Gejolak geopolitik dan ekonomi yang dipicu konflik Iran serta dampaknya terhadap industri energi global kembali memunculkan pertanyaan tentang konsep aset safe haven. Selama ini, emas, obligasi pemerintah AS, dolar AS, dan sejumlah mata uang kuat kerap menjadi tujuan investor saat ketidakpastian meningkat. Namun, pergerakan pasar terbaru menunjukkan pola yang berbeda.
Fenomena melemahnya aset yang selama ini dianggap aman sebenarnya bukan hal sepenuhnya baru. Empat tahun lalu, saat konflik Rusia–Ukraina, obligasi pemerintah AS sempat mencatat kinerja buruk. Meski demikian, pembalikan harga emas pada krisis kali ini dinilai menonjol. Sejak konflik di Iran dimulai pada 28 Februari, harga emas justru turun tajam, berlawanan dengan peran tradisionalnya sebagai pelindung nilai pada masa krisis.
Dalam kondisi ekonomi, keuangan, dan geopolitik yang bergejolak, emas biasanya dipandang sebagai aset non-keuangan utama untuk mempertahankan nilai, terutama ketika inflasi meningkat. Namun kali ini, emas termasuk di antara aset dengan kinerja terlemah. Kinerjanya bahkan tertinggal dibanding obligasi berimbal hasil tinggi, saham pasar negara berkembang, hingga saham pasar negara perbatasan. Hampir satu-satunya aset yang lebih buruk dari emas adalah perak, yang sebelumnya sempat naik tajam karena faktor spekulatif.
Data pasar di Amerika Serikat menunjukkan harga emas turun hingga 17% sepanjang Maret 2026, mengarah pada penurunan bulanan terdalam sejak Februari 1983. Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan serangkaian guncangan makroekonomi, termasuk eskalasi konflik Timur Tengah yang disebut sebagai yang paling serius dalam beberapa dekade, tekanan terhadap sektor energi, meningkatnya tekanan inflasi, serta berkurangnya sekitar US$6 triliun kapitalisasi pasar dari pasar saham global.
Salah satu penjelasan yang mengemuka adalah bahwa harga emas telah menjauh dari faktor fundamental sejak pertengahan tahun lalu. Permintaan beli dari bank sentral melemah, sementara dorongan dari investor individu, dana pengikut tren, dan sistem perdagangan otomatis mendorong harga naik. Pada puncaknya, emas mencapai US$5.595 per ons pada Januari 2026, level yang dinilai lebih mencerminkan dorongan “takut ketinggalan” (fear of missing out/FOMO) ketimbang nilai intrinsik.
Ketika sentimen pasar berbalik, aksi jual terjadi cepat dan besar, menekan harga meski permintaan terhadap aset berkualitas biasanya meningkat saat krisis. Kondisi ini memperlihatkan bahwa peran emas sebagai aset aman tidak selalu mutlak, terutama ketika unsur spekulatif sangat dominan.
Tekanan juga terlihat pada aset safe haven tradisional lainnya. Dolar AS memang menguat, tetapi kenaikannya kurang dari 2%, dinilai moderat mengingat tingginya volatilitas. Salah satu faktor yang disebut memengaruhi adalah kemungkinan bank sentral utama di luar AS perlu memperketat kebijakan lebih agresif, sehingga selisih suku bunga dengan AS tidak lagi cukup kuat untuk menopang dolar.
Dari sisi permintaan valuta asing, sejumlah bank sentral di Asia dan Timur Tengah menghadapi kebutuhan untuk mengurangi cadangan devisa—termasuk kepemilikan dolar AS—guna menutup kenaikan biaya impor energi, menstabilkan nilai tukar, dan mengendalikan inflasi domestik. Perkembangan ini bukan hanya memberi tekanan pada dolar, tetapi juga berdampak pada pasar obligasi AS.
Data menunjukkan kepemilikan obligasi pemerintah AS oleh bank sentral global yang tersimpan di Federal Reserve Bank of New York berkurang sekitar US$75 miliar dalam empat minggu terakhir. Analis memperkirakan sektor resmi asing melakukan penjualan bersih sekitar US$60 miliar, yang disebut sebagai jumlah terbesar sejak pandemi COVID-19 dan tertinggi kedua dalam sejarah.
Di sisi lain, mata uang safe haven lain juga memiliki keterbatasan. Franc Swiss disebut berada di bawah tekanan karena potensi intervensi bank sentral jika penguatannya terlalu cepat. Yen Jepang, meski kerap dipandang sebagai aset aman, dinilai kurang menarik karena posisinya yang lama berada pada level rendah.
Rangkaian pergerakan ini mengisyaratkan perubahan struktur aliran modal global. Alih-alih mengandalkan aset safe haven tradisional, investor dinilai semakin perlu menerapkan strategi yang lebih fleksibel sesuai jenis krisis. Dalam konteks tekanan pada sektor energi, saham energi dapat menjadi tujuan aliran dana; sementara dalam situasi konflik militer, saham pertahanan disebut memiliki keunggulan relatif.
Namun, satu tren yang menonjol adalah kembalinya uang tunai sebagai pilihan defensif. Di tengah inflasi dan pasar yang bergejolak, uang tunai yang selama ini kerap dianggap kurang menarik justru dinilai menawarkan keamanan lebih tinggi. Dana pasar uang di AS mencatat arus masuk sekitar US$60 miliar sejak 28 Februari, mendorong total ukurannya ke rekor US$7,86 triliun dan berpotensi melampaui US$8 triliun dalam waktu dekat.