Jakarta — PT BPR Bank Tulungagung (Perseroda) menegaskan bahwa transformasi perusahaan tidak hanya diukur dari capaian laba dan pertumbuhan aset, tetapi juga dari upaya menyelaraskan sistem manajemen sumber daya manusia (SDM) dengan strategi bisnis. Di tengah dinamika ekonomi, perubahan regulasi, dan tuntutan pelayanan publik yang meningkat, pengelolaan SDM dinilai menjadi faktor penentu keberlanjutan bisnis.
Direktur Utama PT BPR Bank Tulungagung (Perseroda) Suhermin, dalam penyampaian kepada Dewan Juri TOP BUMD Awards 2026 secara daring dari Jakarta, menjelaskan bahwa SDM bukan sekadar pelaksana kebijakan, melainkan bagian integral dari strategi bisnis, terutama untuk mendukung pembiayaan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“BPR hadir untuk melayani sektor mikro dan UMKM. Karena itu, strategi bisnis kami harus didukung oleh SDM yang memahami karakter masyarakat, pola usaha mikro, serta memiliki kepekaan sosial. Inilah yang mendasari keselarasan antara manajemen SDM dan strategi bisnis kami,” ujar Suhermin.
Sebagai Bank Perekonomian Rakyat milik Pemerintah Kabupaten Tulungagung, BPR Bank Tulungagung menempatkan pembiayaan UMKM sebagai poros utama kegiatan usaha. Penyaluran pinjaman mikro kepada pelaku UMKM disebut tidak hanya dipandang sebagai aktivitas bisnis, tetapi juga sebagai kontribusi terhadap pembangunan ekonomi daerah.
Menurut Suhermin, keberhasilan penyaluran kredit mikro sangat ditentukan oleh kesiapan SDM di lapangan. Ia menilai pembiayaan mikro membutuhkan pendekatan berbeda dibanding pembiayaan korporasi.
“Memberikan pinjaman mikro kepada pelaku UMKM tidak bisa disamakan dengan pembiayaan korporasi. Dibutuhkan pendekatan yang lebih personal, pemahaman terhadap kondisi usaha nasabah, serta kemampuan membangun kepercayaan. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh SDM yang tepat,” paparnya.
Karena itu, program pembiayaan UMKM yang dijalankan BPR Bank Tulungagung diiringi penguatan kapasitas karyawan, terutama yang terlibat dalam pemasaran, analisis kredit, dan pendampingan nasabah.
Keselarasan antara manajemen SDM dan strategi bisnis, lanjut Suhermin, dimulai sejak proses rekrutmen. Perusahaan menerapkan seleksi yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis mikrofinansial.
“Kami tidak hanya mencari karyawan yang memiliki kemampuan teknis perbankan, tetapi juga yang memiliki pengalaman atau minat di sektor mikrofinansial. Karakter ini penting karena sebagian besar nasabah kami adalah pelaku UMKM,” ungkapnya.
Proses rekrutmen disebut dilakukan secara selektif dan transparan dengan mempertimbangkan latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, serta kemampuan komunikasi dan empati terhadap masyarakat. Langkah ini ditujukan untuk memastikan karyawan dapat menjalankan peran secara optimal dalam mendukung strategi bisnis perusahaan.
Selain kompetensi teknis, BPR Bank Tulungagung juga memberi perhatian pada pengembangan soft skill. Suhermin menilai kualitas pelayanan kepada nasabah sangat dipengaruhi kemampuan interpersonal karyawan.
“Soft skill seperti komunikasi, etika pelayanan, dan kemampuan membangun hubungan dengan nasabah adalah kunci. Karyawan BPR tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi banyak berinteraksi langsung dengan masyarakat,” ujarnya.
Untuk mendukung hal tersebut, perusahaan secara rutin menyelenggarakan pelatihan dan workshop yang mencakup pelayanan prima, komunikasi efektif, manajemen konflik, serta penguatan integritas dan etika kerja. Pelatihan itu disebut dirancang sebagai proses pembelajaran berkelanjutan yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi dan dinamika di lapangan.
Dalam mendorong kinerja, BPR Bank Tulungagung menerapkan sistem penghargaan dan sanksi yang dinyatakan jelas dan terukur. Karyawan yang mencapai target kinerja mendapatkan bonus, sedangkan yang belum mencapai target akan menjalani evaluasi dan pembinaan.
“Reward dan punishment kami terapkan bukan untuk menekan, tetapi untuk membangun tanggung jawab dan profesionalisme. Karyawan harus memahami bahwa setiap target yang ditetapkan berkaitan langsung dengan keberlangsungan perusahaan,” kata Suhermin.
Ia juga menekankan pentingnya budaya organisasi sebagai fondasi agar keselarasan SDM dan strategi bisnis berjalan. BPR Bank Tulungagung membangun budaya kerja yang menempatkan pelayanan prima sebagai nilai utama, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan.
“Budaya organisasi adalah fondasi. Kami ingin setiap karyawan memiliki kesadaran bahwa pelayanan kepada nasabah adalah prioritas utama, tanpa mengesampingkan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan,” ujarnya.
Budaya tersebut ditanamkan melalui keteladanan pimpinan, internalisasi nilai perusahaan, serta evaluasi kinerja yang tidak hanya menilai capaian kuantitatif, tetapi juga sikap dan perilaku kerja.
Upaya peningkatan kompetensi SDM juga dilakukan melalui dorongan untuk mengikuti sertifikasi profesional sesuai bidang tugas. Suhermin menyebut sertifikasi penting untuk memastikan kompetensi karyawan sesuai standar industri perbankan.
“Dengan sertifikasi, kami ingin memastikan bahwa SDM BPR memiliki kemampuan yang teruji dan diakui. Ini juga menjadi bagian dari komitmen kami dalam menjaga kualitas layanan dan kepatuhan terhadap regulasi,” jelasnya.
Selain pelatihan dan sertifikasi, perusahaan menerapkan mekanisme monitoring dan coaching kepada karyawan, serta melakukan evaluasi kinerja secara berkala yang disertai umpan balik konstruktif.

