BERITA TERKINI
Dari Tiga Sarang Lebah hingga Puluhan Liter per Panen: Cerita UMKM Binaan MedcoEnergi di Festival Pojok UMKM 2025

Dari Tiga Sarang Lebah hingga Puluhan Liter per Panen: Cerita UMKM Binaan MedcoEnergi di Festival Pojok UMKM 2025

Festival Pojok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) MedcoEnergi 2025 di Jakarta menampilkan sejumlah kisah pelaku usaha dari wilayah operasi perusahaan yang berkembang setelah mendapat pendampingan. Di antara yang hadir, Muhammad Nur dari Aceh Timur dan Bustam dari Muara Enim menceritakan bagaimana usaha mereka bertumbuh dari skala terbatas menjadi lebih stabil dan produktif.

Muhammad Nur merupakan pelaku UMKM dari Aceh Timur yang mengembangkan usaha madu di wilayah Blok A, area operasi PT Medco E & P Malaka. Ia memulai budidaya madu pada 2018 dengan tiga sarang lebah, dengan hasil panen rata-rata 6–7 liter.

Menurut Nur, perubahan mulai terjadi setelah adanya pendampingan dari MedcoEnergi. Pada 2019, ia dan pelaku usaha lain dibentuk dalam kelompok dasar. Dukungan yang diberikan mencakup bantuan alat panen, mesin, baju pelindung, hingga pelatihan. Dari proses tersebut, kelompoknya kini mengelola sekitar 130 sarang lebah dengan produksi 40–60 liter per panen.

Setelah kelompok dinilai mandiri pada 2019, Nur dan rekan-rekannya memecah kelompok untuk mengembangkan bisnis masing-masing. Produk madu mereka dijual dengan kisaran harga Rp 200.000–Rp 400.000 per liter untuk grosir dan Rp 600.000–Rp 700.000 per liter untuk eceran. Pemasaran disebut telah menjangkau Medan, Banda Aceh, hingga Nagan Raya. Nur juga menyampaikan produknya telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal, serta sedang dalam proses paten. Penjualan daring belum dilakukan melalui platform e-commerce, namun sudah memanfaatkan media sosial dan berencana memperluas kanal promosi.

Selain madu, Nur mengembangkan usaha Jamur Tiram sejak 2020. Ia memulai dengan 800 baglog, lalu berkembang menjadi 2.000 baglog dan sempat mencapai 4.000 baglog. Nur menyebut bantuan rumah produksi dan pendampingan dari Medco membantu mengatasi kendala produksi. Dari 2.000 baglog, panennya kini mencapai 30–40 kilogram jamur segar per panen, dari sebelumnya 3–6 kilogram. Jamur tersebut dijual dengan harga Rp 35.000 per kilogram. Dalam usaha ini, Nur tercatat sebagai Direktur Usaha Budidaya Jamur Tiram Putra Syuhada.

Kisah lain datang dari Bustam, pelaku UMKM madu kelulut dari Muara Enim, Sumatera Selatan. Ia telah bergerak di bidang madu hutan sejak 1997 dan mulai dibina PT Medco E & P Lematang pada 2016. Bustam mengatakan usaha yang dikelola bersama 12 orang sempat menghadapi tantangan berat, termasuk kerusakan sarang akibat beruang. Dari 500 kotak lebah yang pernah dimiliki, ia menyebut hanya tersisa satu kotak karena banyak yang rusak.

Bustam menjelaskan, pendampingan yang diterima mencakup penyediaan kotak lebah, papan kayu, hingga pemasangan pagar seng untuk melindungi sarang. Setelah perlindungan diperkuat, ia menilai kotak lebah menjadi lebih aman. Dampaknya, pendapatan juga meningkat: dari produksi sekitar 50 botol per bulan dengan omzet kurang lebih Rp 3 juta, menjadi sekitar Rp 5 juta per bulan setelah pendampingan. Bustam menyatakan ingin menambah 200 kotak lebah kelulut, mengingat harga madu kelulut tinggi karena proses produksi yang tidak mudah. Ia menyebut untuk mendapatkan satu botol madu diperlukan waktu enam bulan dari tiga kotak.

Rahmi, pendamping kelompok UMKM dari PT Medco E & P Lematang, mengatakan pendampingan tersebut diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi. Ia berharap dukungan dapat berlanjut agar UMKM mitra binaan semakin maju dan membuka peluang usaha di lingkungan setempat.

Festival Pojok UMKM 2025 digelar pada 10–12 Desember 2025 di The Energy Building, SCBD, Jakarta. Acara ini berlangsung selama tiga hari dan menampilkan 22 UMKM binaan dari berbagai wilayah operasi perusahaan, termasuk onshore, offshore, Corridor, hingga unit bisnis Medco Power. Rangkaian kegiatan mencakup pameran produk, lokakarya bertema Branding dan Positioning di Dunia Digital, serta peluncuran CSR Hub dan Buku Program CSR MedcoEnergi.

Festival dibuka oleh Direktur Utama MedcoEnergi Hilmi Panigoro dan dihadiri perwakilan SKK Migas, BRI, serta TikTok Shop by Tokopedia. Dalam sambutannya, Hilmi menekankan penguatan UMKM sebagai bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan. Ia juga menyampaikan pandangannya bahwa UMKM merupakan kontributor terbesar bagi produk domestik bruto (PDB) Indonesia, dengan kontribusi lebih dari 60 persen.

Hilmi turut menyampaikan bahwa dalam lima tahun terakhir, prioritas program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Medco di lapangan berfokus pada micro financing untuk membangun lebih banyak UMKM. Ia menyebut CSR sebagai investasi, bukan beban. Ia juga mendorong peningkatan skala usaha, termasuk harapan agar omzet pelaku UMKM dapat tumbuh lebih besar dan jumlah peserta festival meningkat pada penyelenggaraan berikutnya.

Sejalan dengan itu, MedcoEnergi meresmikan Pojok UMKM sebagai ruang pemasaran permanen di The Energy Building, lantai B1. Fasilitas ini ditujukan sebagai etalase berkelanjutan bagi produk mitra binaan setelah festival berakhir.

Selama festival, pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan pelaku UMKM yang menampilkan berbagai produk, antara lain Gula Aren Siwalan, Telur Asin Booster Farm (Sampang), Ikan Bilis Hijau dan Madu Kelulut (Natuna), Minuman Serbuk Herbal dan Beras Organik (Malaka), Madu Hutan, Minuman Lemon Sereh, Keripik Singkong Anggun, hingga Sambal Salai Gabus (Grissik). MedcoEnergi juga meluncurkan buku “45 Cerita Baik” yang memuat perjalanan para pelaku UMKM dari berbagai daerah operasi.

VP Relations & Security MedcoEnergi Arif Rinaldi menyatakan festival ini menjadi ruang kolaborasi antara pelaku UMKM, pemerintah, dan pemangku kepentingan untuk mendorong UMKM naik kelas. Melalui kegiatan tersebut, perusahaan menyebut ingin memperluas dampak pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi dengan prinsip keberlanjutan.