Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (21/1/2026). Tekanan datang dari kombinasi sentimen global yang memburuk, mulai dari isu geopolitik dan rencana tarif baru Amerika Serikat terhadap sejumlah negara Eropa, hingga gejolak di pasar obligasi Jepang.
IHSG ditutup turun 1,36% atau 124,37 poin ke level 9.010,33. Penurunan ini terjadi seiring melemahnya saham-saham bluechip dan emiten konglomerasi yang bergerak kompak di zona merah.
Tekanan jual terlihat dari koreksi harga yang dalam serta nilai transaksi yang besar pada sejumlah saham. Hingga akhir perdagangan, terdapat lima saham yang mencatat penurunan signifikan dengan nilai transaksi tinggi.
Bumi Resources (BUMI) membukukan nilai transaksi terbesar mencapai Rp 7,3 triliun, dengan harga saham turun 6,76% ke level 386. Bank Central Asia (BBCA) juga mengalami aksi jual dengan nilai transaksi Rp 4,71 triliun, dan sahamnya turun 3,75% ke level 7.700. Pada sesi pertama perdagangan, BBCA turut mencatat aksi jual asing sebesar Rp 751,1 miliar.
Tekanan juga terjadi pada Astra International (ASII) dan United Tractor (UNTR). ASII turun 9,28% dengan nilai transaksi Rp 3,55 triliun, sementara UNTR merosot 14,93% dan ditransaksikan sebesar Rp 2,54 triliun.
Pelemahan UNTR disebut sejalan dengan keputusan pemerintah mencabut sejumlah izin usaha kehutanan dan pertambangan imbas banjir Sumatra, termasuk produsen tambang emas Agincourt yang dimiliki UNTR.
Saham lain yang mencatat nilai transaksi besar adalah Bumi Resources Minerals (BRMS) dengan transaksi Rp 3,15 triliun. Saham emiten grup Bakrie ini turun 3,44% ke level 1.265.
Seiring koreksi IHSG, arus dana asing tercatat keluar dari pasar modal Indonesia pada sesi pertama. Investor asing membukukan nilai jual Rp 5,1 triliun dan beli Rp 4,1 triliun, sehingga net foreign sell mencapai Rp 1 triliun.
Dari sisi global, pasar menyoroti meningkatnya tensi geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif impor baru terhadap sejumlah negara Eropa, termasuk Denmark, Norwegia, Jerman, Inggris, Prancis, Belanda, Swedia, dan Finlandia. Tarif 10% direncanakan mulai berlaku pada Februari 2026 dan berpotensi naik menjadi 25% pada Juni 2026 apabila negara-negara tersebut tetap menentang rencana AS terkait isu Greenland.
Trump juga mengancam tarif 200% terhadap anggur dan sampanye Prancis setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak bergabung dengan “Dewan Perdamaian” yang dibentuk Trump.
Pelaku pasar turut mencermati agenda World Economic Forum (WEF) yang digelar pada 19–23 Januari 2026 di Davos, Swiss, terutama terkait arah kebijakan ekonomi serta dinamika geopolitik global. Isu Greenland juga disebut masih menjadi sumber ketidakpastian dalam hubungan AS dan Uni Eropa.
Selain itu, pasar obligasi Jepang menjadi perhatian setelah kenaikan yield yang tajam pada tenor jangka panjang. Pada Selasa malam, yield obligasi Jepang tenor 40 tahun naik 22 basis poin ke 4,22%. Sementara yield tenor 10 tahun melonjak menembus 2,3%, level tertinggi selama hampir tiga dekade. Kenaikan yield ini dinilai mendorong kehati-hatian investor global karena berpotensi memperketat kondisi keuangan lintas negara.
Kombinasi tekanan dari AS, Uni Eropa, dan Jepang mendorong pergeseran minat ke aset safe haven seperti emas. Harga emas dunia disebut kembali mencetak rekor menembus US$ 4.800 per troy ons, sementara saham-saham emas di Indonesia dimanfaatkan sebagian pelaku pasar untuk strategi sell on strength.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai pelemahan IHSG dipicu kombinasi sentimen geopolitik global dan isu domestik yang terkait saham-saham big caps berbasis sumber daya alam. Menurutnya, ketidakpastian membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti emas dan dolar AS, yang kemudian memicu capital outflow.
“Dampaknya lebih ke psikologis dan arus modal. Ketegangan global buat investor tarik dana dari emerging market balik ke AS, yang berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah,” ujar Wafi, Rabu (21/1/2026).
Meski demikian, Wafi menilai dalam jangka pendek IHSG berpotensi menguji level support psikologis 9.000. Dari sisi fundamental, ia menilai IHSG masih relatif resilien karena ditopang fundamental ekonomi yang solid serta dominasi investor domestik dalam transaksi harian.
Sementara itu, Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebut koreksi IHSG sejalan dengan proyeksi teknikal dan mengikuti pelemahan bursa global serta regional Asia yang tertekan akibat meningkatnya tensi geopolitik. Ia juga menyoroti koreksi IHSG dibebani oleh sektor industri, properti, dan infrastruktur.
Dari sisi teknikal, Senior Market Chartist M. Nafan Aji Gusta menyampaikan indikator Stochastics masih menunjukkan sinyal positif. Ia menempatkan level support IHSG di kisaran 9.003 dan 8.970, dengan resistance di area 9.147 dan 9.181.
Namun, Nafan mengingatkan potensi ruang kenaikan yang terbatas karena terbentuknya pola doji star candle dan RSI yang sudah berada di zona overbought, sehingga pasar perlu mewaspadai peluang aksi ambil untung.

