JAKARTA — Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi hub penghubung perdagangan dan investasi Islam di kawasan Asia Pasifik. Pandangan ini disampaikan Ketua Dewan Pengawas Indonesian Business Council (IBC) Arsjad Rasjid dalam Indonesia-Business 57+ (B57+) Roundtable pada forum Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Jakarta.
Business 57+ (B57+) dirancang sebagai platform inklusif yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan mitra internasional untuk membahas strategi konkret dalam memperkuat konektivitas ekonomi antarnegara muslim serta mitra strategisnya. Dalam kerangka itu, Indonesia diposisikan sebagai simpul utama kerja sama melalui pembentukan B57+ Asia-Pacific Chapter yang resmi diluncurkan pada 3 Februari 2026, dalam rangkaian IES 2026.
Inisiatif tersebut diarahkan untuk menyatukan para pemimpin sektor swasta dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OIC), dengan tujuan memperkuat perdagangan, investasi, dan kolaborasi ekonomi di berbagai pasar Islam di dunia.
Arsjad menilai negara-negara muslim memiliki skala pasar dan basis produksi yang besar, namun potensinya perlu dimaksimalkan melalui konektivitas yang lebih kuat. Menurut dia, Indonesia dapat mengambil peran sentral dalam memperkuat keterhubungan tersebut.
“Indonesia punya keunggulan geografis dan kepercayaan dari negara-negara muslim. Kami siap menghubungkan pelaku usaha Muslim dengan peluang bisnis nyata, dari kemitraan hingga investasi besar. Dan kami juga terbuka untuk bekerja sama dengan investor global yang tertarik dengan ekonomi Islam,” ujar Arsjad.
Indonesia juga disebut memiliki posisi kuat dalam ekosistem ekonomi Islam global. Berdasarkan State of Global Islamic Economy Report 2024–2025, Indonesia mempertahankan peringkat ketiga ekonomi Islam dunia setelah Malaysia dan Arab Saudi. Indonesia mencatat capaian tertinggi pada sektor modest fashion (peringkat 1), pariwisata ramah Muslim (peringkat 2), serta farmasi dan kosmetik halal (peringkat 2).
Salah satu capaian yang disorot adalah posisi Indonesia sebagai negara dengan investasi halal terbesar di dunia. Sepanjang 2023, Indonesia mencatat 40 transaksi senilai USD1,6 miliar dari total USD5,8 miliar investasi halal global.

