Aspek keselamatan pertambangan disebut harus menjadi prioritas utama untuk mewujudkan keberlanjutan industri tambang nasional. Penerapan budaya keselamatan secara kolektif dinilai sejalan dengan prinsip environment, social, and governance (ESG) yang menjadi fondasi penting dalam pengelolaan kegiatan pertambangan berkelanjutan.
Inspektur Tambang Ahli Muda Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batu Bara Ditjen Minerba, Propana Okionomus Ali, menekankan pentingnya kesadaran seluruh pemangku kepentingan dalam membangun budaya keselamatan. Menurutnya, budaya keselamatan tidak hanya dibangun secara internal perusahaan, tetapi juga melibatkan pihak eksternal, termasuk masyarakat sekitar.
“Budaya keselamatan itu kolektif dari semua stakeholder. Mungkin saling mengingatkan ya. Budaya keselamatan dibangun baik secara internal maupun sampai stakeholder eksternalnya, yakni masyarakat sekitar melalui program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (PPM),” kata Propana dalam webinar Bulan K3 Nasional Pertambangan Tahun 2026, Kamis (22/1/2026).
Selain budaya keselamatan, Propana menyebut sistem manajemen keselamatan pertambangan (SMKP) sebagai elemen krusial yang perlu dijalankan secara konsisten oleh perusahaan tambang. Ia juga menyinggung adanya keluhan terkait keterbatasan auditor SMKP, namun menilai perusahaan dapat mengatasinya dengan membangun auditor internal.
“Jika perusahaan berkomitmen membangun auditor internal, yang paling diuntungkan adalah pekerja. Pekerja dibikin pintar untuk menjadi auditor,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), saat ini terdapat sekitar 1.600 auditor internal SMKP. Jumlah tersebut dinilai cukup apabila perusahaan memiliki komitmen untuk mencetak auditor dari internal tenaga kerjanya sendiri.
Propana turut mendorong para kepala teknik tambang (KTT) mempersiapkan pekerja untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) SMKP. Ia menilai komitmen keselamatan yang tercantum dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perlu diikuti program nyata, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Ia menambahkan, pelatihan dan sertifikasi pekerja tambang menjadi faktor penting untuk menekan risiko kecelakaan kerja. Di sisi lain, optimalisasi pembinaan dan pengawasan (Binwas) oleh Kementerian ESDM disebut sebagai elemen pendukung untuk memastikan penerapan keselamatan berjalan efektif di lapangan.
“Yang tidak kalah penting adalah penegakan disiplin. Disiplin merupakan bagian dari kontrol utama dalam sistem keselamatan pertambangan,” pungkasnya.

