Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high). Namun, penguatan pasar saham itu belum sejalan dengan pergerakan nilai tukar rupiah yang masih berada di bawah tekanan.
Perbedaan arah antara IHSG dan rupiah mencerminkan respons yang tidak sama dari pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi domestik maupun global. Senior Macro Strategist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut adalah ekspektasi investor, terutama investor asing, terhadap posisi fiskal dan dinamika pasar keuangan Indonesia.
Fithra menyebut kekhawatiran investor asing terkait defisit anggaran menjadi salah satu pemicu tekanan di pasar obligasi, yang kemudian berdampak pada rupiah. Ia menyinggung defisit sebesar 2,92% yang dinilai ikut menambah tekanan di pasar surat utang. Meski defisit anggaran masih dijaga di bawah ambang batas 3%, kekhawatiran investor global dinilai tetap muncul dan tercermin dalam pergerakan pasar obligasi.
Di sisi lain, penguatan IHSG dipandang lebih banyak ditopang prospek kinerja emiten dan potensi imbal hasil ekuitas (return on equity) yang masih menarik. Menurut Fithra, investor saham melihat peluang pertumbuhan laba perusahaan sejalan dengan upaya pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi.
Selain faktor fundamental emiten, arus dana asing ke pasar saham juga disebut dipengaruhi ekspektasi terkait indeks global, terutama momentum MSCI rebalancing. Fithra menilai mekanisme rebalancing indeks global dapat menjadi pendorong aliran dana ke pasar saham, meski tekanan masih terjadi di pasar obligasi dan nilai tukar.
Ia menjelaskan, masuknya saham-saham Indonesia ke dalam indeks MSCI berpotensi mendatangkan arus dana asing dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Dalam satu hari perdagangan, arus masuk dana asing disebut dapat mencapai sekitar US$2 miliar.
Fithra menambahkan, aliran dana tersebut berpotensi membantu menstabilkan rupiah dengan biaya yang relatif lebih rendah dibandingkan intervensi moneter konvensional, seperti penggunaan cadangan devisa dalam jumlah besar.
Namun, ia mengingatkan peluang itu perlu ditopang kebijakan regulator pasar modal. Menurutnya, stabilitas perdagangan saham selama periode peninjauan indeks global penting dijaga agar peluang masuknya dana asing tidak terganggu. Ia menyoroti perlunya fasilitasi yang memadai selama masa review, mengingat transaksi investor asing banyak dijalankan melalui algoritma.
Selain MSCI, indeks global lain seperti FTSE juga dinilai menawarkan peluang serupa melalui mekanisme rebalancing. Fithra menyebut terdapat beberapa jendela rebalancing setiap tahun yang dapat dimanfaatkan untuk menarik arus modal asing dan membantu memoderasi volatilitas rupiah.
Di tengah tekanan eksternal, pemerintah disebut berupaya menjaga kredibilitas fiskal dengan mempertahankan defisit anggaran di bawah 3%. Fithra menyatakan komitmen tersebut juga disampaikan kepada investor obligasi asing dalam pertemuan dengan pelaku pasar global.
Menurutnya, menjaga kepercayaan investor tidak hanya bergantung pada disiplin fiskal, tetapi juga pada kemampuan mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan dinilai menjadi fondasi bagi kinerja emiten dan stabilitas pasar keuangan secara keseluruhan.
Fithra menegaskan bahwa stabilitas pasar keuangan berkaitan erat dengan kualitas pertumbuhan ekonomi. Ia menilai pertumbuhan yang inklusif penting agar penguatan pasar saham tidak hanya dinikmati investor, tetapi juga memberi dampak lebih luas terhadap kesejahteraan masyarakat.

