Pasar modal Indonesia sepanjang 2025 diwarnai peningkatan aktivitas merger dan akuisisi (M&A) lintas negara. Sejumlah perusahaan asing tercatat mengambil alih atau masuk sebagai pemegang saham strategis di emiten Indonesia, sementara beberapa emiten domestik juga agresif berekspansi dengan mengakuisisi aset di luar negeri.
Tren tersebut mencerminkan tingginya minat investor global terhadap aset di Indonesia sekaligus optimisme pelaku industri terhadap peluang pertumbuhan. Sejumlah faktor yang disebut mendorong gelombang transaksi ini antara lain stabilitas ekonomi domestik dan proyeksi pertumbuhan yang tetap positif, valuasi saham emiten Indonesia yang dinilai menarik, serta kebijakan pemerintah yang semakin pro-investasi melalui penyederhanaan regulasi dan percepatan perizinan.
Di sisi lain, transformasi digital dan kebutuhan pendanaan besar, terutama di sektor teknologi, turut membuat sebagian perusahaan lokal membuka ruang kolaborasi strategis dengan pemain global. Bagi investor asing, akuisisi menjadi jalur cepat memperluas jaringan bisnis di pasar Indonesia yang masih bertumbuh.
Berikut rangkaian aksi akuisisi dan rencana pengambilalihan yang mencuat sepanjang 2025, melibatkan pihak dari Singapura, Jepang, Korea Selatan, hingga ekspansi emiten Indonesia ke Australia.
DRMA siapkan akuisisi PT Mah Sing Indonesia
PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) berencana mengakuisisi 82% saham PT Mah Sing Indonesia (MSI) dengan nilai sekitar Rp41 miliar. Direksi menyatakan aksi ini ditujukan untuk memperkuat portofolio komponen otomotif, khususnya segmen kendaraan roda empat, mengingat MSI memproduksi komponen otomotif berbahan plastik. Proses akuisisi masih berada pada tahap awal, termasuk finalisasi dokumen dan penyelesaian aspek legal.
Manajemen DRMA menilai 2026 berpotensi menantang bagi industri otomotif karena masuknya pemain baru dan perubahan peta kompetisi. Untuk 2025, DRMA tetap menargetkan penjualan Rp6 triliun. Hingga kuartal III/2025, DRMA membukukan penjualan Rp4,39 triliun (tumbuh 9,20% secara tahunan) dan laba bersih Rp428,11 miliar (naik 1,69%).
TGUK diambil alih holding Singapura
PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) dikabarkan diakuisisi Visionary Capital Global Pte. Ltd (VCG) dari Singapura pada Mei 2025. Dalam keterbukaan informasi, VCG akan mengakuisisi 69,34% modal disetor dan ditempatkan TGUK dari pemegang saham mayoritas eksisting, PT Dinasti Kreatif Indonesia. Setelah penyelesaian pengambilalihan, VCG sebagai pengendali baru akan melaksanakan penawaran tender wajib sesuai POJK 9/2018.
Aksi ini terjadi di tengah tekanan utang perseroan. Disebutkan utang usaha melonjak 211% (yoy) pada triwulan III 2024, mendorong liabilitas jangka pendek naik 67,7% menjadi Rp37 miliar dan memaksa restrukturisasi utang dengan vendor. VCG disebut akan menambah lini bisnis frozen food untuk memperbaiki kondisi keuangan TGUK yang merugi pada 2024.
PTMR: Deep Source Singapura ambil alih mayoritas
Deep Source Pte. Ltd., perusahaan terdaftar di Singapura, pada Juni 2025 disebut akan mengambil alih 77,71% saham PT Master Print Tbk (PTMR) dari PT Mitra Pack Tbk (PTMP) dan Ardi Kusuma. PTMR merupakan anak usaha PTMP. Transaksi ini berakibat pada perubahan pengendali dan disebut bertujuan mengembangkan bisnis serta memperluas jaringan usaha calon pengendali baru di Indonesia. Setelah pengambilalihan, Deep Source akan menjalankan penawaran tender wajib sesuai ketentuan yang berlaku.
SMKM: Lim Shrimp Org akuisisi 25%
PT Sumber Mas Konstruksi (SMKM) mengumumkan Lim Shrimp Org Pte. Ltd. dari Singapura telah mengakuisisi 313 juta saham atau 25% dengan harga Rp37 per saham. Nilai transaksi mencapai Rp11,6 miliar dan saham dibeli dari pengendali lama, PT Vina Nauli Jordania. Lim Shrimp disebut menjadi pengendali baru dan akan melaksanakan penawaran tender wajib.
Jumlah saham yang diakuisisi tercatat lebih rendah dari rencana awal. Rencana semula adalah 564 juta saham (44,98%), kemudian direvisi menjadi 450 juta saham (35,91%), sementara realisasinya 313 juta saham (25%). Per 30 September 2025, PT Vina Nauli Jordania menguasai 44,98% saham SMKM. Dalam periode satu bulan terakhir sebelum pengumuman, saham SMKM naik 15,51% ke level 216, dan dalam enam bulan terakhir meningkat 380%.
MAPI: rencana akuisisi oleh entitas berbasis Singapura
Pada September 2025, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dikabarkan akan diakuisisi perusahaan induk berbasis di Singapura, Pacific Universal Investments Pte. Ltd. Entitas tersebut disebut akan mengakuisisi saham PT Mitra yang berbasis di Jakarta dari PT Satya Mulia Gema Gemilang, pemegang 51% saham pengendali.
Komisi Persaingan Usaha Filipina (PCC) dikabarkan menyetujui kesepakatan karena dinilai tidak menimbulkan risiko persaingan. MAPI disebut memiliki 3.832 gerai di tujuh negara ASEAN, termasuk 247 gerai dan 21 merek eksklusif di Filipina, dengan anak usaha antara lain MAP Active Philippines dan Mapple Philippines Inc.
PTRO jajaki akuisisi Scan-Bilt di Singapura
PT Petrosea Tbk (PTRO) menandatangani non-binding term sheet dengan pemegang saham Scan-Bilt Pte. Ltd. (SBPL) pada 19 September 2025. SBPL merupakan perusahaan Singapura di bidang konstruksi plant civil engineering dan maintenance untuk industri kimia serta minyak dan gas onshore. Tahap berikutnya adalah due diligence dan negosiasi lanjutan.
Rencana akuisisi mayoritas saham SBPL disebut menjadi bagian strategi pertumbuhan dan diversifikasi. PTRO berencana mengembangkan SBPL sebagai business hub untuk ekspansi di Asia Pasifik, mencakup Singapura, Papua Nugini, dan Indonesia, sekaligus memperkuat posisi di sektor non-batu bara, khususnya kimia dan energi.
BOGA: GX Archipelago Singapura jadi pengendali baru
PT Bintang Oto Global Tbk (BOGA) melaporkan transaksi pengalihan kepemilikan yang berujung perubahan pengendali. Pada 19 November 2025, PT Falcon Asia Investama melepas 1.122.137.000 saham (29,50%) kepada GX Archipelago Pte. Ltd., investment holding berbasis di Singapura, melalui pasar negosiasi pada harga Rp520 per saham. Perubahan pengendali langsung terjadi dari PT Falcon Asia Investama ke GX Archipelago.
Sehari setelah transaksi, pada penutupan perdagangan 20 November 2025, saham BOGA naik 20% ke Rp675 per saham. Manajemen menyatakan pengendali baru akan memenuhi ketentuan POJK 9/2018, termasuk pelaksanaan mandatory tender offer kepada pemegang saham minoritas.
SGRO: AGPA Pte. Ltd. beli 62,7%
PT Sampoerna Agro (SGRO) mengumumkan AGPA Pte. Ltd. membeli 1,2 miliar saham atau 62,7% kepemilikan dari Twinwood Family Holdings Limited. Transaksi terjadi pada 19 November 2025 dengan harga Rp7.903 per saham, sehingga total nilai mencapai Rp9,4 triliun. Setelah akuisisi, pembeli akan melaksanakan tender offer wajib.
ENRG gandeng Japex, lanjutkan strategi akuisisi
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) sepanjang 2025 disebut gencar melakukan akuisisi dan menghadirkan mitra strategis dari Jepang, Japex, ke aset migas perseroan. Japex resmi membeli 25% saham di Blok Kangean dan 50% di Blok Gebang. Dampak transaksi disebut membuat ENRG mengendalikan penuh kepemilikan dua blok tersebut.
Blok Kangean disebut sebagai pemasok terbesar kedua ENRG, dengan target produksi gas naik menjadi 324 mmscfd pada 2031 melalui rencana pengeboran 15 sumur baru. Untuk Blok Gebang, divestasi sebagian saham dipandang strategis guna mengurangi beban modal sambil mempertahankan eksposur pada cadangan gas 874 bcf. Produksi perdana dijadwalkan mulai 2027 dan diproyeksikan naik tiga kali lipat pada 2035.
ENRG juga berencana melakukan non-preemptive rights issue (NPRI) dengan menerbitkan 2,5 miliar saham baru untuk menghimpun dana hingga Rp595,7 miliar, dengan 70% dialokasikan ke PT Imbang Tata Alam, entitas anak pengelola Blok Malacca Strait.
ASLC: rumor akuisisi, perusahaan bantah rencana dekat
Pada Agustus 2025 muncul isu merger dan akuisisi PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) dengan perusahaan asal Jepang di harga premium. Namun pada September 2025, emiten Grup Triputra tersebut menegaskan belum memiliki rencana aksi korporasi dalam waktu dekat meski harga saham sempat melonjak seiring rumor.
Sebelumnya, pada 14 Agustus 2025, warga negara Jepang Kazuhiro Shioyama menambah kepemilikan ASLC dengan membeli 300 ribu saham pada harga Rp64 per lembar, dengan nilai sekitar Rp19,2 juta.
HGII: Shikoku Electric Power (Yonden) ambil 25%
Pada Januari 2025, perusahaan utilitas Jepang Shikoku Electric Power Company, Incorporated (Yonden) disebut akan mengakuisisi 25% saham PT Hero Global Investment Tbk (HGII) atau setara 1,62 miliar saham. Transaksi menggunakan harga IPO Rp200 per saham, dengan nilai sekitar Rp325 miliar. Kesepakatan ini sebelumnya tertuang dalam Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) pada 8 November 2024.
Masuknya Yonden membuat komposisi saham HGII menjadi 55% pendiri, 25% Yonden, dan 20% publik, dengan pendiri tetap sebagai pengendali. HGII saat ini memiliki PLTM Parmonangan-1 (9 MW) dan PLTM Parmonangan-2 (10 MW) di Sumatera Utara, serta investasi saham minoritas di PLTBg Ujung Batu (3 MW) di Riau. HGII merencanakan ekspansi EBT hingga total kapasitas 100 MW pada 2031, termasuk rencana memulai konstruksi PLTA 25 MW dan PLTM 10 MW di Sumatera Utara pada 2025 dengan target COD 2028.
NOBU: Hanwha Life Korea Selatan masuk sebagai pemegang 40%
PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) mengumumkan telah diakuisisi Hanwha Life Insurance Co. Ltd pada 1 Juli 2025. Sebanyak 2,9 miliar saham atau 40% berpindah tangan kepada kelompok usaha Korea Selatan tersebut. Hanwha mengambil alih saham dari keluarga Riady dan sejumlah entitas terafiliasi Grup Lippo, termasuk PT Putera Mulia Indonesia, PT Prima Cakrawala Sentosa, PT Star Pasific Tbk, PT Inti Anugerah Pratama, PT Ciptadana Capital, PT Lenox Pasifik Investama Tbk, serta PT Multipolar Tbk.
BUMI ekspansi ke Australia dan akuisisi tambang di Indonesia
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melanjutkan ekspansi dengan mengakuisisi 99,68% saham Wolfram Limited, perusahaan pertambangan emas dan tembaga berbasis di Australia. Akuisisi ditargetkan mencapai 100% pada November 2025. Transaksi ini merupakan tindak lanjut term sheet awal tahun dan telah difinalisasi setelah memperoleh persetujuan Foreign Investment Review Board (FIRB) Australia. BUMI menyatakan langkah ini bagian dari strategi diversifikasi ke mineral strategis dan mineral kritis.
Selain itu, BUMI juga mengakuisisi Jubilee Metals Ltd (JML) dan PT Laman Mining (PLM). Perseroan menyebut ekspansi dilakukan setelah merapikan struktur keuangan melalui kuasi reorganisasi yang menghapus saldo laba negatif, sehingga perusahaan lebih leluasa menerbitkan obligasi untuk pendanaan akuisisi dan modal kerja, termasuk rencana Penerbitan Obligasi Berkelanjutan total Rp5 triliun.
JML memiliki aset tambang emas di Queensland Utara dan Victoria, Australia, dan disebut masih pada tahap eksplorasi dengan potensi cadangan sekitar 2 juta ounce. Untuk mengamankan akuisisi JML, BUMI mengalokasikan Rp340,9 miliar dari penerbitan obligasi. Hingga September 2025, BUMI telah memegang 41,36% saham JML melalui private placement, pembelian langsung, serta skema debt to equity swap.
Sementara akuisisi PLM membutuhkan dana awal Rp333,6 miliar. PLM beroperasi di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, berfokus pada penambangan bijih bauksit, dan berada di bawah kendali Supreme Global dari Sri Lanka. PLM juga menyiapkan ekspansi ke pemurnian alumina dengan target kapasitas 2 juta ton per tahun.
Deretan transaksi tersebut menunjukkan dinamika “saling caplok” antara investor asing dan emiten domestik. Di satu sisi, Indonesia tetap menjadi tujuan ekspansi dan penempatan modal bagi perusahaan regional maupun global. Di sisi lain, sejumlah emiten nasional memanfaatkan momentum untuk memperluas portofolio dan menambah eksposur pada komoditas serta proyek di luar negeri.

