BERITA TERKINI
Harga Nikel Turun Sepanjang 2025, Ifishdeco Siapkan Optimalisasi Tambang dan Diversifikasi Usaha

Harga Nikel Turun Sepanjang 2025, Ifishdeco Siapkan Optimalisasi Tambang dan Diversifikasi Usaha

Penurunan harga nikel global sepanjang 2025 masih menjadi tantangan bagi kinerja PT Ifishdeco Tbk (IFSH). Rata-rata Harga Mineral Acuan (HMA) nikel sepanjang 2025 tercatat sebesar 15.177 dolar AS per metrik ton, turun dari rata-rata 2024 yang berada di level 16.918 dolar AS per metrik ton.

Tekanan harga tersebut tercermin dalam laporan keuangan konsolidasian perseroan. Hingga sembilan bulan 2025, penjualan bersih IFSH tercatat Rp668,8 miliar, turun 6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp709,3 miliar. Laba usaha tercatat Rp56,0 miliar, terkoreksi 45%, sementara laba periode berjalan mencapai Rp37,6 miliar atau turun 37% secara tahunan.

Direktur Keuangan IFSH Iwan Luison menyampaikan penurunan kinerja keuangan sejalan dengan kondisi harga komoditas dan dinamika operasional sepanjang tahun. “Penjualan 9 bulan 2025 sebesar Rp668 miliar dan laba periode berjalan Rp37 miliar,” ujar Luis dalam publik ekspose daring pada Kamis, 22 Januari 2026.

Meski laba tertekan, perseroan menyatakan struktur keuangannya relatif stabil. Total aset per 30 September 2025 tercatat Rp1,00 triliun, dengan total liabilitas sebesar Rp158,5 miliar yang disebut membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Ekuitas perseroan tercatat Rp843,7 miliar.

Dari sisi operasional, IFSH mengelola tambang nikel di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, serta di Tinanggea dan Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. Wilayah tersebut menjadi basis utama produksi nikel perseroan, di tengah kebutuhan nikel domestik yang diperkirakan mencapai 220 juta metric ton pada 2025.

Memasuki 2026, perseroan menyiapkan sejumlah langkah strategis. Pertama, optimalisasi pemanfaatan izin usaha pertambangan melalui penerapan Good Mining Practice. Kedua, pengembangan lini usaha baru di luar tambang, salah satunya rencana penanaman kelapa di atas lahan HGU yang telah memiliki perizinan dan Nomor Induk Berusaha sejak 2025.

Selain itu, IFSH juga melakukan penjajakan akuisisi tambang baru yang sejalan dengan rencana kerja perusahaan. Penjajakan tersebut telah dimulai sejak 2025 dan ditargetkan memasuki tahap realisasi pada 2026, dengan tetap memperhatikan kondisi pasar dan peraturan yang berlaku.

Manajemen menilai strategi efisiensi, diversifikasi usaha, dan ekspansi terukur menjadi kunci untuk menjaga kinerja di tengah fluktuasi siklus harga komoditas. Per 13 Januari 2026, kapitalisasi pasar perseroan disebut sekitar Rp4,46 triliun.

Adapun saham IFSH saat ini dalam status suspensi. Dalam tiga bulan terakhir, harga saham tercatat naik 170,97% dari 775 menjadi 2.100.