Bogor—Brayen Patandean, pemuda asal Dusun Buntu Batu, Lembang Gandangbatu, Kecamatan Gandangbatu Sillanan, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tercatat sebagai dosen tetap termuda di Program Studi Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB University. Ia meraih posisi tersebut pada usia 26 tahun.
Brayen berasal dari keluarga petani. Ayahnya, Daniel Asin, menamatkan pendidikan hingga SMA, sementara ibunya, Ruth Barumbun, lulusan SD. Ia menyebut latar belakang keluarga dan keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan.
Kepada wartawan, Minggu (25/1/2026), Brayen menekankan pentingnya pendidikan dan meminta generasi muda tidak menyerah pada keadaan. “Keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti belajar. Selama ada kemauan dan kerja keras, selalu ada jalan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas program beasiswa yang membantunya melanjutkan studi. “Tanpa beasiswa, saya tidak akan sampai di titik ini. Semoga ke depan program-program pemerintah semakin banyak, tepat sasaran, dan menjangkau lebih banyak anak bangsa yang membutuhkan,” katanya.
Dalam riwayat pendidikannya, Brayen menyelesaikan program magister (S2) di IPB University dalam waktu 1,5 tahun dengan predikat cumlaude pada 2025. Ia merupakan penerima Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan untuk studi S2 pada 2023. Sebelumnya, pada 2021, ia lulus sebagai lulusan terbaik Program Studi Teknik Pertanian (S1) Universitas Hasanuddin.
Pada 2026, selain menjadi dosen tetap termuda di IPB University, Brayen juga tercatat sebagai penerima beasiswa LPDP Kementerian Keuangan untuk program doktor (S3) di IPB University. Sementara pendidikan menengahnya ditempuh di SMA Kristen Barana’ (lulus 2017), SMP Kristen Gandangbatu (lulus 2014), dan SDN 295 Impres Talimbung Buntu Batu (lulus 2011).
Kisah Brayen menjadi gambaran bahwa capaian akademik dapat diraih dari berbagai latar belakang, termasuk dari wilayah pegunungan Tana Toraja, melalui ketekunan dan dukungan kesempatan pendidikan.

