Desa Cibodas, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, bersiap memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata unggulan dengan menyusun strategi bisnis berbasis potensi alam dan pertanian. Berada di ketinggian 1.000–1.200 meter di atas permukaan laut, desa ini memiliki udara sejuk, bentang alam hutan lindung, serta komoditas labu siam yang dikenal luas.
Meski telah berstatus Desa Wisata Rintisan sejak Desember 2022, upaya optimalisasi potensi tersebut dinilai masih menghadapi tantangan, terutama pada aspek manajemen bisnis dan infrastruktur. Sejumlah kendala yang teridentifikasi di lapangan meliputi minimnya investor, terbatasnya wadah bagi kesenian lokal untuk menjadi daya tarik wisata, serta kurangnya pengetahuan dalam pengelolaan produk turunan pertanian.
Untuk menjawab tantangan itu, tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Telkom—Jurry Hatammimi, Lia Yuldinawati, dan Mohammad Tyas Pawitra—menggelar program pelatihan dan pendampingan penyusunan business plan bagi kelompok masyarakat. Program tersebut dilaksanakan di Kantor Desa Cibodas.
Menurut Jurry Hatammimi, salah satu fokus pembekalan adalah keterampilan merancang paket wisata yang menarik dan berkelanjutan. Melalui rencana bisnis yang disusun lebih matang, masyarakat diharapkan mampu melakukan riset pasar secara mandiri, menghitung proyeksi keuangan, serta menentukan strategi pemasaran yang efektif.
Dalam pengembangan ke depan, Desa Cibodas disebut memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai lokasi agrowisata, paralayang, off-road, hingga area camping ground. Namun, penguatan tata kelola dan perencanaan bisnis dipandang menjadi prasyarat agar potensi tersebut dapat dikelola secara terarah.
Kegiatan pelatihan dan pendampingan ini melibatkan sejumlah mitra strategis desa, antara lain Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), dan Karang Taruna Desa Cibodas. Para peserta dilatih dengan pendekatan partisipatif dan praktis, dengan materi yang disesuaikan dengan kondisi sumber daya setempat.
Dalam pembagian peran, Pokdarwis dan Karang Taruna diarahkan untuk membantu pengumpulan data potensi lokal dan riset pasar. Sementara BUMDES diposisikan sebagai pengelola utama yang akan mengimplementasikan rencana bisnis setelah divalidasi.
Program ini tidak berhenti pada tahap pelatihan. Tim pengabdian masyarakat juga merencanakan monitoring dan evaluasi pasca-implementasi untuk memastikan rencana bisnis dapat berjalan di lapangan. Upaya tersebut ditujukan untuk mendorong peningkatan taraf hidup masyarakat sekaligus menekan urbanisasi melalui pembukaan lapangan kerja di sektor pariwisata.
Dengan sinergi antara akademisi dan perangkat desa, Desa Cibodas menyatakan optimistis dapat mengubah potensi alam menjadi peluang ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan, sejalan dengan visi pengembangan eco-village.

