Perusahaan fintech Indodana membantah kabar yang menyebut tim penagihnya terlibat dalam aksi pemesanan ambulans fiktif di Kota Semarang, Jawa Tengah. Dalam kejadian tersebut, ambulans yang semestinya digunakan untuk kondisi darurat justru didatangkan ke alamat warga dan kemudian diarahkan untuk menagihkan utang.
Indodana menyampaikan bahwa pada 4 Februari 2026 pihaknya dihubungi tiga layanan ambulans, yakni Ambulans Antasena, Ambulans Arjuna, dan Ambulans Armada Service. Ketiganya meminta klarifikasi terkait pesanan penjemputan pasien sakit di wilayah Semarang yang diduga fiktif, dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan Indodana.
“Dari pertemuan tersebut, kami menyambut baik laporan pihak ambulans telah menjalankan tugasnya tetapi mengalami gangguan operasional serta dampak reputasi dari kejadian tersebut,” kata Indodana dalam keterangannya, Jumat (6/2/2026).
Setelah menerima laporan, Indodana mengaku melakukan investigasi internal untuk memverifikasi data pemesan ambulans. Indodana juga menyatakan bahwa alamat yang didatangi ambulans merupakan kediaman nasabah mereka. Namun, menurut perusahaan, nasabah tersebut memiliki catatan pembayaran yang baik.
“Dapat kami sampaikan, nasabah tersebut memiliki catatan pembayaran yang sangat baik (lancar) di Indodana Fintech,” ujar Indodana.
Indodana mengatakan pihaknya kemudian kembali bertemu dengan penyedia ambulans untuk meluruskan informasi terkait orderan fiktif tersebut, termasuk menyampaikan hasil pemeriksaan terhadap kontak pemesan. Perusahaan menegaskan nomor yang digunakan oknum pemesan tidak terkait dengan tim penagihan Indodana.
“Dari kejadian ini, dengan tegas kami sampaikan bahwa nomor dan kontak oknum tersebut bukan dari bagian Tim Collection Indodana Fintech dan tidak ada keterkaitan dalam hal apapun dengan Indodana Fintech,” kata Indodana.
Indodana juga menegaskan perusahaan berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta menyatakan komitmennya menerapkan penagihan sesuai standar operasional prosedur (SOP) dan kode etik yang dijalankan tim collection di lapangan.
Sebelumnya, sejumlah ambulans di Semarang dilaporkan menerima orderan fiktif yang diduga dilakukan oknum penagih utang dari perusahaan pinjaman online. Dalam salah satu kejadian, petugas ambulans yang menghubungi pemesan justru diminta menyampaikan tagihan utang kepada warga yang didatangi.
Admin Ambulans Antasena, Aldy, menjelaskan pihaknya menerima pesanan pada Selasa (3/2/2026) siang atas nama Adi Prasetya. Pesanan itu disebut untuk mengantar pasien kontrol dari Jalan Puspowarno, Semarang Barat, menuju Rumah Sakit Columbia Asia, lengkap dengan alamat, identitas pasien, dan lokasi rumah melalui fitur berbagi lokasi.
“Sesuai prosedur operasional standar, kami berangkat ke alamat yang diberikan. Namun setelah sampai, rumah dalam keadaan kosong,” ujar Aldy, Rabu (4/2/2026).
Di lokasi, Aldy mendapati dua ambulans lain serta satu mobil pikap dari perusahaan layanan pengiriman yang ternyata menerima pesanan serupa. Tak lama kemudian, seorang perempuan datang dan mengaku sebagai orang yang identitasnya dicantumkan sebagai pasien. Perempuan itu menyatakan tidak pernah memesan ambulans dan mengaku sehat.
“Perempuan itu bilang tidak pernah memesan ambulans dan mengaku dalam keadaan sehat. Dia menyebut kejadian ini sebagai penipuan,” kata Aldy.
Aldy kemudian menghubungi pemesan untuk meminta klarifikasi. Namun, pemesan justru meminta agar perempuan tersebut melunasi utang Rp14 juta. “Saya malah disuruh menyampaikan agar utangnya dibayar. Setelah itu nomor saya diblokir,” ujarnya.
Menurut Aldy, pengemudi ambulans lain mengalami perlakuan serupa saat menghubungi pemesan. Pemesan juga mengaku berasal dari salah satu perusahaan fintech bernama Indodana.
Aldy menyebut pihaknya dirugikan akibat kejadian tersebut karena kehilangan waktu, bahan bakar, dan tenaga tanpa penggantian. Ia juga menyayangkan penyalahgunaan layanan ambulans untuk penagihan utang dan meminta agar kejadian serupa tidak terulang.

