BERITA TERKINI
IHSG Tertekan, Dana BPJS Ketenagakerjaan Dinilai Berpotensi Jadi Penopang Pasar

IHSG Tertekan, Dana BPJS Ketenagakerjaan Dinilai Berpotensi Jadi Penopang Pasar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan. Pada penutupan perdagangan Kamis (26/2/2026), IHSG melemah 1,04% ke level 8.235. Kondisi ini memunculkan harapan agar penyedia likuiditas dari dalam negeri dapat menjadi penyangga pergerakan pasar, salah satunya BPJS Ketenagakerjaan (BPJS-TK).

Pasar mulai dibayangi risiko arus dana keluar seiring mendekatnya jadwal rebalancing MSCI. Secara historis, periode ini kerap memicu volatilitas, terutama ketika perubahan komposisi indeks lebih banyak diisi saham yang keluar dibanding yang masuk.

Di sisi lain, sentimen global juga dinilai belum sepenuhnya mendukung. Ketidakpastian arah kebijakan Amerika Serikat, termasuk dinamika politik serta pernyataan yang sulit diprediksi dari Donald Trump, turut menambah ketidakjelasan arah pasar.

Dalam situasi tersebut, peran investor institusi domestik dipandang semakin penting. BPJS-TK, sebagai salah satu dana besar lokal, disebut berpotensi menjadi penopang tambahan bagi pasar saham. Saat ini, alokasi saham BPJS-TK berada di kisaran 11%–12% dari total aset kelolaan.

Terdapat wacana peningkatan batas investasi saham hingga 20% sebagaimana disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. Bahkan, dalam skenario yang lebih agresif, alokasi saham disebut bisa mencapai 25% dalam tiga tahun ke depan.

Berdasarkan perhitungan CGSI Research dengan asumsi pertumbuhan aset kelolaan (AUM) sekitar 8% per tahun, total aset BPJS-TK berpotensi mencapai Rp1.314 triliun pada 2028. Jika alokasi saham meningkat menjadi 20%, estimasi kepemilikan ekuitas dapat bertambah menjadi sekitar Rp263 triliun. Sementara pada skenario alokasi 25%, nilai kepemilikan ekuitas berpotensi mencapai Rp329 triliun.

Perhitungan tersebut mengindikasikan adanya ruang tambahan pembelian saham yang besar. Dalam skenario konservatif, potensi pembelian tambahan diperkirakan sekitar Rp40 triliun dalam beberapa tahun ke depan. Adapun dalam skenario bullish, tambahan pembelian disebut dapat mencapai Rp57 triliun pada 2026.

Jika dirata-rata, kapasitas beli BPJS-TK di kisaran Rp40–70 triliun per tahun dinilai setara atau bahkan lebih besar dibandingkan rata-rata outflow asing tahunan pada beberapa periode tekanan pasar sebelumnya. Dengan demikian, di tengah risiko outflow akibat rebalancing MSCI dan tekanan makro global, BPJS-TK dipandang berpotensi menjadi penyangga penting bagi pasar saham domestik.

Meski demikian, dana institusi lokal berskala besar ini disebut tidak sepenuhnya menggantikan peran arus dana asing. Namun, keberadaannya dinilai dapat membantu meredam volatilitas dan menjaga stabilitas IHSG dalam jangka menengah.