BERITA TERKINI
Laba Industri China Naik 15,2% pada Awal 2026, Sinyal Pemulihan Ekonomi Mulai Terlihat

Laba Industri China Naik 15,2% pada Awal 2026, Sinyal Pemulihan Ekonomi Mulai Terlihat

Laba perusahaan industri di China mencatat pertumbuhan lebih kuat pada awal 2026, memberi sinyal pemulihan di ekonomi terbesar kedua dunia. Namun, perkembangan geopolitik di Timur Tengah dinilai berpotensi mengganggu pertumbuhan global dalam beberapa bulan mendatang.

Data Biro Statistik Nasional China yang dirilis Jumat (27/3/2026) menunjukkan laba industri meningkat 15,2% pada dua bulan pertama 2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan laba sepanjang 2025 yang hanya 0,6%.

Sejumlah sektor mencatat lonjakan laba paling cepat. Manufaktur komputer, komunikasi, dan peralatan elektronik lainnya membukukan kenaikan 200%. Sementara itu, industri peleburan dan pengolahan logam non-ferrous meningkat 150%.

Meski demikian, marjin bisnis disebut masih tertekan akibat kenaikan biaya input dan persaingan yang ketat. Di sisi lain, perekonomian China memulai tahun dengan pijakan yang lebih kuat, ditopang dorongan ekspor—terutama dari permintaan teknologi terkait AI—serta peningkatan produksi industri. Rebound penjualan ritel dan investasi juga menjadi faktor yang menopang perbaikan.

Risiko eksternal tetap menjadi perhatian. Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mengguncang pasar perdagangan dan energi global, yang diperkirakan dapat berdampak pada ekonomi dalam beberapa bulan ke depan. Investor juga menyoroti kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China yang tertunda sebagai indikator arah pertumbuhan global.

Dari sisi harga, inflasi konsumen sempat meningkat selama libur Tahun Baru Imlek terpanjang yang berlangsung sembilan hari. Namun, deflasi produsen masih berlanjut, mencerminkan permintaan domestik yang lemah dan persaingan ketat, termasuk di sektor otomotif dan panel surya.

Tekanan biaya juga berpotensi membebani profitabilitas ke depan. Kenaikan biaya komponen, terutama chip memori, disebut dapat menekan kinerja laba lebih lanjut. Presiden Xiaomi Lu Weibing memperingatkan bahwa dalam siklus panjang kenaikan biaya, sebagian perusahaan dapat menghadapi kerugian besar bahkan kebangkrutan.