Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pandeglang mulai melakukan evaluasi menyeluruh terhadap 17 desa wisata yang ada di wilayahnya. Evaluasi ini dilakukan untuk memetakan status masing-masing desa wisata, mulai dari kategori pemula, berkembang, maju, hingga mandiri.
Melalui pemetaan tersebut, pemerintah daerah menargetkan sedikitnya lima desa wisata dapat beroperasi secara maksimal dan profesional. Kepala Disparbud Pandeglang, Rahmat Zultika, mengatakan fokus evaluasi tidak hanya pada penentuan kategori, tetapi juga menanamkan pola pikir pengelolaan wisata yang benar kepada pengelola di tingkat desa.
Menurut Rahmat, penajaman status desa wisata penting agar pembangunan pariwisata tidak terpusat pada destinasi induk yang sudah mapan. Ia berharap keberadaan desa wisata yang berjalan baik dapat memperluas sebaran aktivitas pariwisata di Pandeglang.
“Kami berharap dari 326 desa, paling tidak ada lima desa wisata yang jalan. Jika sudah ada lima, itu akan muncul yang menghubungkan desa-desa wisata dengan wisata induk,” ujar Rahmat, Minggu, 25 Januari 2026.
Rahmat memproyeksikan, jika minimal lima desa wisata dapat mandiri, maka akan terbentuk travel pattern atau pola perjalanan wisatawan yang lebih terintegrasi. Dalam skema ini, destinasi utama seperti Tanjung Lesung dapat berperan sebagai wisata induk, sementara desa-desa wisata di sekitarnya menjadi satelit yang saling terhubung, seperti Desa Patinggi atau Desa Citeureup.
Disparbud mencatat saat ini terdapat tiga desa wisata yang sudah dapat dikategorikan mandiri dan menjadi perhatian khusus karena memiliki aktivitas dominan, yakni Desa Bandung di Kecamatan Banjar, Desa Sukarame di Kecamatan Carita, dan Desa Patinggi di Kecamatan Cigeulis.
Ketiga desa tersebut dinilai memiliki keunggulan kompetitif, antara lain pengenalan Ikan Mas Sinyonya, edukasi terumbu karang, serta wisata edukasi mangrove. Meski demikian, Rahmat mengakui tantangan terbesar pengembangan desa wisata masih berkaitan dengan konsistensi aktivitas dan kesiapan sumber daya manusia di tingkat desa.
“Kami akan bangun ini pelan-pelan. Di awal kita evaluasi dulu 17 desa yang ada bagaimana kedudukan mereka sekarang ini,” ucapnya.
Rahmat menambahkan, pengembangan pariwisata di tingkat desa kini diselaraskan dengan program Asta Cita yang menekankan pembangunan dari bawah. Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan strategi nasional untuk mendorong pemerataan ekonomi agar tidak terpusat di perkotaan.

