BERITA TERKINI
Fenomena “Fake Rich Middle” di Kalangan Anak Muda, Saat Gaya Hidup Tak Sejalan dengan Fondasi Finansial

Fenomena “Fake Rich Middle” di Kalangan Anak Muda, Saat Gaya Hidup Tak Sejalan dengan Fondasi Finansial

Fenomena mahasiswa yang tampak “mapan” kini semakin mudah ditemui. Dari kebiasaan nongkrong di kafe estetik, menggunakan gawai terbaru, memamerkan hidangan di restoran fine dining, hingga rutin mengunggah liburan di media sosial, penampilan keseharian sebagian anak muda kerap memunculkan kesan sejahtera. Namun, di balik citra tersebut, tidak sedikit yang sebenarnya bertahan dengan saldo pas-pasan, bahkan mengandalkan cicilan atau layanan pay later untuk mempertahankan gaya hidup.

Kondisi ini belakangan dikenal dengan istilah fake rich middle, merujuk pada kelompok kelas menengah yang terlihat sejahtera secara visual, tetapi tidak memiliki fondasi finansial yang kuat. Dr. Tanti Novianti, S.P, M.Si, menjelaskan kelompok ini umumnya memiliki tabungan minim, tidak mempunyai investasi, dan rentan secara keuangan meski gaya hidupnya tampak “naik kelas”.

Dalam konteks lebih luas, Bank Dunia mendefinisikan kelas menengah sebagai mereka yang mampu memenuhi kebutuhan dasar sekaligus menikmati konsumsi non-esensial. Persoalannya, sebagian orang justru terjebak pada upaya mempertahankan konsumsi non-esensial, bahkan dengan mengorbankan kebutuhan yang lebih mendasar. Gaya hidup pada akhirnya diperlakukan seperti “kostum sosial” yang harus terus dipertahankan.

Maraknya fenomena ini, terutama di kalangan generasi muda, tidak lepas dari perubahan cara pandang terhadap konsumsi. Di tengah arus globalisasi dan kuatnya peran media sosial, konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, melainkan juga menjadi standar sosial. Apa yang dipakai, dikunjungi, dan diunggah ikut membentuk cara orang lain memandang seseorang. Dalam situasi ini, konsumsi bergeser fungsi dari kebutuhan menjadi simbol, yang mendorong kecenderungan overconsumption atau konsumsi berlebihan tanpa diimbangi pembentukan aset.

Selama dua dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang memperbesar jumlah kelas menengah. Namun, pertumbuhan tersebut tidak selalu diiringi penguatan fondasi finansial. Ada kecenderungan struktural yang mendorong konsumsi lebih besar daripada akumulasi aset. Ketika pendapatan naik, bukan hanya daya beli yang meningkat, tetapi juga ekspektasi gaya hidup. Dalam ekonomi perilaku, kondisi ini dikenal sebagai lifestyle inflation, yakni kenaikan standar hidup yang berjalan seiring atau bahkan melampaui kenaikan pendapatan.

Di saat yang sama, akses kredit kian mudah. Kartu kredit, cicilan kendaraan, pinjaman online (pinjol), hingga pay later memungkinkan seseorang membeli sesuatu tanpa harus benar-benar memiliki uangnya terlebih dahulu. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tren peningkatan signifikan pada pinjaman online dalam beberapa tahun terakhir. Kemudahan ini dapat memberi fleksibilitas, tetapi tanpa literasi keuangan yang memadai, ruang untuk perilaku konsumtif yang tidak terkontrol semakin besar dan berpotensi menjadi “bom waktu” finansial.

Fenomena konsumsi demi status sosial sejatinya bukan hal baru. Thorstein Veblen dalam The Theory of the Leisure Class (1899) menyebut konsep conspicuous consumption, yakni konsumsi untuk menunjukkan status dan prestise, bukan semata kebutuhan. Bedanya, jika dulu perilaku ini lebih terbatas pada kelompok tertentu, kini media sosial membuatnya menyebar lebih luas dan kian dinormalisasi. Pamer gaya hidup mewah tidak lagi dianggap eksklusif, melainkan menjadi bagian dari keseharian.

Bagi generasi muda, tekanan sosial tersebut diperkuat oleh apa yang disebut sebagai demonstration effect, yaitu kecenderungan meniru gaya hidup kelompok yang dianggap lebih sukses atau memiliki status lebih tinggi. Di era digital, kelompok rujukan tidak lagi terbatas pada lingkungan sekitar, tetapi bisa datang dari influencer, selebritas, hingga orang asing di internet. Akibatnya, standar pembanding meningkat drastis, sementara kemampuan finansial pribadi tidak selalu sanggup mengikuti. Dari sini muncul jarak antara perceived wealth dan actual wealth: tampilan sejahtera di permukaan berbanding terbalik dengan kondisi tabungan, aset, dan stabilitas ekonomi jangka panjang.

Masalah ini juga diperparah oleh rendahnya literasi keuangan. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK tahun 2022 mencatat indeks literasi keuangan Indonesia sebesar 49,68 persen. Artinya, lebih dari separuh masyarakat belum memiliki pemahaman memadai tentang pengelolaan keuangan. Rendahnya literasi tidak hanya terkait pemahaman bunga majemuk, tetapi juga ketidakmampuan membedakan aset dan liabilitas, konsumsi produktif dan konsumsi destruktif, serta kebutuhan dan keinginan yang kerap dibentuk tekanan sosial.

Dr. Tanti menekankan bahwa tanpa tabungan, investasi, atau kepemilikan aset produktif, kenaikan penghasilan tidak otomatis berujung pada kesejahteraan. Penghasilan dapat habis untuk konsumsi jangka pendek yang tidak meninggalkan jejak kekayaan. Karena itu, fenomena fake rich middle menjadi peringatan bahwa kemakmuran tidak bisa diukur dari apa yang tampak di permukaan.

Di sisi lain, kelas menengah yang kuat—yang kerap menjadi tulang punggung stabilitas ekonomi nasional sebagaimana terlihat di negara-negara maju—dibangun di atas kemampuan membentuk aset, mengelola risiko, dan menjaga keberlanjutan finansial dalam jangka panjang. Karena itu, solusi tidak bisa dibebankan pada individu semata. Pemerintah didorong memperluas edukasi literasi keuangan yang lebih kontekstual dan relevan bagi generasi muda. Industri keuangan juga dinilai perlu mendorong akses pada produk investasi yang sederhana dan terjangkau, bukan hanya konsumsi berbasis utang. Sementara itu, perubahan cara pandang juga dibutuhkan: tidak semua hal harus ditampilkan, dan tidak semua standar di media sosial harus diikuti.

Generasi yang tumbuh dengan smartphone memiliki akses informasi yang besar. Namun, akses tersebut kerap lebih banyak digunakan untuk mengkurasi citra diri ketimbang membangun kapasitas finansial. Ketika krisis ekonomi datang, ketahanan bukan ditentukan oleh siapa yang terlihat paling mewah, melainkan siapa yang memiliki fondasi paling kuat. Pada akhirnya, ukuran ketahanan seseorang bukan seberapa glamor penampilan, tetapi seberapa bijak ia mengelola apa yang dimilikinya.