JAKARTA — Guncangan pada infrastruktur energi global serta gangguan pasokan minyak dan gas di kawasan Timur Tengah mulai membentuk ulang prospek keuangan global. Di tengah ketidakpastian yang meningkat, investor mengubah strategi dengan menambah alokasi pada instrumen likuid dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
World Economic Forum (WEF) dalam laporan terbarunya menilai gejolak energi menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika pasar global. Investor pun kian berhati-hati seiring volatilitas yang meningkat.
WEF, dikutip Rabu (25/3/2026), menyebut kerusakan pada infrastruktur energi utama selama konflik di Timur Tengah yang sedang berlangsung, serta penutupan efektif Selat Hormuz bagi sebagian besar lalu lintas komersial, memperburuk ketidakpastian pasar. Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar 20 persen minyak global dan 21 persen pasokan gas alam cair (LNG).
Sejumlah analis memperingatkan pasar berpotensi meremehkan skala gangguan tersebut. Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol menyebut situasi ini sebagai “sangat parah” dan menilai pembuat kebijakan serta investor belum sepenuhnya memahami dampak potensial dari apa yang ia sebut sebagai “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global”.
Perubahan sentimen di pasar energi tercermin pada pergerakan harga. Harga acuan minyak mentah global Brent sempat naik di atas 110 dollar AS per barrel, yang menunjukkan pergeseran dari lonjakan jangka pendek akibat konflik menuju keterbatasan pasokan global yang lebih nyata.
Goldman Sachs juga merevisi proyeksi harga minyak dunia untuk 2026. Bank investasi itu memperkirakan harga rata-rata minyak mentah Brent tahun ini mencapai 85 dollar AS per barrel, naik dari estimasi sebelumnya sebesar 77 dollar AS.
Lonjakan harga energi terjadi setelah kerusakan pada sejumlah infrastruktur penting di Timur Tengah. Serangan Israel terhadap ladang gas South Pars di Iran serta serangan balasan pada kompleks Ras Laffan di Qatar berdampak pada dua fasilitas LNG utama. Kerusakan tersebut diperkirakan dapat mengurangi sekitar 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar hingga lima tahun.
Dengan risiko pasokan yang membesar dan volatilitas yang belum mereda, tekanan terhadap stabilitas pasar dinilai berpotensi berlanjut, mendorong pelaku pasar untuk menyesuaikan strategi dan memprioritaskan instrumen yang lebih likuid.