Total nilai impor dan ekspor Vietnam pada paruh pertama Januari 2026 (1–15 Januari) mencapai US$39,25 miliar, berdasarkan data terbaru Departemen Bea Cukai. Dari jumlah tersebut, ekspor tercatat sekitar US$19,8 miliar dan impor sekitar US$19,45 miliar, sehingga neraca perdagangan masih membukukan surplus tipis sejak awal tahun.
Capaian awal ini dinilai mencerminkan pemulihan aktivitas ekonomi serta kemampuan adaptasi pelaku usaha di tengah ketidakpastian geopolitik global. Sejumlah kelompok barang utama—seperti elektronik, komputer, tekstil, dan alas kaki—masih menjadi pendorong utama kinerja ekspor.
Pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas (FTA) generasi baru, termasuk CPTPP, EVFTA, dan RCEP, disebut membantu produk Vietnam menembus pasar dengan tarif preferensial. Pasar tradisional seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Eropa, dan ASEAN juga dilaporkan mempertahankan pertumbuhan dua digit, seiring pemulihan bertahap permintaan konsumen global setelah periode penghematan.
Wakil Presiden Asosiasi Kulit dan Alas Kaki Vietnam (LEFASO) Phan Thi Thanh Xuan mengatakan pelaku usaha di sektor tersebut telah mengamankan pesanan hingga akhir kuartal II 2026. Ia menilai pemulihan daya beli dari AS dan Eropa, ditambah pergeseran pesanan dari negara-negara tetangga, memberi keuntungan bagi Vietnam.
Namun, Xuan juga mengingatkan adanya tantangan dari hambatan teknis dan regulasi lingkungan Uni Eropa yang kian ketat, terutama Peraturan Anti-Deforestasi Uni Eropa (EUDR) dan Mekanisme Penyesuaian Batas Karbon (CBAM). Menurutnya, kondisi ini menuntut perusahaan mempercepat transisi ke praktik yang lebih ramah lingkungan untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
Kinerja perdagangan pada 2026 dibangun dari fondasi tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, total nilai impor dan ekspor Vietnam diperkirakan mencapai sekitar US$800 miliar, naik lebih dari 10% dibanding 2024. Kelompok industri pengolahan dan manufaktur disebut menyumbang lebih dari 85% dari total omzet ekspor, mempertegas peran Vietnam dalam rantai pasok global.
Dari sektor tekstil dan garmen, Nguyen Van Cong, direktur sebuah perusahaan di Bac Thang Long, menyampaikan lini produksi perusahaannya telah beroperasi pada kapasitas 100% sejak awal Januari. Ia menambahkan, pesanan pada 2026 tidak hanya meningkat dari sisi jumlah, tetapi juga menuntut standar keberlanjutan yang lebih tinggi. Menurutnya, langkah pengadaan bahan daur ulang sejak 2025 membantu perusahaan memperoleh kontrak bernilai tinggi dari mitra Nordik saat liburan baru-baru ini.
Sinyal positif juga muncul dari sektor pertanian. Le Minh Nam, perwakilan bisnis ekspor pertanian di Can Tho, mengatakan pada Januari ini volume ekspor beras dan buah-buahan ke pasar Tiongkok dan Timur Tengah meningkat sekitar 20% dibanding periode yang sama tahun lalu. Ia menyebut penandatanganan protokol ekspor resmi yang lebih stabil ikut mengurangi kekhawatiran terhadap kemacetan di perbatasan. Nam menambahkan, target bisnisnya tahun ini adalah meningkatkan porsi produk pertanian olahan guna menambah nilai, tidak hanya mengandalkan ekspor bahan mentah.
Perwakilan Departemen Impor-Ekspor di Kementerian Perindustrian dan Perdagangan menilai salah satu sorotan 2025 adalah pemanfaatan FTA untuk memperluas pasar. Ekspor ke kawasan yang memiliki perjanjian—seperti Uni Eropa, Inggris, dan negara-negara CPTPP—dilaporkan mencatat pertumbuhan dua digit. Neraca perdagangan 2025 juga diperkirakan mempertahankan surplus untuk tahun ke-10 berturut-turut, dengan estimasi surplus lebih dari US$28 miliar, yang dinilai membantu menstabilkan nilai tukar dan cadangan devisa sekaligus membangun momentum memasuki 2026.
Untuk mengejar target nilai impor-ekspor US$1 triliun pada akhir 2026, pemerintah dan kementerian terkait menempatkan peningkatan kapasitas logistik serta infrastruktur pelabuhan sebagai prioritas. Sejumlah proyek disebut sedang dipercepat, termasuk mega-pelabuhan Can Gio dan perluasan pelabuhan di Lach Huyen. Upaya menurunkan biaya logistik dari tingkat saat ini menjadi di bawah 15% dari PDB dipandang dapat meningkatkan daya saing harga barang Vietnam, terutama di tengah volatilitas tarif angkutan laut akibat ketegangan di jalur pelayaran penting.
Saigon Newport Corporation menyatakan arus barang melalui pelabuhan pada minggu-minggu pertama tahun ini meningkat tajam, sehingga mendorong penguatan solusi teknologi serta percepatan penerapan konsep “pelabuhan hijau” dan “pelabuhan pintar” untuk mencegah kemacetan. Sementara itu, Asosiasi Bisnis Logistik Vietnam (VLA) menilai koordinasi antara transportasi darat, perairan, dan udara terus disempurnakan guna membentuk rantai pasok yang lebih terpadu.
Ekonom Tran Du Lich mengapresiasi capaian awal tahun, namun menekankan bahwa target US$1 triliun memerlukan lebih dari sekadar pertumbuhan kuantitas. Ia menilai peningkatan ekspor resmi dan penguatan merek nasional penting agar nilai tambah dari perdagangan tetap lebih banyak dinikmati masyarakat dan pelaku usaha Vietnam. Ia juga menyarankan pemerintah melanjutkan reformasi prosedur administrasi serta mendorong transformasi digital di bidang kepabeanan dan inspeksi khusus untuk mengurangi beban dan membebaskan sumber daya bagi bisnis.
Pada awal 2026, aktivitas di gerbang perbatasan dan pelabuhan dilaporkan berlangsung padat. Di Gerbang Perbatasan Internasional Huu Nghi serta pelabuhan di Hai Phong dan Kota Ho Chi Minh, antrean truk pengangkut barang terlihat sejak pagi hari. Kombinasi kebijakan makroekonomi dan dinamika dunia usaha menjadi faktor yang membentuk optimisme terhadap peluang pencapaian target perdagangan Vietnam pada 2026.

