BERITA TERKINI
IHSG Ditutup Turun 1,04% ke 8.235, Pasar Bersikap Hati-hati Jelang Rilis Data Domestik

IHSG Ditutup Turun 1,04% ke 8.235, Pasar Bersikap Hati-hati Jelang Rilis Data Domestik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah ke level 8.235 pada perdagangan Kamis (26/2/2026). Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG turun 1,04 persen atau 86,96 poin.

Pergerakan saham didominasi tekanan jual. Tercatat 568 saham melemah, 105 saham stagnan, dan 146 saham menguat. Dari sisi sektoral, penurunan terdalam terjadi pada sektor transportasi dan logistik yang turun hingga 4,54 persen.

Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG dipengaruhi sentimen kehati-hatian pelaku pasar menjelang rilis sejumlah data domestik penting pekan depan. Data yang dinantikan antara lain inflasi Februari dan neraca perdagangan Januari yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Selain itu, Tim Pilarmas juga mencermati kondisi ketenagakerjaan setelah adanya laporan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sektor manufaktur utama di Jawa Timur. Mereka menilai situasi tersebut memprihatinkan karena terjadi menjelang Hari Lebaran.

Dari aktivitas perdagangan, volume transaksi saham di BEI tercatat 56,52 miliar lembar dengan frekuensi 3,14 juta kali. Nilai transaksi mencapai Rp28,14 triliun, sementara kapitalisasi pasar berubah menjadi Rp14.773 triliun.

Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga bergerak melemah. Sejumlah saham yang disebut mendominasi penurunan antara lain NCKL, EXCL, MDKA, SMGR, dan BUMI.

Di kawasan Asia, Tim Pilarmas mencatat bursa bergerak bervariasi (mixed). Pasar disebut bereaksi negatif terhadap laporan bahwa pemerintahan Trump berencana menggunakan program kecerdasan buatan yang dikembangkan Pentagon untuk menetapkan harga acuan mineral kritis.

Sementara itu, dari Jepang, sinyal perubahan kebijakan moneter menguat. Anggota Dewan Bank of Japan, Hajime Takata, dalam pidato pada Rabu sebelumnya, menyatakan kebijakan moneter Jepang semakin mendekati fase keluar dari pelonggaran berskala besar yang telah berlangsung bertahun-tahun. Ia menyebut momen tersebut sebagai “fajar yang sesungguhnya” ketika bank sentral secara bertahap mengubah arah kebijakannya.

Menurut Tim Pilarmas, Takata juga menekankan bahwa kelancaran proses keluar dari kebijakan pelonggaran akan menentukan bagaimana era kebijakan tersebut pada akhirnya dinilai. Perkembangan bursa global dinilai turut memengaruhi sentimen pasar di dalam negeri.