Permintaan pembiayaan masyarakat yang biasanya meningkat pada momentum Ramadan dan Lebaran berpotensi mendorong kinerja penyaluran pembiayaan industri fintech peer to peer (P2P) lending. Namun, peningkatan pembiayaan pada periode musiman tersebut juga dinilai perlu diantisipasi karena dapat diikuti kenaikan risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 setelah Lebaran.
Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, lonjakan permintaan pembiayaan selama Ramadan dan Lebaran kerap berujung pada kenaikan TWP90 dalam beberapa bulan berikutnya. Menurut dia, pola tersebut umumnya terjadi dua hingga tiga bulan setelah Ramadan dan Lebaran.
Ia memperkirakan pada periode April 2026 hingga Juni 2026, TWP90 berpotensi meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Nailul berharap jika terjadi kenaikan, angkanya tetap lebih rendah dari posisi TWP90 industri per November 2025 yang tercatat 4,33%.
Terkait lonjakan TWP90 pada November 2025, Nailul menilai hal itu turut dipengaruhi faktor bencana di Sumatra serta kejadian gagal bayar PT Dana Syariah Indonesia (DSI). Pada bulan yang sama, TWP90 tercatat meningkat tajam dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 2,76%.
Untuk meredam potensi kenaikan risiko pascaLebaran, Nailul menyarankan penyelenggara fintech lending melakukan pengereman penyaluran pembiayaan pada Februari hingga Maret 2026, bertepatan dengan periode Ramadan hingga Lebaran, meski permintaan diperkirakan tinggi. Ia menyebut tuas pengereman dapat dilakukan melalui penguatan credit scoring atau mekanisme pengendalian lainnya, dan sebaiknya mulai diterapkan sejak Februari.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa Ramadan dapat menjadi salah satu momentum pendorong peningkatan pembiayaan fintech lending, sebagaimana terlihat dari data historis. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, menyebut pada Ramadan 2024 (Maret 2024) penyaluran pembiayaan fintech lending tumbuh 8,90% secara month to month (mtm). Sementara pada Ramadan 2025 (Maret 2025), penyaluran pembiayaan meningkat 3,80% secara mtm.
OJK juga mencatat outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 94,85 triliun per November 2025, tumbuh 25,45% secara year on year (YoY). Di sisi lain, tingkat TWP90 pada periode yang sama berada di 4,33%.

