Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat pagi WIB), didorong meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven serta penutupan lindung nilai oleh investor non-residen.
Indeks dolar, yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat naik 0,21% menjadi 97,824.
Di pasar New York, euro melemah ke level USD1,1794 dari USD1,1809 pada sesi sebelumnya. Poundsterling Inggris juga turun menjadi USD1,3549 dari USD1,3663.
Terhadap yen Jepang, dolar AS diperdagangkan pada 156,9 yen, sedikit lebih tinggi dibanding 156,82 yen pada sesi sebelumnya. Dolar juga menguat terhadap franc Swiss menjadi 0,7774 dari 0,7766.
Penguatan dolar AS turut terlihat terhadap dolar Kanada yang naik menjadi 1,3682 dari 1,3668. Sementara terhadap krona Swedia, dolar naik ke 9,0363 dari 8,9864.
Permintaan terhadap aset safe-haven meningkat di tengah eskalasi risiko geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak, serta potensi perlambatan ekonomi global. Situasi tersebut mendorong investor mencari instrumen yang dinilai lebih aman.
Di sisi lain, aksi jual emas dalam skala besar memunculkan keraguan atas kemampuan logam mulia itu menjalankan fungsi safe-haven, sehingga dolar AS dinilai menjadi pilihan yang tersisa bagi sebagian pelaku pasar.
Meski kepercayaan terhadap dolar disebut melemah akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump, pasar saham AS dinilai tetap sulit ditinggalkan. Pertumbuhan pendapatan perusahaan di AS dalam satu dekade terakhir disebut lebih cepat dibanding wilayah lain, sementara perusahaan teknologi AS dinilai memiliki sedikit pesaing yang sepadan di luar negeri.
Investor asing juga disebut melakukan lindung nilai atas risiko investasi di sekuritas AS dengan menjual dolar. Namun penurunan indeks S&P 500 mendorong keluarnya investor dari posisi beli saham dan memicu pembelian kembali dolar AS.

