Bursa saham Asia diperkirakan melemah pada perdagangan Rabu (21/1), mengikuti pelemahan di Wall Street. Sentimen investor global tertekan oleh kekhawatiran eskalasi konflik dagang antara Amerika Serikat dan Eropa, serta gejolak di pasar obligasi Jepang.
Kontrak berjangka (futures) untuk indeks saham Australia, Jepang, dan Hong Kong terpantau turun setelah indeks S&P 500 mencatat penurunan terdalam sejak Oktober dan menghapus seluruh kenaikan yang dibukukan sejak awal tahun. Di Wall Street, Nasdaq 100 merosot 2,1%.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian, indeks volatilitas VIX naik menembus level 20 untuk pertama kalinya sejak November. Pada saat yang sama, harga emas melonjak ke rekor tertinggi seiring meningkatnya permintaan terhadap aset aman.
Tekanan juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil (yield) obligasi AS bertenor panjang menyentuh level tertinggi dalam empat bulan, dipicu aksi jual obligasi di Jepang dan rencana dana pensiun Denmark untuk keluar dari surat utang AS (Treasury). Perkembangan ini turut menyeret dolar AS, yang mencatat penurunan dua hari terburuk dalam sebulan terakhir.
Investor juga mencermati arah kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump yang dinilai sulit diprediksi. Termasuk di antaranya ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa yang menolak usulannya untuk membeli Greenland, yang mendorong pelaku pasar menilai kembali stabilitas AS sebagai tempat perlindungan yang aman.

