BERITA TERKINI
Guru Matematika di SMPN 17 Padang Terapkan Pembelajaran Mendalam agar Matematika Lebih Bermakna

Guru Matematika di SMPN 17 Padang Terapkan Pembelajaran Mendalam agar Matematika Lebih Bermakna

Nora Okrimita, S.Pd, guru matematika di SMP Negeri 17 Padang, memiliki harapan agar matematika suatu hari menjadi pelajaran yang ditunggu-tunggu murid karena terasa manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Keyakinan itu mendorongnya terus belajar dan memperbarui cara pandang sebagai pendidik.

Saat mengikuti pelatihan Pembelajaran Mendalam, Nora memaknainya bukan sekadar peningkatan kompetensi, melainkan ruang refleksi profesional untuk kembali memahami hakikat belajar dan peran guru dalam menuntun murid menemukan makna dari materi yang dipelajari. “Sebagai guru, saya ingin murid tidak hanya tahu apa yang dipelajari, tetapi juga mengapa dan bagaimana pengetahuan itu relevan dengan kehidupan mereka,” ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, Nora memulai dari pemahaman tentang perbedaan pola pikir tetap (fixed mindset) dan pola pikir bertumbuh (growth mindset). Ia menilai pemahaman ini penting untuk membangun sikap reflektif, keterbukaan terhadap proses belajar, serta kesadaran bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan pengalaman belajar yang bermakna.

Dari sana, ia mendalami cara menumbuhkan kesadaran belajar murid agar terlibat utuh dalam proses pembelajaran. Menurut Nora, murid perlu diberi ruang yang nyaman untuk bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, dan merefleksikan pengalaman belajarnya.

Nora juga mempelajari landasan Pembelajaran Mendalam yang bertumpu pada tiga prinsip utama: berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pembelajaran dipandang sebagai pengalaman belajar yang utuh melalui tahapan memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan. Asesmen dirancang bukan hanya menilai hasil akhir, melainkan memantau serta mendukung proses belajar murid secara berkelanjutan.

Berangkat dari pemahaman itu, Nora mulai memilih strategi yang menumbuhkan kesadaran belajar. Murid tidak lagi diposisikan sebagai penerima informasi, melainkan subjek pembelajaran yang aktif, terlibat, dan bertanggung jawab atas apa yang dipelajari.

Dalam praktiknya, Nora berupaya membuat matematika lebih dekat dengan realitas murid. Ia mempelajari keterkaitan materi bangun ruang sisi lengkung dengan berbagai bidang ilmu lain agar pembelajaran terasa relevan. Pendekatan ini kemudian diterapkan pada materi luas dan volume tabung, kerucut, dan bola.

Alih-alih menyajikan rumus secara langsung, Nora memilih pendekatan kontekstual dengan meminta murid membawa benda bekas dari rumah yang berbentuk tabung, kerucut, atau bola, seperti kaleng minuman, botol, cone latihan, atau bola plastik. Benda-benda itu dijadikan media belajar: murid mengamati bentuk, mengukur diameter, jari-jari, dan tinggi, lalu menghitung luas permukaan serta volume berdasarkan objek yang mereka pegang.

Pembelajaran juga diperluas ke luar kelas. Nora memanfaatkan lingkungan sekitar SMP Negeri 17 Padang sebagai sumber belajar lintas mata pelajaran. Murid diajak mengamati objek yang menyerupai bangun ruang sisi lengkung, seperti tempat sampah, pot tanaman dari drum, alat musik tradisional, hingga peralatan olahraga. Mereka diminta mengidentifikasi bentuk, melakukan pengukuran, dan menghitung luas permukaan serta volume, kemudian mendiskusikan makna di balik perhitungan itu.

Dalam integrasi lintas pelajaran, Nora mengaitkan konsep tersebut dengan konteks PJOK melalui bola dan cone latihan. Murid tidak hanya menghitung volumenya, tetapi juga membahas kaitannya dengan fungsi, kenyamanan penggunaan, dan efektivitas peralatan olahraga. Pada IPS, materi dikaitkan dengan desain bangunan, perabot rumah tangga, dan kemasan produk sehari-hari. Melalui analisis kaleng minuman atau kemasan es krim, murid diajak memahami hubungan antara volume, luas permukaan, efisiensi bahan, dan biaya produksi.

Sementara pada IPA, konsep bangun ruang sisi lengkung dihubungkan dengan alat-alat laboratorium yang berbentuk tabung, kerucut, dan bola. Pada Seni, murid diajak mengaplikasikan konsep tersebut dalam perancangan dan pembuatan karya, sehingga matematika bertemu kreativitas dan estetika.

Nora menilai pendekatan lintas disiplin ini membuat pembelajaran bangun ruang sisi lengkung tidak berhenti pada penguasaan rumus, tetapi berkembang menjadi sarana melatih literasi, penalaran, serta kemampuan memecahkan persoalan nyata. Ia ingin murid menyadari relevansi pelajaran di kelas sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari.

Sejalan dengan prinsip Pembelajaran Mendalam, Nora juga menata asesmen agar lebih komprehensif. Penilaian dilakukan secara berkelanjutan melalui observasi, diskusi kelompok, lembar kerja, dan refleksi individu. Dengan cara ini, guru tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga memahami proses berpikir, keterlibatan, dan perkembangan belajar setiap murid.

Menurut Nora, perubahan mulai terlihat. Murid menjadi lebih berani bertanya, lebih aktif berdiskusi, dan lebih mampu mengaitkan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari. Namun ia mengakui proses ini tetap memiliki tantangan, seperti adaptasi murid yang terbiasa pasif, perbedaan kemampuan, serta rasa takut berbicara di depan kelas.

Nora meyakini tantangan tersebut dapat diatasi melalui penciptaan rasa aman, pendampingan yang konsisten, dan refleksi berkelanjutan. Baginya, pelatihan Pembelajaran Mendalam menjadi fondasi untuk menghadirkan pembelajaran yang berpusat pada murid, mengintegrasikan teori dengan praktik, serta menegaskan bahwa belajar merupakan proses sepanjang hayat.