PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana menerbitkan Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan I Tahap IV Tahun 2026. Rencana ini melanjutkan strategi pendanaan jangka menengah yang telah dijalankan perseroan sejak 2025, dengan penekanan pada pengelolaan liabilitas serta menjaga fleksibilitas kas.
Melalui penerbitan tahap keempat, BUMI menargetkan perolehan dana Rp612,75 miliar. Obligasi yang ditawarkan memiliki tenor tiga tahun dengan kupon tetap 7,25% per tahun. Besaran kupon tersebut diposisikan untuk menjaga biaya pendanaan tetap terkendali di tengah fluktuasi suku bunga dan dinamika sentimen pasar global, sekaligus memperhitungkan karakter bisnis batu bara yang bersifat siklikal.
Penggunaan dana menjadi salah satu fokus utama dalam penerbitan obligasi ini. Berdasarkan keterbukaan informasi, sebagian besar dana akan diarahkan untuk pelunasan utang yang sudah ada, bukan untuk ekspansi.
Perseroan berencana melakukan pembayaran dipercepat atas pinjaman kepada Indies Special Opportunities III Ltd dan Indies Special Opportunities IV Ltd senilai USD20,455 juta atau sekitar Rp347,33 miliar dengan asumsi kurs Rp16.990 per dolar AS. Selain itu, BUMI juga akan melunasi kewajiban kepada Glass Trust (Singapore) Ltd sebesar USD25 juta atau setara Rp424,51 miliar.
Jika dijumlahkan, nilai pelunasan utang yang direncanakan melampaui dana yang ditargetkan dari penerbitan obligasi tahap ini. Kondisi tersebut mengindikasikan upaya perapihan struktur kewajiban yang dilakukan melalui kombinasi sumber pendanaan dan pengelolaan kas internal.
Sisa dana setelah pembayaran utang akan dialokasikan untuk modal kerja, mencakup kebutuhan operasional rutin seperti pembayaran gaji, jasa profesional, serta biaya pajak dan keuangan lainnya. Alokasi ini menunjukkan obligasi juga diposisikan sebagai penopang likuiditas jangka menengah.
Penerbitan Obligasi Berkelanjutan I Tahap IV merupakan bagian dari PUB I BUMI dengan target total dana Rp5 triliun. Sepanjang 2025, perseroan telah merealisasikan tiga tahap penerbitan sebelumnya, menandakan konsistensi penggunaan pasar obligasi sebagai sumber pendanaan, di samping alternatif pinjaman perbankan. Strategi ini dinilai memberi fleksibilitas dalam pengaturan tenor dan struktur bunga, sekaligus memperluas basis investor institusional.
Jadwal penawaran umum direncanakan berlangsung pada 9–13 Februari 2026, dengan penjatahan pada 18 Februari 2026, dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 23 Februari 2026.
Dari sisi kualitas kredit, obligasi BUMI memperoleh peringkat idA+ (Single A Plus) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yang berlaku hingga 1 Desember 2026. Peringkat tersebut mencerminkan kapasitas pembayaran kewajiban keuangan yang dinilai kuat, meski tetap sensitif terhadap perubahan kondisi bisnis dan ekonomi.
Manajemen juga menegaskan bahwa risiko utama perseroan berasal dari fluktuasi harga batu bara, sejalan dengan sifat bisnis yang siklikal. Faktor ini menjadi pengingat bahwa kemampuan pembayaran bunga dan pokok obligasi berkaitan erat dengan dinamika komoditas global.
Adapun dari sisi kinerja, laporan keuangan per September 2025 menunjukkan BUMI membukukan pendapatan USD1,03 miliar, tumbuh 11,91% secara tahunan, yang didorong peningkatan harga emas dan volume penjualan batu bara. Laba tahun berjalan tercatat USD60,07 juta pada akhir kuartal ketiga 2025.
Dengan struktur penerbitan dan rencana penggunaan dana tersebut, penerbitan obligasi ini lebih mencerminkan langkah penguatan neraca melalui pelunasan utang serta dukungan modal kerja, dibandingkan strategi ekspansi agresif. Di sisi lain, ketergantungan pada siklus komoditas tetap menjadi faktor yang melekat dalam profil risiko perseroan.

