BERITA TERKINI
Empat Dosen UMY Lolos Pendanaan RISPRO LPDP untuk Riset Siap Hilirisasi

Empat Dosen UMY Lolos Pendanaan RISPRO LPDP untuk Riset Siap Hilirisasi

Empat dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dinyatakan lolos pendanaan program Riset Inovasi Produktif (RISPRO) Invitasi Berkemajuan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Capaian ini disebut memperkuat arah riset UMY yang semakin berorientasi pada hilirisasi serta pemanfaatan hasil riset bagi masyarakat.

Keempat dosen tersebut adalah Dr. dr. Meiky Fredianto, Sp.OT., Subsp. CO(K)., AIFO-K., FICS; Prof. Erna Rochmawati, S.Kp., MNSc., M.Med.Ed., Ph.D.; Winny Setyonugroho, S.Ked., M.T., Ph.D.; serta Prof. Dr. Adhianty Nurjanah, S.Sos., M.Si.

Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian UMY, apt. RR. Sabtanti Harimurti, M.Sc., Ph.D., mengatakan UMY aktif mengidentifikasi dosen-dosen yang risetnya telah berada pada tahap terapan dan pengembangan sehingga berpotensi kuat untuk dihilirisasi.

Menurut Sabtanti, dari proses identifikasi terkumpul 32 proposal. Namun, LPDP menetapkan UMY hanya dapat mengirimkan 20 proposal, sehingga seleksi internal dilakukan secara ketat. Ia menyebut penilaian tidak hanya pada substansi riset, tetapi juga kesiapan administrasi, keberadaan mitra, serta skema pendanaan bersama.

Sabtanti menjelaskan, empat riset yang lolos berasal dari bidang-bidang strategis. Tiga riset berada pada bidang kesehatan, sementara satu riset lainnya pada bidang rekayasa dan teknologi digital. Seluruhnya telah memiliki paten dan dinilai siap memasuki tahap hilirisasi.

“Yang menjadi kunci utama adalah kesiapan riset. LPDP mensyaratkan riset yang benar-benar siap dihilirisasi dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Proposal yang masih berada pada tahap awal pengembangan memang tidak lolos. Empat riset ini sudah memiliki mitra dan paten, sehingga tinggal uji coba dan penerapan,” ujar Sabtanti.

Ia menambahkan, capaian tersebut sejalan dengan visi UMY sebagai Entrepreneurial University, di mana riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi diarahkan untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Meski demikian, Sabtanti menegaskan tidak semua riset harus dipaksakan untuk langsung menjadi produk. Riset dasar tetap dinilai penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, ia berharap setiap dosen memiliki peta jalan riset yang jelas hingga mengarah pada hilirisasi.

“Tidak semua riset bisa langsung dihilirisasi. Riset dasar tetap penting. Tetapi idealnya, setiap dosen memiliki pemikiran jangka panjang bahwa risetnya suatu saat dapat menjadi produk, model, atau kebijakan yang bermanfaat. Di UMY, riset telah dipola melalui klaster, subklaster, dan anchor, sehingga arah pengembangannya jelas dan terukur,” kata Sabtanti.

UMY berharap keberhasilan ini tidak hanya menjadi capaian individual, tetapi turut memperkuat ekosistem riset kampus yang berorientasi pada inovasi, kolaborasi, serta dampak nyata bagi masyarakat.