Harga emas Antam mencatat lonjakan tajam sepanjang 2025 hingga awal 2026. Pada akhir Januari 2026, harga emas sempat menembus Rp 3,1 juta per gram, dengan kenaikan tahunan diperkirakan mencapai 50–60 persen.
Meski dalam beberapa pekan terakhir pergerakan harga mulai melemah, kenaikan agresif tersebut dinilai bukan sekadar fluktuasi pasar. Pakar ekonomi Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Nanik Linawati, menilai reli emas mencerminkan meningkatnya kecemasan investor terhadap ketidakpastian ekonomi global.
Nanik menjelaskan, pergerakan harga emas perlu dilihat dalam dua horizon waktu, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, ia menilai koreksi harga merupakan hal wajar. Menurutnya, sebagian investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) seiring inflasi yang mulai terkendali dan sentimen pasar yang membaik.
Namun dalam jangka panjang, Nanik memprediksi tren kenaikan harga emas masih berlanjut. Ia menyebut sejumlah faktor yang berpotensi mendorongnya, antara lain ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, hingga persoalan demografi dunia.
Nanik juga menilai lonjakan harga emas tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi global yang ia sebut sedang berada dalam fase “tidak normal”. Ia menyoroti eskalasi konflik di berbagai kawasan, kebijakan tarif tinggi, serta dinamika politik global—termasuk retorika politik Amerika Serikat—yang membentuk iklim investasi penuh ketidakpastian.
Dalam situasi itu, emas kembali menjadi aset lindung nilai (safe haven) yang banyak dicari. Nanik menyebut emas memiliki karakter langka dan tidak bisa dimanipulasi oleh kebijakan otoritas mana pun. Ia membandingkannya dengan saham atau kripto yang suplai dan nilainya dapat dipengaruhi kebijakan maupun sentimen pasar.
Menurutnya, penambahan emas fisik membutuhkan waktu bertahun-tahun melalui proses eksplorasi dan penambangan. Kelangkaan alami tersebut membuat emas dipandang sebagai tempat berlindung yang relatif aman ketika instrumen investasi lain dinilai kehilangan arah.
Di balik reli panjang itu, Nanik mengingatkan bahwa meroketnya harga emas justru dapat menjadi indikator serius bagi ekonomi global. Ia menilai kenaikan ini bukan lagi didorong permintaan perhiasan, melainkan krisis kepercayaan investor.
Nanik mengatakan, sebagian investor disebut mulai meninggalkan aset produktif seperti saham, kripto, dan deposito untuk menyelamatkan nilai kekayaan mereka. Ia menilai lonjakan yang tidak wajar merupakan sinyal peringatan, bahkan mengindikasikan dunia bergerak menuju ambang resesi.
Selama ketegangan geopolitik dan pergeseran aliansi global terus berlangsung, Nanik menilai harga emas masih berpotensi terus mencari level tertinggi baru sebagai sandaran modal.

