Nilai tukar dolar AS menguat pada perdagangan Kamis, ditopang naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS serta meredanya spekulasi pasar mengenai peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Indeks dolar (DXY) tercatat naik ke level tertinggi dalam 2,75 bulan dan ditutup menguat 0,29%.
Penguatan dolar sejalan dengan kenaikan imbal hasil US Treasury, terutama tenor 10 tahun yang naik ke level tertinggi dalam sekitar 2,5 minggu. Dolar juga mendapat dukungan dari pernyataan bernada hawkish Ketua The Fed Jerome Powell pada Rabu, yang menyebut pemotongan suku bunga pada rapat FOMC Desember “bukanlah hal yang pasti.”
Dari sisi sentimen global, meredanya ketegangan dagang AS–China turut memperbaiki prospek pertumbuhan ekonomi. Hal ini menyusul kesepakatan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk memperpanjang gencatan tarif, menarik kembali kontrol ekspor, serta mengurangi hambatan perdagangan lainnya.
Meski demikian, dolar masih menghadapi tekanan dari berlanjutnya shutdown pemerintah AS. Semakin lama shutdown berlangsung, semakin besar risiko dampaknya terhadap perekonomian AS dan semakin besar pula peluang The Fed perlu memangkas suku bunga.
Pasar saat ini memperhitungkan peluang 72% bahwa FOMC akan memangkas target kisaran suku bunga fed funds sebesar 25 basis poin pada rapat 9–10 Desember. Sementara itu, ekspektasi pasar mencerminkan total pemangkasan suku bunga sekitar 82 basis poin hingga akhir 2026, yang diproyeksikan membawa suku bunga ke 3,06% dari tingkat dana federal efektif saat ini 3,88%.
Di pasar valuta asing utama, pasangan EUR/USD turun ke level terendah dua minggu dan ditutup melemah 0,32% pada Kamis, terbebani penguatan dolar. Euro sempat memangkas pelemahan setelah Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga, sementara sejumlah data ekonomi kawasan tersebut keluar lebih kuat dari perkiraan.
Produk domestik bruto (PDB) Zona Euro pada kuartal III tercatat naik 0,2% secara kuartalan (q/q) dan 1,3% secara tahunan (y/y), lebih tinggi dari perkiraan 0,1% q/q dan 1,2% y/y. Indikator sentimen ekonomi Oktober juga naik 1,2 poin menjadi 96,8, tertinggi dalam 2,5 tahun dan melampaui ekspektasi 96,0.
Dari Jerman, inflasi CPI Oktober (harmonisasi Uni Eropa) naik 0,3% secara bulanan (m/m) dan 2,3% secara tahunan (y/y), juga lebih kuat dari perkiraan 0,2% m/m dan 2,2% y/y. ECB mempertahankan suku bunga fasilitas deposit di 2,00%.
Presiden ECB Christine Lagarde turut menyampaikan pandangan optimistis dengan menyebut kesepakatan perdagangan Uni Eropa dengan AS, gencatan senjata di Timur Tengah, serta kemajuan hubungan China–AS telah “mengurangi risiko penurunan pertumbuhan.” Pasar swap memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga ECB sebesar 25 basis poin pada rapat 18 Desember hanya sekitar 5%.
Di Asia, dolar menguat tajam terhadap yen. USD/JPY naik 0,87% pada Kamis, sementara yen melemah ke level terendah 8,5 bulan setelah Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga. BOJ mempertahankan target suku bunga kebijakan di 0,50%.
Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengatakan bank sentral menahan suku bunga karena ingin melihat lebih banyak data mengenai perilaku penetapan upah domestik, sementara ketidakpastian di ekonomi luar negeri masih tinggi. BOJ juga menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB Jepang 2025 menjadi 0,7% dari sebelumnya 0,6%, serta mempertahankan proyeksi CPI inti 2025 di 2,7%.
Sementara itu, harga logam mulia ditutup menguat setelah sempat tertekan oleh penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi global. Emas COMEX Desember ditutup naik 15,20 poin (0,38%), sedangkan perak COMEX Desember menguat 0,703 poin (1,47%).
Kenaikan harga emas turut didukung pembelian bank sentral yang lebih kuat. World Gold Council melaporkan bank sentral global membeli 220 metrik ton (MT) emas pada kuartal III, naik 28% dibanding kuartal II. Total pembelian emas bank sentral tahun ini hingga September mencapai 634 MT.
Perak juga terbantu oleh indikasi kekuatan ekonomi yang mendukung permintaan logam industri, seiring data PDB Zona Euro yang lebih baik dari perkiraan. Selain itu, meredanya ketegangan dagang AS–China dinilai dapat memperkuat prospek pertumbuhan dan permintaan logam industri.
Namun, sejumlah faktor tetap membatasi penguatan logam mulia, termasuk berkurangnya permintaan aset aman seiring meredanya ketegangan dagang serta tekanan dari pernyataan Powell yang menyebut pemangkasan suku bunga Desember tidak pasti. Likuidasi posisi beli sejak emas mencetak rekor tertinggi awal bulan ini juga disebut membebani harga, ditambah reli S&P 500 yang mencetak rekor baru dan menekan permintaan safe-haven.
Di sisi lain, logam mulia masih memiliki dukungan safe-haven mendasar di tengah shutdown pemerintah AS yang berlanjut, ketidakpastian tarif AS, risiko geopolitik, pembelian bank sentral, serta tekanan politik terhadap independensi The Fed. Data ekonomi AS yang belakangan lebih lemah dari perkiraan juga memperkuat pandangan bahwa The Fed masih berpeluang melanjutkan pemangkasan suku bunga, yang umumnya menjadi faktor positif bagi emas dan perak.

