Ekonomi global disebut tengah mencari tatanan operasional baru seiring memudarnya relevansi “konsensus Washington” yang selama ini identik dengan pasar bebas, perdagangan bebas, dan arus modal yang lebih terbuka. Penilaian itu disampaikan para ahli dari S&P Global Ratings di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) ke-56 di Davos, Swiss.
Kepala Ekonom Global S&P Global Ratings, Paul Gruenwald, mengatakan tatanan ekonomi global sebelumnya tidak lagi sesuai dengan kondisi saat ini. Menurut dia, faktor geopolitik dan isu keamanan menambah lapisan kompleksitas baru yang membuat ekonomi global perlu menemukan cara kerja yang berbeda agar tetap berfungsi.
Gruenwald menilai sistem lama yang dibangun atas gagasan dunia tanpa batas kini tertinggal oleh realitas meningkatnya persoalan keamanan dan ketegangan geopolitik yang membayangi perdagangan. Di WEF tahun ini, isu kepercayaan terhadap sistem, kepercayaan terhadap negara, serta peran perusahaan besar menjadi topik yang banyak dibahas, mencerminkan kebutuhan negara dan pelaku usaha untuk beradaptasi terhadap perubahan rantai pasokan, jalur perdagangan, dan volatilitas keuangan.
Ia juga menyinggung bahwa tatanan lama selama ini terkonsolidasi di bawah Amerika Serikat sebagai kekuatan hegemon, namun peran tersebut kini mengalami perubahan. Meski demikian, Gruenwald menilai sulit memprediksi bentuk tatanan baru yang akan muncul. Ia mengutip pernyataan Perdana Menteri Kanada Mark Carney di Davos mengenai perlunya kekuatan menengah untuk bangkit dan menggeser keseimbangan kekuasaan.
Menurut Gruenwald, persaingan Amerika Serikat dan China sebagai dua negara adidaya berlangsung di banyak bidang. Karena itu, tatanan baru yang terbentuk diperkirakan bukan tatanan global yang mulus, melainkan kombinasi yang kompleks dan saling terkait, bergantung pada isu yang dihadapi—baik perdagangan, keamanan, maupun bidang lain—sementara sejumlah negara masih ingin mempertahankan elemen tertentu dari tatanan lama.
Gruenwald menegaskan, pada periode mendatang, perkembangan geopolitik dan keamanan diperkirakan semakin menentukan arah perekonomian. Ia mencontohkan bahwa di Amerika Serikat, pemerintah mulai lebih aktif campur tangan terhadap perusahaan, termasuk memperingatkan agar tidak melakukan pembelian kembali saham dan mendorong investasi ke perekonomian.
Dalam situasi seperti ini, ia menilai pemahaman makroekonomi saja tidak cukup. Menurutnya, diperlukan pendekatan multidisiplin yang juga mempertimbangkan geopolitik, energi, pasar kredit, serta cara-cara tidak konvensional dalam beroperasinya sistem keuangan.
Terkait prospek pertumbuhan, Gruenwald memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,2% pada 2026, yang menurutnya masih tergolong tidak buruk di tengah berbagai tantangan. Namun, ia menekankan bahwa kondisi tiap ekonomi utama berbeda. Ia menggambarkan Amerika Serikat secara bertahap melepaskan diri dari dampak perdagangan akibat tarif, Eropa berupaya memperoleh otonomi strategis, sementara China berupaya menyeimbangkan kembali perekonomian dan memerangi deflasi di pasar properti serta sektor lainnya.
Gruenwald menambahkan, pusat data, investasi dalam kecerdasan buatan, serta harga energi yang relatif rendah menjadi faktor yang mendukung perekonomian global. Meski begitu, dari sisi risiko, pasar disebut terus memantau perkembangan geopolitik secara cermat. Ia memperkirakan fase perubahan ini tidak akan dilalui semua pihak tanpa dampak, dengan kemungkinan munculnya pemenang dan pecundang.

