Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menyatakan akan melanjutkan restrukturisasi perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), termasuk melalui penguatan infrastruktur teknologi pada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan penguatan teknologi diarahkan agar proses pengambilan keputusan di bank-bank Himbara menjadi lebih cepat, lebih baik, dan lebih transparan, terutama terkait penyaluran pinjaman kepada nasabah. Pernyataan itu disampaikan Rosan dalam acara “Semangat Awal Tahun 2026” di Jakarta, Rabu.
Rosan mencontohkan penguatan yang akan dilakukan pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Menurut dia, BRI perlu lebih fokus melayani segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta ritel, dengan dukungan teknologi sebagai faktor utama mengingat besarnya jumlah nasabah yang dilayani.
Seiring Himbara berada di bawah naungan Danantara, Rosan juga mengimbau agar bank-bank Himbara berkolaborasi dan bersinergi tidak hanya dengan sesama BUMN, tetapi juga dengan sektor swasta dan sektor lainnya.
Selain penguatan teknologi dan kolaborasi, Danantara menegaskan komitmennya untuk menerapkan praktik Good Corporate Governance (GCG) di seluruh lapisan perusahaan BUMN. Rosan menyebut tata kelola perusahaan yang baik, transparansi, akuntabilitas, dan integritas menjadi pedoman yang ingin diterapkan secara menyeluruh.
Dalam dokumen Danantara Economic Outlook 2026, Danantara menyatakan reformasi pada perusahaan-perusahaan BUMN besar menjadi agenda lanjutan yang akan dijalankan mulai 2026. Danantara menilai PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berada pada posisi yang tepat untuk pemulihan pendapatan seiring penurunan biaya dana dan membaiknya pertumbuhan pinjaman.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dinilai berada pada posisi yang tepat untuk memberikan nilai kepada pemegang saham dengan memanfaatkan aset yang lebih tinggi.
Danantara juga menyebut telah memperoleh kredibilitas pasar hingga batas tertentu melalui upaya pemulihan yang tengah berlangsung di PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), dan PT Timah Tbk (TINS).
Di sisi lain, Presiden RI Prabowo Subianto secara eksplisit menetapkan tujuan untuk mengurangi jumlah BUMN dari lebih dari 1.000 menjadi sekitar 200. Danantara menekankan bahwa target tersebut perlu dipahami sebagai program multi-tahun, bukan agenda tindakan korporasi dalam satu tahun kalender.

