BERITA TERKINI
Ekonom Proyeksikan IHSG Berpotensi ke 10.000 atau Turun ke 7.500 dengan Volatilitas Tinggi pada 2026

Ekonom Proyeksikan IHSG Berpotensi ke 10.000 atau Turun ke 7.500 dengan Volatilitas Tinggi pada 2026

Jakarta — Ekonom dan praktisi pasar modal Hans Kwee memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menghadapi volatilitas tinggi sepanjang 2026. Menurut dia, terdapat dua kemungkinan arah pergerakan IHSG dalam 12 bulan ke depan, yakni menguat menembus level 10.000 atau melemah hingga 7.500.

“Fluktuasi pasar saham akan sangat tinggi di 2026. Arah IHSG itu menuju 10.000, biarpun dengan bear case itu ke 7.500 dalam 12 bulan ke depan. Tapi arahnya naik dengan volatilitas yang sangat tinggi,” ujar Hans dalam acara “Edukasi Wartawan terkait Arah IHSG di Tengah Tensi Geopolitik dan Potensi Bubble AI” di Jakarta, Jumat.

Dari sisi sentimen jangka pendek, Hans menilai keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan berpengaruh besar terhadap sikap pelaku pasar, terutama investor asing, terhadap pasar saham Indonesia. Saat ini, MSCI tengah mengkaji perubahan metodologi perhitungan free float emiten di Indonesia. Hasil kajian tersebut dijadwalkan diumumkan sebelum 30 Januari 2026, dan apabila diberlakukan, akan mulai diterapkan pada saat review indeks MSCI pada Mei 2026.

Hans menyoroti rencana perubahan tersebut, termasuk wacana menghilangkan PT (Perseroan Terbatas) dalam perhitungan free float. “Yang kita cermati dalam jangka pendek adalah rencana perubahan perhitungan free float oleh MSCI terhadap pasar saham khusus Indonesia, di mana salah satunya adalah menghilangkan PT (Perseroan Terbatas) dalam perhitungan free float,” katanya.

Ia menilai rencana itu kurang tepat karena PT sebagai investor seharusnya tetap masuk kategori investor publik selama bukan pengendali perusahaan tempat mereka berinvestasi. Meski demikian, Hans memperkirakan MSCI tidak akan menerapkan perubahan mekanisme perhitungan free float tersebut untuk Indonesia pada pengumuman akhir Januari 2026. “Tapi, kami perkirakan MSCI tidak akan melakukan perubahan mekanisme perhitungan free flow Indonesia pada pengumuman dia di akhir Januari,” ujarnya.

Untuk sentimen jangka panjang, Hans menyebut volatilitas IHSG masih akan dipengaruhi tensi geopolitik global, terutama terkait keputusan-keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Faktor lain yang dinilai memengaruhi adalah arah kebijakan suku bunga global serta kekhawatiran potensi bubble Artificial Intelligence (AI), yang menurutnya tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Dari sisi domestik, ia mengatakan kebijakan fiskal akan menjadi perhatian pasar. Ia menyinggung APBN 2025 yang telah mencatat defisit 2,92 persen terhadap PDB atau mendekati batas 3 persen sebagaimana ditetapkan undang-undang.

Di tengah potensi volatilitas pada 2026, Hans masih melihat sejumlah sektor yang dinilai menarik untuk dicermati pelaku pasar, mulai dari saham berkapitalisasi besar (big cap), sektor konsumer, hingga komoditas. “Rekomendasi kami, kami masih melihat saham big cap menarik, sektor konsumer bagus, energi dan batu bara akan cenderung bagus, dan kemudian komoditas emas dan mining yang terkait nikel, timah, dan lain-lain itu cenderung bagus di tahun 2026,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (23/01) sore, IHSG ditutup melemah 41,16 poin atau 0,46 persen ke posisi 8.951,00. Indeks LQ45 turun 1,51 poin atau 0,17 persen ke posisi 873,59.

Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 3.319.645 kali transaksi, dengan volume 64,15 miliar saham dan nilai transaksi Rp32,04 triliun. Sebanyak 191 saham menguat, 495 saham melemah, dan 118 saham tidak bergerak.