BERITA TERKINI
De-dollarization Dinilai Belum Mati, Namun Masih Rentan di Tengah Dominasi Dolar AS

De-dollarization Dinilai Belum Mati, Namun Masih Rentan di Tengah Dominasi Dolar AS

Jakarta — Wacana de-dollarization, yakni upaya mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat sebagai mata uang cadangan dan alat transaksi internasional, kembali menjadi sorotan dalam diskusi ekonomi global. Sejumlah analisis terbaru menilai tren tersebut belum berakhir, tetapi juga belum cukup kuat untuk menggeser posisi dolar secara mendasar.

Data terbaru menunjukkan aliran modal asing ke aset berbasis dolar AS mencapai US$ 212 miliar, level tertinggi yang pernah tercatat. Angka ini mengindikasikan minat terhadap aset AS masih tinggi, sehingga dominasi dolar dinilai belum tergeser secara fundamental. Meski demikian, kondisi de-dollarization disebut masih rapuh dan tidak konsisten sebagai tren dominan.

Secara historis, de-dollarization bukanlah fenomena baru. Sejak era Bretton Woods, dolar AS menempati posisi sentral dalam cadangan internasional dan perdagangan global. Sejumlah negara dan blok ekonomi memang memperluas kerja sama bilateral dengan mata uang selain dolar, namun perubahannya cenderung bersifat evolutif, bukan revolusioner.

Dalam beberapa dekade terakhir, porsi dolar dalam cadangan bank sentral global tercatat menurun dari sekitar 71% menjadi mendekati 58%. Namun penurunan itu berlangsung bertahap, menunjukkan bahwa pergeseran dominasi mata uang biasanya berjalan lambat dan kerap dipengaruhi peristiwa geopolitik tertentu, bukan perubahan pasar yang cepat.

Meski ada diversifikasi, dolar AS masih dipandang sebagai mata uang dominan dalam perdagangan internasional, cadangan devisa, dan likuiditas global. Ukuran ekonomi AS serta kedalaman pasar modalnya dinilai menciptakan permintaan yang stabil terhadap aset berbasis dolar, termasuk obligasi pemerintah AS. Karena itu, sejumlah analis menilai dominasi dolar tetap menjadi fondasi utama sistem keuangan global, sehingga de-dollarization tidak serta-merta mengakhiri peran dolar.

Faktor geopolitik dan kebijakan moneter juga disebut memengaruhi laju de-dollarization. Dorongan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar sering menguat sebagai respons terhadap kebijakan seperti sanksi atau tekanan perdagangan yang memanfaatkan dolar sebagai instrumen politik. Negara-negara BRICS—Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—misalnya, mendorong diversifikasi cadangan serta penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral. Namun, dampak langkah tersebut dinilai belum cukup signifikan untuk menggantikan dominasi dolar secara luas.

Bagi investor, terutama pada aset seperti cryptocurrency dan komoditas, realitas bahwa dolar masih dominan membuat arus modal global tetap banyak dipengaruhi kekuatan ekonomi AS dan kebijakan moneter Federal Reserve. Sentimen terhadap dolar dapat ikut memengaruhi pergerakan aset berisiko seperti saham, emas, dan crypto.

Di sisi lain, langkah negara dan bank sentral yang memperluas cadangan mata uang non-dolar menunjukkan diversifikasi tetap menjadi strategi jangka panjang, meski prosesnya lambat. Dalam konteks pasar crypto, narasi de-dollarization kerap dikaitkan dengan peluang adopsi aset alternatif sebagai penyimpan nilai. Namun, tren global yang ada menunjukkan bahwa pergantian dominasi mata uang merupakan proses panjang dan kompleks.