Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai kekuatan menengah (middle power) yang stabil di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.
Dalam forum tersebut, Airlangga memaparkan strategi pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa di tengah dominasi kekuatan besar dunia, Indonesia tetap konsisten menjalankan peran sebagai negara non-blok untuk menjaga keseimbangan kekuatan.
Airlangga juga mengutip pesan Presiden Prabowo bahwa dinamika global saat ini tidak lagi semata didasarkan pada ideologi ekonomi, melainkan pada realisme politik.
Menurut Airlangga, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan kondisi yang memperkuat resiliensi nasional. Ia menyebut Indeks Manajer Pembelian (PMI) berada di level ekspansi 52,6 pada Januari dan bertahan selama enam bulan terakhir. Kepercayaan konsumen juga disebut meningkat ke angka 123,5.
Dari sisi eksternal, pemerintah mencatat neraca perdagangan mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut dalam lima tahun terakhir. Sementara cadangan devisa berada di atas 142 miliar dolar AS dan dinilai cukup untuk membiayai impor lebih dari enam bulan.
Di sektor keuangan, Airlangga mengumumkan reformasi pasar modal yang berfokus pada empat pilar, yakni likuiditas, transparansi, tata kelola (governance), dan penegakan hukum (enforcement). Ia mengatakan respons positif pasar terlihat dengan kembalinya zona hijau pada lantai bursa.
Salah satu mesin pertumbuhan yang disoroti adalah program makan gratis yang ditargetkan menjangkau 83 juta orang pada akhir tahun. Airlangga memproyeksikan belanja program ini mencapai Rp80 triliun setiap kuartal dan berpotensi menciptakan sekitar tiga juta lapangan kerja baru. Ia menyebut program tersebut setara dengan kontribusi pertumbuhan sebesar 7 persen apabila rantai pasok berjalan efektif.
Dalam aspek kerja sama internasional, Airlangga menyampaikan Indonesia memperkuat kemitraan di berbagai sektor strategis. Di antaranya kolaborasi dengan Malaysia di sektor semikonduktor serta kerja sama dengan Russell Group untuk membangun 10 universitas baru yang berfokus pada bidang STEM dan kedokteran.
Di sektor energi hijau, Indonesia disebut akan memfinalisasi rencana ekspor energi hijau ke Singapura serta pengembangan hidrogen bersama Sarawak. Airlangga juga menyampaikan rencana penyepakatan sanksi dan kerja sama perdagangan melalui skema SEPA dengan Kanada, Uni Eropa, dan Eurasia, serta persiapan dengan Inggris dan Amerika Serikat.
Menutup pidatonya, Airlangga menekankan bahwa kekuatan sebuah negara ditentukan oleh empat faktor utama, yaitu ekonomi, militer, populasi, dan teknologi. Dengan fondasi tersebut, ia menyatakan Indonesia optimistis melangkah menuju visi Indonesia Emas 2045 melalui manufaktur bernilai tambah tinggi dan sektor jasa yang kuat.

