BERITA TERKINI
Gelombang Merger dan Akuisisi Ramai di 2025: Dari Broadband, Pembiayaan, hingga Energi

Gelombang Merger dan Akuisisi Ramai di 2025: Dari Broadband, Pembiayaan, hingga Energi

Sepanjang 2025, peta bisnis Indonesia bergerak dinamis seiring maraknya aksi merger dan akuisisi (M&A) di berbagai sektor. Dari infrastruktur digital, energi, hingga pembiayaan dan perkebunan, konsolidasi dipilih sebagai strategi untuk memperkuat daya saing di tengah tekanan biaya, kebutuhan ekspansi, dan persaingan yang kian ketat.

Sejumlah transaksi sudah diselesaikan pada 2025, sementara sebagian lain masih berada pada tahap rencana atau menunggu efektif operasional pada tahun berikutnya. Berikut rangkuman aksi korporasi yang mencuat sepanjang tahun ini.

Merger Moratelindo (MORA) dan MyRepublic Indonesia

Rencana penggabungan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA/Moratelindo) dengan MyRepublic Indonesia menjadi salah satu isu yang ramai pada penghujung 2025. Dalam perkembangan terbaru, MORA disebut akan menjadi entitas yang bertahan, sementara MyRepublic Indonesia bergabung ke dalamnya. Setelah merger efektif, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) diproyeksikan menjadi pengendali tidak langsung entitas hasil penggabungan, dengan target penyelesaian pada semester I-2026.

Rencana merger Adira Finance (ADMF) dan Mandala Multifinance (MFIN)

Di sektor pembiayaan, Adira Finance (ADMF) dan Mandala Multifinance (MFIN) mengumumkan rencana penggabungan untuk memperkuat layanan dan posisi pasar, dengan dukungan MUFG dalam narasi resminya. Dalam pembaruan 2025, MFIN dijadwalkan delisting pada 2 Oktober 2025, sementara penggabungan operasional disebut baru efektif pada 1 Oktober 2026.

Akuisisi Austindo Nusantara Jaya (ANJT) oleh Ciliandra

Di sektor sawit, PT Ciliandra Perkasa—yang dikaitkan dengan grup First Resources—menuntaskan pengambilalihan sekitar 91,17% saham PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT). Transaksi ini berawal dari penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat pada 18 Maret 2025, dengan proses penyelesaian yang diberitakan terjadi pada awal Mei 2025.

Akuisisi Bukit Permai Properti (BPP) oleh Bukit Uluwatu Villa (BUVA)

PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) mengakuisisi PT Bukit Permai Properti (BPP) yang dikaitkan sebagai entitas milik Summarecon. Informasi yang beredar menyebut proses akuisisi sudah masuk tahap final, dengan penandatanganan akta jual beli saham pada 28 November 2025. BPP disebut memiliki lahan sekitar 19,3 hektare di area yang berdampingan dengan aset unggulan BUVA di Uluwatu.

Rencana akuisisi Personel Alih Daya (PADA) oleh INET

Di lini infrastruktur digital, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) diberitakan menyiapkan akuisisi 53,57% saham PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) dari Kopindosat. Rencana ini dinilai berpotensi memperluas ekosistem layanan INET, meski pasar umumnya akan menilai kecocokan sinergi dan dampaknya terhadap fokus bisnis.

Akuisisi Scan-Bilt oleh Petrosea (PTRO)

PT Petrosea Tbk (PTRO) menyelesaikan pengambilalihan 60% saham Scan-Bilt Pte. Ltd. pada 21 November 2025, dengan nilai transaksi sekitar SGD 10,3 juta. Setelah transaksi tersebut, Scan-Bilt juga dikaitkan memperoleh kontrak EPC dari Aster dengan nilai yang diberitakan signifikan, yang menambah konteks strategis dari akuisisi ini.

Chandra Asri dan Glencore akuisisi aset Shell di Singapura (PCS Singapore) melalui JV

Kolaborasi Chandra Asri Group dan Glencore menuntaskan akuisisi aset Shell di Singapura melalui perusahaan patungan (JV) yang kemudian dikenal sebagai Aster. Penyelesaian penjualan aset kilang dan terkaitnya dilaporkan terjadi pada 1 April 2025, termasuk transisi karyawan serta aktivasi perjanjian pasokan dan offtake.

Medco Energi (MEDC) akuisisi Fortuna International dari Repsol

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menandatangani kesepakatan dan kemudian menyelesaikan akuisisi Fortuna International (Barbados), Inc dari Repsol. Transaksi ini dikaitkan dengan kepemilikan tidak langsung 24% di PSC Corridor, sebagaimana tercantum dalam rilis perusahaan tertanggal 26 Juni 2025 dan pembaruan penyelesaian transaksi.

Perubahan pengendali Buana Artha Anugerah (STAR)

PT Buana Artha Anugerah Tbk (STAR) berganti pengendali setelah PT Kencana Selaras Sejahtera melepas 32,19% saham kepada Calculus Investment Pte. Ltd. pada 20 November 2025. Transaksi ini memicu kewajiban tender offer sesuai ketentuan yang berlaku.

Iforte (TOWR) akuisisi 40% saham Remala Abadi (DATA)

Masih di sektor infrastruktur digital, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melalui entitas anaknya, Iforte, merampungkan akuisisi 40% saham PT Remala Abadi Tbk (DATA) pada 30 April 2025. Nilai transaksi disebut sekitar Rp535,7 miliar.

Skala dan efisiensi jadi benang merah

Gelombang M&A sepanjang 2025 memperlihatkan pola yang serupa: perusahaan mengejar skala, efisiensi, dan penguatan rantai nilai untuk menjaga keberlanjutan bisnis. Sektor infrastruktur digital, energi, pembiayaan, hingga perkebunan menunjukkan upaya memperluas basis pendapatan, mengamankan pasokan, serta memperkuat posisi kompetitif jangka panjang.

Namun, aksi merger dan akuisisi tidak otomatis menciptakan nilai. Tantangan integrasi, disiplin pendanaan, serta konsistensi eksekusi pasca-transaksi menjadi faktor penentu apakah konsolidasi benar-benar memperkuat fondasi bisnis atau justru menambah beban baru di kemudian hari.