BERITA TERKINI
Ekonomi Kaltim Tumbuh 4,35% hingga Triwulan III 2025, Melambat akibat Perlambatan Tambang dan Ekspor

Ekonomi Kaltim Tumbuh 4,35% hingga Triwulan III 2025, Melambat akibat Perlambatan Tambang dan Ekspor

Ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) hingga Triwulan III 2025 mencatat pertumbuhan 4,35%, melambat dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai 6,17%. Laju ini juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi regional Kalimantan yang tumbuh 4,65% sampai Triwulan III 2025, turun dari 5,2% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, menjelaskan perlambatan pertumbuhan ekonomi Kaltim terutama dipengaruhi tertahannya kinerja sektor pertambangan dan ekspor, seiring melemahnya permintaan batubara dari negara mitra dagang. Penjelasan itu disampaikan dalam sesi tanya jawab dengan wartawan pada kegiatan Temu Media, Rabu (21/1/2026).

Menurut Budi, selama ini pertumbuhan ekonomi regional Kalimantan sangat bergantung pada kinerja ekonomi Kaltim. “Pertumbuhan ekonomi regional Kalimantan selama ini sangat bergantung pada ekonomi Kaltim. Apabila pertumbuhan ekonomi Kaltim turun, dengan sendirinya angka pertumbuhan ekonomi Kalimantan turun juga,” katanya.

Meski pertumbuhan melambat, Kaltim disebut masih memegang pangsa ekonomi tertinggi di antara provinsi-provinsi di Kalimantan. Budi menilai kondisi itu ditopang sektor sekunder yang tetap kuat menopang perekonomian daerah.

Dari sisi lapangan usaha, pertambangan masih menjadi penopang terbesar ekonomi Kaltim pada 2025, meski pertumbuhannya tertahan. Hingga Triwulan III 2025, produksi pertambangan batubara tercatat menurun -0,32% akibat permintaan negara mitra dagang yang lesu, di tengah peningkatan produksi domestik negara mitra dan penurunan kebutuhan seiring peralihan ke energi terbarukan.

Di sisi lain, sejumlah sektor menunjukkan kinerja yang lebih baik. Kinerja industri migas meningkat 12,48% seiring peningkatan kapasitas kilang (refinery) dan kembali optimalnya produksi setelah plant stop revamp pada 2024. Selain itu, terdapat penambahan sejumlah industri baru yang mulai beroperasi pada 2025.

Lapangan usaha pertanian juga mencatat perkembangan, antara lain melalui peningkatan 7,49% luas panen kebun kelapa sawit yang didorong produktivitas lebih baik akibat pemupukan pada 2024 yang berdampak pada 2025. Subsektor kehutanan turut meningkat seiring naiknya permintaan industri kayu dari Amerika Serikat.

Aktivitas perdagangan pada Triwulan III 2025 tumbuh 10,24% seiring berlanjutnya berbagai festive event sepanjang 2025 serta adanya penambahan gerai ritel di Kaltim.

Dari sisi pengeluaran, Budi menyebut ekspor masih menjadi penopang terbesar ekonomi Kaltim pada 2025, meski pertumbuhannya termoderasi dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga Triwulan III 2025, permintaan batubara dan komoditas utama lain seperti CPO dari negara mitra dagang disebut lesu seiring gejolak ekonomi global.

Investasi swasta, baik asing maupun domestik, masih tumbuh positif sejalan dengan target investasi Kaltim yang lebih tinggi dibanding realisasi 2024. Namun, pertumbuhannya dinilai termoderasi karena belanja modal pemerintah sempat tertahan akibat kebijakan efisiensi anggaran.

Konsumsi rumah tangga tetap tinggi, didorong pelaksanaan berbagai festive event pada 2025 serta kenaikan UMR Kaltim di awal 2025 yang menjaga daya beli masyarakat. Sementara itu, efisiensi anggaran menahan belanja pemerintah, terutama pada belanja pegawai seperti perjalanan dinas dan kegiatan seremonial.

Impor Kaltim masih cukup kuat ditopang impor migas dan barang konsumsi. Namun, pertumbuhannya juga termoderasi akibat tertahannya impor barang modal dan konstruksi.

Terkait pembangunan, Budi menyebut proyek pemerintah dan swasta pada Triwulan III 2025 masih berlanjut, tetapi dengan progres yang termoderasi 0,72%, terutama di Ibu Kota Nusantara (IKN), sejalan dengan penurunan pagu yang mencapai 30–40% (year on year).