Pasar modal Indonesia menjadi sorotan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan dalam dua hari perdagangan, 28–29 Januari 2026. Pada Rabu (28/01) pagi, IHSG sempat dibuka melemah lebih dari 6 persen ke level 8.393, disertai lonjakan aktivitas transaksi yang tinggi.
Salah satu pemicu utama gejolak tersebut adalah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara evaluasi reguler terhadap indeks saham Indonesia. MSCI menilai masih terdapat sejumlah persoalan struktural, mulai dari konsentrasi kepemilikan saham, rendahnya free float, hingga kualitas dan transparansi data investor.
Keputusan MSCI itu memunculkan beragam reaksi di pasar. Di satu sisi, kabar tersebut memicu kekhawatiran dan memperburuk sentimen. Namun di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan investor untuk tidak panik dan melihat koreksi sebagai bagian dari penyesuaian pasar terhadap informasi baru, sekaligus momentum untuk mendorong perbaikan.
Di tengah volatilitas tersebut, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana gejolak di pasar saham mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi Indonesia. Alternatifnya, tekanan IHSG dinilai bisa lebih bersifat teknis dan dipengaruhi faktor psikologis pasar, sementara fondasi ekonomi nasional disebut masih relatif kuat di tengah ketidakpastian global.
Untuk membahas isu ini, Radio Idola Semarang menghadirkan Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto dan Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti, masing-masing dari perspektif pasar modal dan ekonomi makro nasional.

