Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama pada Senin dalam perdagangan yang fluktuatif, menjelang pekan yang dipenuhi agenda rapat bank sentral. Fokus utama pasar tertuju pada Federal Reserve (The Fed), di mana pemangkasan suku bunga sudah diperhitungkan, namun investor bersiap menghadapi sinyal bahwa siklus pelonggaran ke depan bisa lebih ringan dari perkiraan.
Selain The Fed yang dijadwalkan mengumumkan keputusan pada Rabu, bank sentral Australia, Brasil, Kanada, dan Swiss juga menggelar rapat kebijakan. Meski demikian, pasar secara umum tidak memperkirakan pertemuan-pertemuan tersebut akan menghasilkan perubahan kebijakan moneter.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) diperkirakan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,50%–3,75%. Jika terwujud, langkah ini akan menjadi pelonggaran moneter untuk pertemuan ketiga berturut-turut. Sejumlah analis menilai arah komunikasi The Fed—melalui pernyataan, proyeksi median, dan konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell—akan menunjukkan standar yang lebih tinggi untuk pemangkasan suku bunga berikutnya.
Menurut Juan Perez, direktur perdagangan Monex USA di Washington, dalam kondisi ekonomi yang tidak terpuruk dan inflasi yang relatif terkendali, The Fed dapat memangkas suku bunga tanpa harus menjanjikan langkah lanjutan. Ia juga menilai kondisi saat ini tampak seperti periode stagflasi, yang dapat memunculkan pandangan beragam di antara para pembuat kebijakan.
Indeks dolar tercatat naik 0,1% ke level 99,07. Terhadap franc Swiss, dolar AS menguat 0,2% menjadi 0,8066 franc.
Pasar juga mencermati potensi perbedaan pendapat di internal FOMC. Kepala strategi makro pasar BNY, Bob Savage, memperkirakan akan muncul dissent baik dari kubu yang lebih hawkish maupun dovish. FOMC belum pernah mencatat tiga atau lebih perbedaan pendapat dalam satu rapat sejak 2019, dan kondisi itu hanya terjadi sembilan kali sejak 1990.
Meski dolar melemah dalam tiga pekan terakhir, sebagian pelaku pasar kembali menunjukkan optimisme. Data posisi mingguan menunjukkan spekulan mempertahankan posisi beli terbesar mereka—yang mengasumsikan dolar akan naik—sejak sebelum pengumuman tarif “Hari Pembebasan” Presiden Donald Trump pada awal April, yang sempat menekan mata uang AS.
Sejumlah analis menilai dukungan terhadap dolar datang dari kombinasi pasar tenaga kerja yang melemah namun pertumbuhan yang masih terjaga, perkiraan dampak stimulus dari “One Big Beautiful Bill” Trump yang mulai terasa, serta inflasi yang dinilai masih jauh di atas target 2% bank sentral.
Di sisi lain, yen melemah setelah gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter mengguncang wilayah timur laut Jepang pada Senin malam, memicu peringatan tsunami dan perintah evakuasi. Dolar AS naik 0,3% terhadap yen menjadi 155,97 yen, sementara euro menguat 0,3% menjadi 181,42 yen.
Pelaku pasar menilai, bergantung pada tingkat kerusakan, Bank of Japan (BOJ) berpotensi menunda kenaikan suku bunga yang sebelumnya diperkirakan terjadi pekan depan. Pertemuan kebijakan moneter BOJ berikutnya dijadwalkan pada 18–19 Desember 2025, dengan keputusan dan pernyataan kebijakan diharapkan pada hari kedua.
Di Eropa, euro sedikit melemah ke US$1,1639 setelah sebelumnya didukung kenaikan imbal hasil obligasi zona euro. Imbal hasil obligasi 30 tahun Jerman sempat menyentuh level tertinggi sejak 2011 pada awal perdagangan. Berbeda dengan The Fed, Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan tidak akan memangkas suku bunga lagi tahun depan. Pembuat kebijakan ECB Isabel Schnabel pada Senin menyatakan langkah berikutnya bahkan bisa berupa kenaikan suku bunga.
Di pasar mata uang lain, dolar Australia sempat menyentuh US$0,6649—tertinggi sejak pertengahan September—sebelum turun dan terakhir diperdagangkan melemah 0,3% pada US$0,6621. Reserve Bank of Australia dijadwalkan bertemu pada Selasa setelah rilis sejumlah data penting terkait inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan pengeluaran rumah tangga. Kontrak berjangka mengindikasikan langkah berikutnya adalah kenaikan suku bunga, yang disebut bisa terjadi paling cepat pada Mei.
Bank of Canada juga diperkirakan mempertahankan suku bunga pada Rabu, sementara kenaikan suku bunga diproyeksikan terjadi pada Desember 2026. Dolar Kanada melemah, dengan dolar AS naik 0,3% menjadi C$1,3850. Mata uang Kanada sempat mencapai level tertinggi 10 pekan pada Jumat setelah data ketenagakerjaan yang kuat.
Sementara itu, pound sterling bertahan di sekitar US$1,3327 terhadap dolar AS dan relatif datar pada hari tersebut.

