PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) berencana menggelar rights issue senilai Rp50 miliar. Rencana penambahan modal tersebut turut menjadi perhatian pelaku pasar, di tengah kondisi bursa yang belakangan diwarnai volatilitas, termasuk adanya sejumlah saham yang sempat dikenai suspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Rights issue merupakan aksi korporasi yang dilakukan perusahaan publik untuk menghimpun dana segar dari pemegang saham yang sudah ada. Dalam mekanisme ini, pemegang saham lama memperoleh hak terlebih dahulu untuk membeli saham baru sebelum ditawarkan ke publik.
Rencana rights issue BUVA disebut direspons positif oleh pasar, tercermin dari pergerakan saham emiten yang dikaitkan dengan Happy Hapsoro yang langsung melonjak.
Secara umum, perusahaan melakukan rights issue untuk sejumlah tujuan strategis, antara lain mendanai ekspansi dan pertumbuhan, memperbaiki struktur keuangan seperti pembayaran utang, serta meningkatkan likuiditas saham dengan menambah jumlah saham yang beredar di pasar.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati dampak dan risikonya. Rights issue dapat memberikan peluang membeli saham pada harga di bawah pasar dan membantu menjaga proporsi kepemilikan bila hak tersebut digunakan. Namun, apabila pemegang saham tidak mengeksekusi haknya, kepemilikan dapat terdilusi. Selain itu, setelah saham baru efektif diperdagangkan, terdapat kemungkinan muncul tekanan jual jangka pendek.
Bagi pemegang saham BUVA, langkah yang lazim dilakukan adalah mempelajari dokumen Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang memuat alasan aksi korporasi, harga penawaran, rasio rights issue, serta jadwal pelaksanaan. Setelah itu, investor dapat mengevaluasi rencana penggunaan dana Rp50 miliar dan menentukan pilihan: menggunakan hak beli, menjual hak (right) bila dapat diperdagangkan, atau membiarkan hak tersebut hangus dengan konsekuensi dilusi.
Di tengah dinamika pasar, termasuk peristiwa suspensi pada sejumlah saham, investor juga diingatkan untuk tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, seperti menggunakan dana yang sesuai profil risiko, melakukan diversifikasi, serta mempelajari fundamental perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.

