BERITA TERKINI
Ekonom Komal Sri-Kumar Peringatkan Risiko Stagflasi Global, 2026 Disebut Berpotensi Jadi Krisis Terburuk

Ekonom Komal Sri-Kumar Peringatkan Risiko Stagflasi Global, 2026 Disebut Berpotensi Jadi Krisis Terburuk

JAKARTA — Ekonom global Komal Sri-Kumar memperingatkan bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi periode krisis ekonomi terburuk dalam 50 tahun terakhir, dengan hanya sedikit aset yang dinilai mampu bertahan di tengah tekanan stagflasi global.

Peringatan itu disampaikan Sri-Kumar, Presiden Sri-Kumar Global Strategies—firma riset ekonomi dan geopolitik berbasis di Amerika Serikat—dalam wawancara yang dipublikasikan di kanal YouTube David Lin pada 19 Desember.

Dalam wawancara tersebut, Sri-Kumar menilai perekonomian dunia bergerak menuju stagflasi, yakni kombinasi inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi, dengan tingkat keparahan yang mengingatkan pada situasi era 1970-an. Kondisi ini diperkirakan memberi tekanan signifikan terhadap perekonomian global, terutama pasar tenaga kerja.

Ia memproyeksikan inflasi pada 2026 akan bertahan di atas 3%, disertai meningkatnya risiko resesi yang dikaitkan dengan kebijakan tarif perdagangan serta melemahnya permintaan global.

Dari sisi pasar keuangan, Sri-Kumar menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang yang mencerminkan ekspektasi investor bahwa inflasi akan tetap tinggi, meski Federal Reserve mulai memangkas suku bunga jangka pendek. Kurva imbal hasil yang menanjak, menurutnya, berpotensi mendorong kenaikan suku bunga kredit perumahan dan pada akhirnya menekan belanja konsumen.

Sri-Kumar juga menilai tantangan kebijakan moneter kian besar karena mandat ganda Federal Reserve—menjaga stabilitas inflasi dan tingkat pengangguran rendah—semakin sulit dicapai secara bersamaan. Ketidakpastian meningkat setelah bank sentral AS memberi sinyal kesiapan memangkas suku bunga meski data ketenagakerjaan masih terlihat solid, dengan alasan adanya keraguan terhadap keakuratan data resmi.

Menurutnya, pengambilan kebijakan moneter yang lebih bertumpu pada intuisi ketimbang data yang solid berisiko menggerus kepercayaan pasar terhadap bank sentral AS.

Dari sisi fiskal, Sri-Kumar menyinggung defisit anggaran AS yang diperkirakan sekitar 6,5% dari PDB, ditambah rencana pemangkasan pajak dan peningkatan belanja, yang dinilai berpotensi memperparah tekanan inflasi. Ia membandingkan situasi tersebut dengan kondisi yang memicu lonjakan inflasi pada periode 2020–2022.

Pandangan kehati-hatian juga disampaikan analis lain, Henrik Zeberg, yang menilai Federal Reserve mengabaikan sejumlah sinyal yang mengarah pada perlambatan ekonomi tajam.

Selain risiko makroekonomi, Sri-Kumar menyoroti tantangan struktural bagi dunia usaha, khususnya dampak kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi yang dinilai dapat menghilangkan lapangan kerja secara permanen, terutama bagi pekerja muda.

Untuk langkah antisipasi, Sri-Kumar menyarankan investor mempertimbangkan aset lindung nilai, terutama logam mulia. Ia mencatat harga emas dan perak telah naik signifikan sepanjang 2025 seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian global. Sri-Kumar bahkan memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$5.000 per ons pada akhir 2026.

Sementara itu, mata uang alternatif seperti yen Jepang dinilai kurang ideal sebagai aset lindung nilai karena keterbatasan likuiditas, kontrol modal, serta tantangan struktural ekonomi Jepang. Sebagai alternatif, ia menyarankan aset riil, termasuk properti, sebagai bagian dari strategi diversifikasi.

Sri-Kumar menutup dengan menegaskan bahwa elemen pembentuk stagflasi kini telah terlihat, dan krisis yang diperkirakan terjadi pada 2026 berpotensi berdampak luas—mulai dari konsumen hingga investor—seiring perang dagang global yang diperkirakan tetap menjadi isu utama.