BERITA TERKINI
Bitcoin Terus Melemah ke US$ 73.222, Investor Mulai Beralih ke Aset Aman

Bitcoin Terus Melemah ke US$ 73.222, Investor Mulai Beralih ke Aset Aman

Harga Bitcoin kembali tertekan dan turun ke level US$ 73.222 atau sekitar Rp 1,23 miliar (kurs Rp 16.755 per dolar AS) pada Kamis (5/2). Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin melemah 3,25%. Sementara dalam tujuh hari terakhir, penurunannya mencapai 17,84%.

Pelemahan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Ethereum (ETH) tercatat berada di US$ 2.151 atau sekitar Rp 36,08 juta. Nilai ETH turun 3,4% dalam 24 jam terakhir dan merosot 28,42% dalam sepekan.

Pergerakan serupa juga tampak pada sejumlah aset kripto lain. Tether (USDT) berada di level US$ 0,997 atau sekitar Rp 16.724, turun 0,09% dalam 24 jam terakhir dan 0,05% dalam tujuh hari. Solana (SOL) diperdagangkan di US$ 92,30 atau sekitar Rp 1,54 juta, melemah 5,48% dalam 24 jam dan turun 26,19% dalam sepekan.

Mengutip Bloomberg, hampir setengah triliun dolar AS menguap dari pasar kripto dalam waktu kurang dari sepekan, seiring aksi jual Bitcoin yang kian cepat. Data CoinGecko menunjukkan nilai kapitalisasi pasar kripto secara total turun US$ 467,6 miliar atau sekitar Rp 7.844 triliun sejak 29 Januari 2026.

Dalam laporan tersebut, Bitcoin disebut jatuh ke level terendah sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memenangkan pemilihan presiden pada awal November 2024. Meski Gedung Putih disebut mendukung kripto, Bitcoin tercatat anjlok sekitar 40% sejak sempat melonjak ke rekor tertinggi pada awal Oktober 2025. Penurunan tajam ini terjadi setelah serangkaian likuidasi dan kondisi pasar kripto yang disebut belum pulih secara menyeluruh.

Di tengah tekanan pada aset berisiko, investor mulai melirik aset yang dinilai lebih aman. Logam mulia disebut menjadi salah satu tujuan arus dana, seiring meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran yang turut menekan Bitcoin dan ekuitas AS.

Investor Michael Burry juga memperingatkan potensi spekulasi berlebih pada Bitcoin. Sementara itu, Deutsche Bank menilai “fase efek Tinkerbell” telah berakhir, dengan mengaitkannya pada sinyal hawkish dari The Fed dan likuiditas pasar yang menipis.