalimantan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Airlangga menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan menengah (middle power) di tengah dinamika geopolitik global. Pemerintah, kata dia, mengedepankan diplomasi strategis, kemitraan ekonomi yang beragam, serta kepemimpinan di ASEAN untuk menjaga keseimbangan sekaligus memperkuat ekonomi nasional.

Menurut Airlangga, kondisi global saat ini lebih banyak ditentukan oleh kekuatan dibanding ideologi. Indonesia, sebagai kekuatan menengah, disebut berupaya menjaga netralitas sambil memperkuat ekonomi melalui diplomasi, perdagangan, dan kerja sama regional. Ia juga menyampaikan fokus penguatan ekonomi pada sektor jasa, manufaktur bernilai tambah, energi terbarukan, dan teknologi maju.

Selain itu, Airlangga menekankan pentingnya kolaborasi regional, termasuk pengembangan semikonduktor generasi baru, untuk menopang pertumbuhan berkelanjutan.

Di sisi lain, Ketua Dewan Pengawas IBC Arsjad Rasjid menilai Indonesia memiliki modal strategis melalui politik luar negeri bebas aktif. Ia menyebut posisi tersebut turut diperkuat oleh peran Presiden Prabowo Subianto yang aktif membangun jejaring internasional lintas kawasan.