JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia dibuka melemah pada awal perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, di tengah tekanan jual yang masih mendominasi pasar saham domestik. Pada sesi pembukaan, IHSG turun 23,95 poin atau 0,29 persen ke posisi 8.211,31. Sementara itu, indeks LQ45 terkoreksi 2,99 poin atau 0,36 persen ke level 834,90.
Tekanan berlanjut beberapa menit setelah perdagangan dimulai. Pada pukul 09.10 WIB, IHSG tercatat melemah 104,83 poin atau sekitar 1,27 persen ke level 8.130. Pergerakan ini menunjukkan penurunan yang lebih dalam dibanding posisi penutupan Kamis dan membuat indeks kembali menjauh dari area resistance jangka pendek.
Aktivitas transaksi pada awal sesi terpantau tinggi. Volume perdagangan tercatat sekitar 5,9 miliar saham dengan nilai transaksi kurang lebih Rp2,1 triliun. Frekuensi perdagangan mendekati 290 ribu kali transaksi. Mayoritas saham yang diperdagangkan berada di zona merah, mencerminkan dominasi aksi jual dibandingkan jumlah saham yang menguat.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama pergerakan indeks. Saham sektor energi dan petrokimia terkoreksi cukup dalam dan memberi kontribusi signifikan terhadap penurunan IHSG. Pelemahan juga terjadi pada saham perbankan papan atas, yang turut menambah tekanan mengingat bobot kapitalisasinya yang besar.
Secara sektoral, pelemahan terlihat pada sektor teknologi, energi, infrastruktur, dan keuangan. Investor disebut cenderung melakukan aksi ambil untung setelah indeks bergerak di area tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Sentimen global turut membebani pasar, terutama pelemahan bursa saham Amerika Serikat dan Asia yang memberi tekanan psikologis terhadap pelaku pasar domestik.
Dari sisi teknikal, IHSG sedang menguji area support terdekat di kisaran 8.100–8.120. Jika tekanan jual berlanjut dan indeks menembus level tersebut, terdapat potensi pelemahan lanjutan menuju area 8.050 hingga 8.000 sebagai support berikutnya. Namun, apabila IHSG mampu bertahan dan kembali ke atas 8.200, peluang rebound teknikal dinilai masih terbuka, terutama jika terjadi akumulasi beli pada saham-saham unggulan yang telah terkoreksi.
Analis menilai volatilitas masih berpotensi mewarnai perdagangan sepanjang hari. Dengan penurunan lebih dari 100 poin pada awal sesi, pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan saham berkapitalisasi besar karena kontribusinya yang dominan terhadap arah IHSG. Sentimen eksternal serta dinamika harga komoditas global juga dipandang tetap menjadi faktor penting dalam jangka pendek.
Dengan dominasi saham yang melemah dan tekanan jual yang masih terasa di awal perdagangan, IHSG diperkirakan bergerak fluktuatif dalam rentang 8.050–8.200 sambil menunggu sentimen baru yang dapat mengubah arah pasar.

