BERITA TERKINI
Harga Bitcoin Menguat, Sentimen Inflasi AS Dorong Minat Aset Berisiko

Harga Bitcoin Menguat, Sentimen Inflasi AS Dorong Minat Aset Berisiko

Harga Bitcoin (BTC) menguat dalam 24 jam terakhir dan kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Aset kripto berkapitalisasi terbesar ini naik sekitar 4,08% dan diperdagangkan di kisaran US$95.215, atau setara Rp1,60 miliar, mencerminkan sensitivitas Bitcoin terhadap dinamika makroekonomi global sekaligus menjadi barometer sentimen investor di pasar kripto.

Secara pergerakan harian, Bitcoin sempat menembus level psikologis US$96.000 untuk pertama kalinya sejak November tahun lalu, dengan puncak harian di area US$96.383. Penguatan tersebut terjadi seiring rilis data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Kondisi ini memicu optimisme bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga pada periode mendatang, sehingga meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Dari sisi struktur pasar, dominasi Bitcoin (BTC.D) tercatat di level 59,25%. Angka ini menunjukkan aliran dana masih lebih terfokus pada Bitcoin dibandingkan altcoin, mengindikasikan sikap investor yang cenderung defensif namun tetap optimistis terhadap aset utama kripto. Dominasi yang relatif tinggi juga mencerminkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas Bitcoin di tengah volatilitas aset digital lainnya.

Sentimen positif turut ditopang arus masuk dana institusional. Produk ETF Bitcoin spot mencatat inflow bersih sebesar US$116,7 juta pada Senin, 12 Januari 2026, sehingga total akumulasi arus masuk mencapai US$56,52 miliar. Aliran dana ini mengindikasikan minat investor institusional yang masih terjaga dan memberi dukungan terhadap pergerakan harga Bitcoin dalam jangka menengah.

Ke depan, pergerakan Bitcoin diperkirakan berada dalam rentang US$94.000 hingga US$97.000. Selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat, peluang konsolidasi atau kelanjutan tren penguatan dinilai masih terbuka. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati perkembangan data ekonomi global dan arah kebijakan moneter karena faktor-faktor tersebut berpotensi memengaruhi volatilitas Bitcoin dalam waktu dekat.