Hasbi Sen, M.Hum, perwakilan The Istanbul Foundation for Science and Culture di Indonesia sekaligus Pembina Yayasan Nur Semesta, menjadi narasumber utama dalam stadium generale bertajuk “The Intellectual Trajectory and Influence of Said Nursi’s Ideas in the Indonesian Context”. Kegiatan ini digelar di BEC International Class Lantai 1 pada Rabu, 3 November 2025.
Di hadapan sivitas akademika UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember, Hasbi memaparkan khazanah intelektual Badiuzzaman Said Nursi. Paparan mencakup biografi Nursi, konteks sosio-historis dari masa Turki Utsmani hingga Republik Turki, serta perkembangan karya dan jejaring pemikirannya yang lintas negara, termasuk di Indonesia.
Hasbi membuka pemaparannya dengan menegaskan etos menuntut ilmu sebagai kerja intelektual yang aktif dan berkelanjutan. Ia kemudian menelusuri masa kecil Said Nursi di wilayah Turki Timur, latar keluarga sederhana, serta kecerdasan dan daya hafalannya yang disebut menonjol sejak usia dini. Pendidikan Nursi di madrasah-madrasah tradisional, menurut Hasbi, mengantarkannya menguasai tafsir, hadits, kalam, sekaligus ilmu-ilmu sains.
Menurut Hasbi, ciri khas pemikiran Said Nursi terletak pada sintesis ilmu agama dan sains. “Bagi Nursi, matematika, fisika, dan astronomi adalah jalan pengetahuan menuju ma’rifatullah,” ujarnya. Dari gagasan tersebut lahir ide Madrasah Az-Zahra, lembaga ideal yang memadukan ilmu agama dan sains, meski proyek itu disebut terhambat perang dunia dan turbulensi politik.
Hasbi juga mengulas sejumlah fase penting dalam kehidupan Nursi, mulai dari keterlibatannya dalam pergolakan politik akhir Utsmani, pengalaman perang dan penjara, hingga masa pengasingan di Barla. Dalam keterbatasan pada masa itu, kata Hasbi, Nursi tetap produktif menulis. Karya-karya monumental seperti Risalah Nur disalin dengan tangan dan disebarkan secara senyap, yang dinilai menjadi bukti ketahanan tradisi intelektual di bawah tekanan negara.
Hasbi menyebut karya-karya Said Nursi yang kini diterjemahkan ke puluhan bahasa menemukan resonansi luas di Indonesia. Sejak awal 2000-an, diskursus akademik tentang Said Nursi disebut berkembang melalui simposium, skripsi, tesis, disertasi, hingga penerbitan buku. Ia juga mencatat telah berdiri belasan Said Nursi Corner di berbagai kampus, termasuk di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN).
Penyebaran gagasan Said Nursi, menurut Hasbi, tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ia menyampaikan bahwa Yayasan Nur Semesta mengelola program pesantren mahasiswa, penerjemahan buku, kajian publik, seminar internasional, serta pemanfaatan media digital. “Pemikiran Said Nursi tidak hanya hidup di forum akademik, tapi juga di tengah masyarakat,” katanya.
Menutup pemaparannya, Hasbi menekankan relevansi pemikiran Said Nursi bagi tantangan kontemporer, antara lain penguatan iman, moderasi beragama, dan etika sosial di tengah modernitas. Diskusi tersebut menegaskan bahwa gagasan lintas zaman dapat terus bertransformasi dan menemukan ruang baru di lingkungan akademik Indonesia.

