Dalam beberapa tahun terakhir, situasi global kerap terasa jauh dari tenang. Krisis datang silih berganti, ketegangan geopolitik meningkat, pasar keuangan lebih rentan, dan arah ekonomi dunia terlihat tidak berirama. Namun dalam praktik pengambilan keputusan, banyak model ekonomi dan kebijakan masih disusun seolah-olah dunia akan segera kembali ke kondisi “normal”, dengan asumsi berbagai variabel dapat dianggap tetap atau ceteris paribus.
Asumsi tersebut sering kali tidak dinyatakan secara terbuka. Ia bisa hadir dalam target ekonomi, proyeksi pembangunan, maupun rancangan kebijakan yang tampak masuk akal di atas kertas. Ketidakpastian kerap diperlakukan sebagai gangguan sementara, sementara guncangan besar dianggap pengecualian. Padahal, rangkaian peristiwa belakangan menunjukkan ketidakpastian justru menjadi bagian yang melekat.
Laporan World Economic Outlook Update Dana Moneter Internasional (IMF) yang dirilis pada Januari 2026 memperkirakan pertumbuhan ekonomi global berada di kisaran 3,2–3,3 persen pada 2026, lalu melemah tipis menjadi sekitar 3,1–3,2 persen pada 2027. Angka ini tampak cukup baik jika dilihat sekilas, tetapi dinilai masih jauh dari gambaran dunia yang stabil dan tumbuh kuat seperti satu dekade sebelumnya.
Sejumlah analisis lain bahkan menempatkan proyeksi pertumbuhan global lebih hati-hati, sekitar 2,5–3,0 persen. Perkiraan ini bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari potensi eskalasi konflik geopolitik, arah kebijakan moneter negara-negara besar, hingga kondisi perdagangan internasional.
Di tengah proyeksi tersebut, persoalan yang disorot bukan semata angka pertumbuhan, melainkan asumsi di baliknya. Banyak model ekonomi dan kebijakan masih dibangun dengan anggapan bahwa kondisi bergejolak hanya bersifat sementara—seolah setelah satu atau dua tahun, semuanya akan kembali ke jalur lama: pertumbuhan stabil, pasar tenang, dan risiko dapat dihitung dengan model yang rapi.
Padahal, guncangan yang terjadi belakangan tidak lagi tampak sebagai peristiwa langka dan terpisah. Berbagai risiko saling terkait: konflik di satu kawasan dapat memengaruhi rantai pasok global, sementara kebijakan suku bunga di satu negara bisa berdampak cepat ke negara lain. Risiko yang sebelumnya terasa jauh kini kian dekat dan langsung berhadapan dengan banyak negara.
Untuk Indonesia, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,0–5,3 persen pada 2026–2027. Proyeksi ini tergolong solid dibanding banyak negara lain. Namun, proyeksi itu juga dibangun dengan asumsi bahwa tekanan global dapat dikelola dan tidak berubah secara ekstrem.
Di sinilah letak ketegangannya: ketika dunia bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan, rencana yang terlalu bertumpu pada stabilitas global menjadi rentan. Kerentanannya bukan semata karena data yang keliru, melainkan karena asumsi yang terlalu optimistis—seolah normalitas lama masih bisa dijadikan acuan utama.
Ketidakselarasan ini terasa jelas di sektor keuangan. Risiko dapat dimodelkan, angka disusun, dan skenario dibuat secara sistematis. Namun ketidakpastian yang terus berubah sering kali sulit diterjemahkan menjadi rumus matematis. Dalam situasi tertentu, angka justru berisiko dipakai untuk menenangkan kegelisahan, bukan untuk benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.
Pola serupa juga muncul dalam kebijakan publik. Indikator kinerja disusun rapi, target ditetapkan jelas, dan evaluasi dibuat berbasis angka sehingga tampak objektif. Masalahnya muncul ketika indikator dan target itu dibangun dengan asumsi dunia yang stabil. Akibatnya, kebijakan menjadi kurang peka terhadap perubahan yang bersifat struktural.
Rangkaian perkembangan ini memperlihatkan tantangan yang lebih besar: dunia yang terus bergerak dicoba dipahami dengan kerangka berpikir yang dirancang untuk kondisi yang relatif stabil. Ketika normalitas tidak lagi menjadi patokan yang dapat diandalkan, asumsi-asumsi lama dalam model pengambilan keputusan pun ikut dipertanyakan.

