BERITA TERKINI
CFO JIEP Dorong Transformasi Keuangan untuk Perkuat Ketahanan Perusahaan

CFO JIEP Dorong Transformasi Keuangan untuk Perkuat Ketahanan Perusahaan

Menjadi Chief Financial Officer (CFO) PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP) bukan tugas ringan bagi Dharma Satriadi. JIEP, yang berdiri sejak 1973, merupakan salah satu kawasan industri tertua di Indonesia dan memegang peran penting dalam mendukung aktivitas industri di Jakarta.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan menghadapi dinamika bisnis yang kompleks. Ketidakpastian ekonomi global, perubahan regulasi, serta tuntutan transparansi yang semakin tinggi mendorong fungsi keuangan bekerja lebih adaptif dan strategis.

Dharma menilai perubahan lingkungan bisnis telah memperluas tanggung jawab direktorat keuangan. Tekanan terhadap kinerja keuangan dipengaruhi oleh perubahan suku bunga, pergerakan nilai tukar, serta dorongan regulasi terkait ESG (Environment, Social, and Governance) dan digitalisasi pelaporan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Kementerian Keuangan. Menurutnya, peran CFO tidak lagi sebatas menjaga stabilitas laporan keuangan.

“Peran CFO sendiri bergeser dari controller menjadi resilience architect,” kata Dharma, yang pernah berpengalaman sebagai investment manager di Aavishkaar Venture Management Ltd.

Dalam konteks internal, Dharma menyebut JIEP menghadapi tantangan struktural yang berdampak langsung terhadap kinerja keuangan. Pendapatan utama perusahaan relatif terbatas, serapan belanja modal rendah, sementara piutang usaha yang macet cukup tinggi. Di sisi lain, sistem keuangan perusahaan disebut belum sepenuhnya terintegrasi, sehingga menghambat efisiensi operasional dan kecepatan pelaporan.

“Tantangan yang sifatnya struktural, mulai dari keterbatasan sumber pendapatan, tingginya piutang, dan belum terintegrasinya sistem keuangan menegaskan urgensi transformasi menuju financial excellence,” ujar Dharma, Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia.

Kondisi tersebut menekan likuiditas dan menghambat akurasi pelaporan serta kecepatan pengambilan keputusan. Untuk merespons tekanan itu, Dharma menerapkan strategi yang berfokus pada penguatan manajemen kas dan peningkatan efisiensi operasional.

Salah satu langkah utama adalah membangun sistem pengelolaan kas yang lebih terintegrasi dan proaktif. “Kami menggunakan pendekatan integrated cash management, dynamic cash forecasting, prudent investment allocation, dan strategic liquidity buffer,” jelasnya. Ia menegaskan pengelolaan keuangan tidak hanya bertujuan menjaga kas, tetapi juga mendorong kinerja korporasi secara keseluruhan.

Transformasi juga diarahkan pada penanganan piutang macet yang selama ini menjadi sumber tekanan likuiditas. Perusahaan membentuk tim khusus pengelolaan dan pengendalian piutang, serta bekerja sama dengan konsultan hukum atau Kejaksaan Negeri untuk memonitor dan menagih piutang secara lebih efektif.

Menurut Dharma, langkah-langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Posisi kas perusahaan disebut meningkat tajam dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, tidak hanya karena perbaikan pengelolaan kas, tetapi juga berkat optimalisasi dana menganggur melalui strategi treasury management yang menghasilkan tambahan pendapatan.

Selain penguatan kas, perbaikan struktur neraca dilakukan melalui revaluasi aset properti investasi. Dharma menjelaskan, selama puluhan tahun JIEP masih menggunakan nilai historis aset yang merujuk pada tahun pendirian perusahaan pada 1973, sehingga nilai aset tidak mencerminkan kondisi ekonomi terkini. Pada 2024, perusahaan melakukan penilaian ulang aset properti investasi tersebut.

Hasilnya, nilai aset melonjak sekitar 42 kali lipat, dari Rp128 miliar menjadi Rp5,4 triliun. “Dampaknya terhadap aktivitas perusahaan cukup signifikan,” ujarnya. Ia menilai langkah ini memperbaiki struktur neraca sekaligus meningkatkan kredibilitas perusahaan di mata investor dan lembaga pemeringkat.

JIEP juga menjalankan strategi efisiensi biaya melalui rasionalisasi anggaran operasional dan pengelolaan pajak yang lebih sistematis. “Kami melakukan cost leadership dan tax planning, merasionalisasi anggaran operasional, dan memastikan pembayaran fiskal pajak lebih tepat waktu,” kata Dharma, yang juga pernah menjadi penasihat khusus Ketua Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEPTI) Kementerian Perdagangan RI.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah memastikan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dilakukan tepat waktu untuk memperoleh insentif dari pemerintah daerah. Strategi ini menghasilkan penghematan sekitar 10%–15%.

Dharma menekankan efisiensi tersebut penting mengingat karakter bisnis pengelola kawasan industri sangat bergantung pada pengelolaan aset tanah. “Dalam konteks perusahaan pengelola kawasan industri, tanah merupakan aset terbesar yang harus kita jaga. Pengelolaan tanah secara baik dari aspek akuntansi dan keuangan sangat berkontribusi terhadap target pencapaian laba bersih perusahaan,” ujarnya.

Transformasi fungsi keuangan di JIEP juga mencakup perubahan budaya kerja. Dharma menilai CFO perlu berkembang dari financial leader menjadi pemimpin pencipta nilai. “CFO juga harus menjadi pemimpin yang transformatif,” katanya. Ia mendorong pembentukan tim keuangan yang lebih agile dan adaptif agar ketahanan organisasi tidak hanya bertumpu pada sistem, tetapi juga kualitas sumber daya manusia.

Perbaikan tata kelola keuangan ini tercermin pada peningkatan peringkat kredit perusahaan. Dharma menyebut JIEP впервые dinilai PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) pada 2022 dengan peringkat BBB, naik menjadi BBB+ pada 2023, dan meningkat lagi menjadi A- dengan outlook stabil pada 2024.

Ia menilai kenaikan peringkat tersebut tidak terlepas dari penguatan tata kelola keuangan dan peningkatan transparansi. “Penguatan tata-kelola keuangan menjadi fondasi utama ketahanan dan kredibilitas korporasi,” ujarnya.

Selain itu, JIEP mulai menjajaki peluang pembiayaan berbasis keberlanjutan atau green finance. Namun, langkah ini masih tahap awal karena perusahaan perlu memenuhi persyaratan sertifikasi kawasan industri hijau. JIEP menargetkan memperoleh sertifikasi tersebut dari pemerintah dalam beberapa tahun ke depan, yang diharapkan membuka akses pendanaan baru yang lebih kompetitif.