BERITA TERKINI
Bitcoin Turun ke Area US$83.801 Jelang FOMC, Sinyal Teknis Memburuk dan Pasar Menanti Arah The Fed

Bitcoin Turun ke Area US$83.801 Jelang FOMC, Sinyal Teknis Memburuk dan Pasar Menanti Arah The Fed

Harga Bitcoin (BTC) melemah tajam hingga menyentuh US$83.801, terkoreksi 8,8% dalam 24 jam di tengah meningkatnya kecemasan pasar menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS, The Fed. Tekanan ini turut mengikis optimisme pelaku pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga, yang selama ini menjadi salah satu penopang sentimen aset berisiko seperti kripto.

Perubahan sentimen berlangsung cepat. Pasar yang sebelumnya berharap pada pelonggaran kebijakan moneter kini mulai mengantisipasi skenario yang lebih defensif, seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa arah kebijakan The Fed dapat menahan pemulihan harga Bitcoin dalam waktu dekat.

Dari sisi teknikal, penurunan BTC di bawah US$89.000 dinilai bukan sekadar koreksi biasa. Dalam enam hari terakhir, Bitcoin diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 365 hari (365-day moving average), level yang kerap dipandang sebagai dukungan jangka panjang dalam fase konsolidasi yang dipengaruhi faktor makro.

Tekanan teknis juga terlihat dari terbentuknya “death cross”, yakni saat exponential moving average (EMA) 50 hari memotong ke bawah EMA 200 hari. Pola ini secara historis sering dibaca sebagai sinyal bearish yang dapat mengindikasikan potensi tren turun lebih panjang. Sejalan dengan itu, data on-chain disebut menunjukkan peningkatan tekanan jual dari penambang serta pemegang jangka pendek (short-term holder).

Berdasarkan data TradingView, area dukungan berikutnya berada di sekitar US$75.000. Analis kripto Benjamin Cowen menyebut level tersebut berpotensi menjadi titik penurunan terakhir sebelum Bitcoin memulai reli makro baru, dengan catatan BTC mampu menemukan dukungan kuat dalam sekitar satu minggu ke depan.

“Waktu bagi Bitcoin untuk memantul, jika siklusnya belum berakhir, akan dimulai dalam satu minggu ke depan,” kata Cowen. Ia menambahkan, kegagalan merebut kembali SMA 200 hari dapat membuka ruang penurunan lanjutan, meskipun peluang rebound yang lebih besar masih mungkin terjadi pada paruh kedua 2026.

Di sisi makro, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember melemah. Data CME FedWatch menunjukkan peluang pemotongan yang sebelumnya diperkirakan 67% turun menjadi 33%. Perubahan ini dikaitkan dengan nada hawkish dalam notulen The Fed terbaru serta kekosongan data tenaga kerja AS yang penting akibat penundaan, yang memperbesar ketidakpastian mengenai kondisi ekonomi.

Namun, pasar prediksi belum sepenuhnya sejalan. Kalshi dan Polymarket disebut masih menempatkan peluang pemotongan di atas 65%, jauh di atas CME. Perbedaan tersebut mencerminkan ketidakpastian dan perbedaan interpretasi terhadap arah kebijakan, yang ikut membebani sentimen di pasar kripto.

Notulen rapat The Fed juga menggambarkan perbedaan pandangan di internal komite: sebagian mendukung pemangkasan suku bunga, sementara pihak lain menginginkan perlambatan inflasi yang lebih nyata terlebih dahulu. Tanpa sinyal yang tegas, pelaku pasar makro cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk Bitcoin dan saham teknologi.

Secara historis, Bitcoin kerap sensitif terhadap perubahan suku bunga. Pada 2019, BTC memulai pemulihan saat beberapa bank sentral utama mengadopsi kebijakan moneter yang lebih longgar. Pada 2020, pemotongan suku bunga 50 basis poin sempat memicu koreksi jangka pendek, tetapi kemudian diikuti reli besar yang membawa Bitcoin dari sekitar US$5.000 ke puncak US$69.000 pada akhir 2021.

Dalam situasi saat ini, katalis serupa dinilai belum terlihat. Pasar dibayangi kekhawatiran inflasi, keterbatasan data makro, serta kehati-hatian The Fed untuk melakukan pelonggaran cepat seperti pada 2020. Ketiadaan data terbaru juga menambah tekanan, karena pelaku pasar kehilangan rujukan penting untuk memperkirakan langkah kebijakan berikutnya.

Departemen Tenaga Kerja AS dikonfirmasi tidak akan merilis data nonfarm payrolls (NFP) Oktober, yang menciptakan jeda data makro lebih panjang dari biasanya. Kondisi ini dinilai memperbesar ruang volatilitas, karena pasar bereaksi lebih kuat terhadap sinyal kebijakan dan pergerakan harga harian.

Dalam konteks pertemuan FOMC, arah Bitcoin dinilai sangat bergantung pada keputusan The Fed. Secara umum, sikap hawkish atau penahanan suku bunga cenderung menekan aset berisiko. Sebaliknya, jika terjadi kejutan berupa pemangkasan suku bunga, Bitcoin berpotensi pulih lebih cepat. Jika suku bunga ditahan, tekanan turun disebut dapat berlanjut dan membuka kemungkinan pengujian ulang area dukungan sekitar US$75.000 menjelang akhir tahun.

Di tengah melemahnya Bitcoin, perhatian sebagian investor disebut beralih ke altcoin baru, salah satunya Bitcoin Hyper ($HYPER). Proyek ini digambarkan sebagai jaringan layer-2 untuk Bitcoin yang dibangun di atas Solana Virtual Machine (SVM). Disebutkan bahwa presale telah mengumpulkan lebih dari US$28,2 juta, dengan harga token US$0,013305. Perpindahan minat ini dikaitkan dengan upaya sebagian trader ritel mencari peluang di aset berisiko tinggi saat ketidakpastian makro menekan pergerakan Bitcoin.

Meski demikian, arah pasar kripto secara keseluruhan tetap sangat dipengaruhi dinamika kebijakan moneter AS dan respons investor terhadap sinyal The Fed dalam beberapa pekan ke depan.