Bank bjb memperkuat dukungannya dalam memperluas akses pembiayaan sektor perumahan melalui Forum Bisnis Perumahan Bersama bank bjb bertajuk “Rumah Nyaman Usaha Berkembang”. Kegiatan ini digelar pada Kamis, 22 Januari 2026, di Bale Gede Pakuan, Kota Bandung.
Forum tersebut menjadi bagian dari langkah strategis bank bjb untuk mendorong pemerataan akses kepemilikan rumah sekaligus menumbuhkan usaha masyarakat, terutama pelaku UMKM di Jawa Barat dan sekitarnya. Penyelenggaraan forum melibatkan pemangku kepentingan dari sektor perumahan, perbankan, pemerintahan, serta asosiasi pengembang dengan tujuan membangun ekosistem pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan.
Bank bjb juga menegaskan peran aktifnya dalam mendukung program nasional perumahan, termasuk Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera), yang diposisikan sebagai instrumen untuk memperluas akses pembiayaan rumah layak dan terjangkau.
Acara ini dihadiri berbagai pemangku kepentingan pusat dan daerah, antara lain Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Badan Pusat Statistik. Hadir pula jajaran manajemen bank bjb, pimpinan asosiasi pengembang, serta 195 pelaku UKM dari berbagai sektor usaha.
Menteri PKP Maruarar Sirait dalam kesempatan itu menekankan bahwa Kredit Program Perumahan (KPP) tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pembiayaan perumahan, tetapi juga dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan memperkuat UMKM agar dapat naik kelas.
“KPP bukan hanya soal rumah. Program ini kami dorong untuk menggerakkan ekonomi masyarakat, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kapasitas UMKM mulai dari sektor konstruksi, bahan bangunan, hingga jasa pendukung agar tumbuh dan naik kelas,” ujar Maruarar.
Maruarar juga mengapresiasi komitmen bank bjb dalam mendukung pembiayaan perumahan melalui KPP. Ia menyebut bank bjb mencatat capaian penyaluran KPP yang signifikan dalam forum tersebut.
“Saya mengapresiasi bank bjb karena pada hari ini berhasil memecahkan rekor realisasi KPP terbanyak dalam satu acara, dengan total pipeline mencapai Rp 70,8 miliar dengan total 109 debitur,” kata Maruarar.
Menurutnya, capaian itu menunjukkan komitmen perbankan daerah dalam mendukung program perumahan nasional sekaligus penguatan ekonomi masyarakat. Bank bjb menyatakan akan terus mendukung program perumahan pemerintah melalui perluasan pembiayaan KPP, peningkatan layanan kepada masyarakat, serta kerja sama yang lebih erat dengan pengembang dan pemerintah daerah.
Forum ini dirancang sebagai wadah dialog, edukasi, dan kolaborasi antara lembaga keuangan, pengembang, pemerintah, dan masyarakat untuk membangun sektor perumahan yang sehat dan produktif. Dalam rangkaian kegiatan, peserta dapat berkonsultasi langsung di meja dealing, memperoleh informasi produk, dan mengakses layanan keuangan yang disediakan bank bjb.
Salah satu fokus utama adalah sosialisasi Program Tapera yang disampaikan Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho. Ia memaparkan peran dana jangka panjang dalam mendukung pembiayaan perumahan rakyat. Tapera diposisikan sebagai solusi strategis untuk menghimpun dana murah yang digunakan secara khusus bagi pembiayaan perumahan, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2016 dan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2024.
Selain itu, bank bjb memberikan edukasi mengenai pentingnya Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK sebagai instrumen untuk menilai kelayakan kredit dan menjaga kesehatan finansial. Materi disampaikan perwakilan bank bjb, Apsoro, yang menjelaskan fungsi SLIK dalam membangun transparansi data, meminimalkan risiko kredit, serta memperluas peluang pembiayaan.
Peserta juga diberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga kolektibilitas kredit, memantau riwayat pembayaran, serta melakukan koreksi data bila ditemukan ketidaksesuaian dalam sistem informasi keuangan. Bank bjb menilai literasi ini penting untuk mendorong masyarakat menjadi debitur yang bertanggung jawab dan siap mengakses pembiayaan secara berkelanjutan.
Forum turut menghadirkan testimoni debitur bank bjb, Bintang, yang menyampaikan pengalaman memperoleh akses kredit, pemanfaatan agunan sertifikat rumah, serta dukungan perbankan terhadap pengembangan usaha. Ia menilai debitur UMKM terbantu melalui kesempatan permodalan untuk mengembangkan bisnis agar dapat bersaing di era digital.
Dalam kesempatan yang sama, bank bjb menyalurkan fasilitas kredit kepada PT Helmindo Pratama Indonesia dengan total plafon Rp 19,3 miliar untuk modal kerja distributor helm, serta tambahan fasilitas Rp 2 miliar untuk unit produksi. Pembiayaan tersebut memiliki tenor fleksibel antara 12 hingga 48 bulan dan diarahkan untuk memperkuat rantai pasok industri perlengkapan keselamatan di Indonesia.
Kontribusi bank bjb dalam kegiatan ini juga diwujudkan melalui pembukaan booth layanan informasi, pengisian talkshow terkait KPP, serta pembentukan pipeline pembiayaan sebanyak 109 nasabah dengan total plafon Rp 70,88 miliar. Bank bjb menyebut capaian itu mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap produk pembiayaan dan kepercayaan terhadap layanan yang diberikan.
Rangkaian acara juga diisi seremoni penandatanganan perjanjian kredit bersama debitur Cabang Majalaya, Revalina Fauziah, pelaku usaha garment dengan plafon Rp 500 juta. Selain itu, testimoni debitur dari Cabang Suci, PT Bumitama, turut disampaikan sebagai representasi pelaku usaha pengembang yang memperoleh fasilitas KPP Supply sebesar Rp 5 miliar.
Melalui forum ini, bank bjb menegaskan upaya memfasilitasi pembiayaan perumahan dan usaha sekaligus membangun jejaring kolaboratif antara pemerintah, perbankan, dan pelaku usaha. Dengan mengusung semangat “Rumah Nyaman Usaha Berkembang”, bank bjb menyatakan optimistis dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mempermudah akses perumahan, memperkuat sektor riil, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

