PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) disebut tengah memasuki fase transformasi melalui perbaikan neraca, penyegaran manajemen, dan kelanjutan ekspansi. Seiring prospek kenaikan harga crude palm oil (CPO) global, rangkaian langkah tersebut dinilai dapat menjadi momentum bagi kinerja dan prospek saham perseroan pada tahun ini.
Analis Samuel Sekuritas, Anhaf Yassar dan Juan Harahap, menyampaikan bahwa Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BWPT pekan lalu memutuskan penunjukan dua komisaris dari FELDA serta satu komisaris independen untuk memperkuat arah strategi perusahaan ke depan.
Dalam riset yang diterbitkan di Jakarta pada Kamis (15/1/2026), Samuel Sekuritas menilai transformasi itu berpotensi membuka kenaikan valuasi seiring proses deleveraging dan rencana kuasi reorganisasi. Kuasi reorganisasi tersebut ditargetkan menghapus rugi akumulasi sebesar Rp 3,9 triliun, yang diperkirakan dapat memulihkan kemampuan perseroan untuk menyalurkan dividen kepada pemegang saham.
BWPT, yang dikendalikan Rajawali Group bersama FELDA, menargetkan penurunan total utang berbunga dari Rp 4,4 triliun pada 2024 menjadi Rp 2,9 triliun pada 2027. Samuel Sekuritas memproyeksikan rasio gearing bersih turun dari 180% menjadi 73%. Dari sisi operasional, perseroan juga berfokus meningkatkan kapasitas pabrik guna memperkuat profitabilitas.
Berdasarkan pertimbangan akselerasi margin, potensi pemulihan dividen, serta perbaikan struktur modal, Samuel Sekuritas merekomendasikan beli saham BWPT dengan target harga Rp 450. Target ini disebut merefleksikan potensi kenaikan 210%, dengan valuasi EV/ha 2026 setara US$14.000 per hektare atau sejalan dengan rata-rata sektor.
Dari sisi produksi, Samuel Sekuritas menilai Eagle High bersiap memasuki siklus kenaikan produktivitas multi-tahun. Program penanaman dan replanting diproyeksikan menurunkan rata-rata umur tanaman dari 18 tahun menjadi 15–16 tahun pada 2029, yang diharapkan mendorong peningkatan produksi tandan buah segar (TBS) serta stabilisasi oil extraction rate (OER).
Perusahaan juga melanjutkan ekspansi pabrik di Bangkirai serta pembangunan fasilitas baru di Papua dan Kalimantan Timur. Ekspansi ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pabrik menjadi 400 ton per jam pada 2028, dari posisi tahun lalu 370 ton per jam.
Di sisi pasar, Samuel Sekuritas memperkirakan terbentuk keseimbangan baru pada pasar CPO global yang dapat mendorong re-rating sektor. Mereka menyebut program biodiesel Indonesia, ditambah pasokan global yang ketat akibat penurunan hasil panen, mendorong harga CPO rata-rata 2025 naik 1,6% secara tahunan menjadi MYR 4.267 per ton, setelah melonjak 10,1% secara tahunan pada 2024.
Selain itu, BWPT disebut didukung penguatan posisi sebagai produsen CPO premium melalui sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Saat ini, empat dari tujuh pabrik perseroan telah memenuhi standar RSPO. Perusahaan menargetkan penambahan satu pabrik bersertifikasi RSPO setiap tahun dan mengincar sertifikasi penuh pada 2027. Langkah ini dipandang strategis untuk mengamankan penjualan jangka panjang seiring meningkatnya permintaan global atas CPO bersertifikasi dari regulator hingga perusahaan FMCG.

