BERITA TERKINI
Bisnis Vietnam Menyesuaikan Strategi di Tengah Siklus Nilai Tukar Baru

Bisnis Vietnam Menyesuaikan Strategi di Tengah Siklus Nilai Tukar Baru

Pelemahan dong Vietnam (VND) sepanjang 2025 mendorong dunia usaha meninjau ulang strategi keuangan dan operasional, terutama bagi perusahaan yang bergantung pada pendapatan atau kewajiban dalam mata uang asing. Data lembaga analisis keuangan mencatat, pada akhir 2025 kurs USD/VND di bank-bank komersial mencapai 26.377 VND per USD, naik lebih dari 3,2% dibanding awal tahun.

Di pasar bebas, depresiasi VND dilaporkan lebih dalam, sekitar 4,2% dan pada beberapa periode sempat lebih tinggi. Tekanan baru mereda pada kuartal terakhir 2025 setelah Bank Negara Vietnam meningkatkan penjualan devisa untuk intervensi serta menyesuaikan suku bunga operasi pasar terbuka (OMO), yang membantu menstabilkan ekspektasi pasar.

Penguatan terhadap VND tidak hanya terjadi pada dolar AS. Berdasarkan data kurs di Vietcombank per 31 Desember 2025, nilai EUR/VND meningkat sekitar 16%, GBP/VND lebih dari 10%, dan JPY/VND hampir 4% dibandingkan awal 2025. Pergerakan ini memunculkan dampak yang beragam bagi komunitas bisnis.

Dari sisi positif, pelemahan VND dapat menjadi angin segar bagi eksportir karena harga barang Vietnam menjadi lebih kompetitif, sementara pendapatan valas yang dikonversi ke VND menghasilkan nilai lebih tinggi. Kondisi ini terutama menguntungkan perusahaan yang pendapatannya didominasi mata uang asing, sementara biaya utama masih dalam VND.

FPT Corporation menjadi salah satu contoh yang kerap disebut. Dalam laporan keuangan 2025 yang baru dirilis, segmen layanan TI luar negeri tetap menjadi pendorong pertumbuhan utama dengan pendapatan hampir 35.400 miliar VND, naik 14,3% dibanding tahun sebelumnya. Di pasar Jepang, tempat FPT memiliki pendapatan signifikan dalam yen, pertumbuhan pendapatan mencapai 25,4%. Diversifikasi struktur pendapatan, disertai pengurangan utang mata uang asing secara bertahap, disebut membantu perusahaan menjaga posisi yang relatif positif di tengah fluktuasi kurs.

Namun, kenaikan nilai tukar tidak otomatis menjadi jaminan kenaikan laba bagi semua eksportir. Kurs dipandang hanya salah satu variabel yang dapat cepat terimbangi oleh kenaikan biaya input atau faktor lain.

Perusahaan Saham Gabungan Makanan Sao Ta (Fimex) menjadi contoh yang menggambarkan sisi lain tersebut. Meski membukukan pendapatan rekor 8.185 miliar VND pada 2025—naik 18% dibanding 2024 dan melampaui target—kinerja laba perusahaan tidak sesuai harapan. Kenaikan harga bahan baku pada kuartal IV 2025, ditambah biaya terkait ekspor seperti lonjakan bea anti-dumping dan bea countervailing, dilaporkan menggerus manfaat dari pergerakan nilai tukar sehingga pendapatan meningkat tetapi laba lebih rendah dari yang diharapkan.

Situasi itu memperlihatkan bahwa kurs dapat menjadi dorongan jangka pendek, tetapi bukan “perisai” bagi eksportir. Ketika biaya impor bahan baku, mesin, atau pemenuhan kewajiban keuangan dalam mata uang asing meningkat, keuntungan dari kurs dapat cepat menyusut. Karena itu, sejumlah perusahaan besar tidak lagi memperlakukan nilai tukar sebagai faktor keberuntungan, melainkan risiko yang perlu dikelola secara rutin.

Sepanjang 2025, volatilitas nilai tukar juga menekan perusahaan di berbagai sektor dan mendorong penggunaan instrumen lindung nilai. Perusahaan Gabungan Air dan Lingkungan Binh Duong (Biwase), misalnya, secara proaktif menandatangani derivatif suku bunga dan swap lintas mata uang untuk mengalihkan sebagian pinjaman ke suku bunga dan nilai tukar tetap. Dampaknya, beban bunga pada 2025 turun lebih dari 43 miliar VND, sementara kerugian selisih kurs pada akhir periode turun lebih dari 52 miliar VND dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Biaya lindung nilai dinilai lebih rendah dibanding potensi kerugian jika nilai tukar bergerak tidak menguntungkan.

Laporan terbaru Mirae Asset Securities Joint Stock Company turut menyoroti sensitivitas laba terhadap kurs. Fluktuasi sekitar 3,1% disebut dapat langsung menggerus laba perusahaan yang menanggung pinjaman mata uang asing dalam jumlah besar. Sektor properti, yang dinilai sangat bergantung pada kredit valas, disebut menghadapi tekanan karena nilai pinjaman USD membengkak saat kurs bergerak. Perusahaan yang mengimpor bahan baku dalam mata uang asing juga menghadapi beban ganda: biaya impor naik di tengah pemulihan daya beli domestik yang lambat, sehingga ruang penetapan harga menjadi lebih menantang.

Di sektor penerbangan, sensitivitas dinilai lebih tinggi karena struktur biaya yang banyak bergantung pada sewa dan pembelian pesawat dalam USD. Perkiraan para ahli di Maybank Investment Bank menyebut margin keuntungan sejumlah bisnis di sektor ini dapat menurun signifikan ketika VND terdepresiasi.

Memasuki 2026, sejumlah proyeksi memperkirakan tekanan nilai tukar akan lebih ringan dibanding dua tahun sebelumnya. Para ahli dari Kafi Securities Company memprediksi depresiasi VND kemungkinan berada di kisaran 2–2,5% dibanding awal tahun, didukung peningkatan pasokan valuta asing dan ekspektasi kembalinya arus modal asing. Meski demikian, stabilitas relatif dinilai bukan alasan untuk berpuas diri, melainkan momentum untuk memperkuat pencegahan, menstandarkan manajemen risiko, dan memperlakukan nilai tukar sebagai variabel yang perlu dipantau dalam jangka panjang.

Pengalaman sejak 2025 menunjukkan, perusahaan yang proaktif mengelola risiko, mendiversifikasi sumber pendapatan valas, atau bertahap mengurangi ketergantungan pada utang mata uang asing cenderung lebih mampu menekan biaya keuangan. Pelajaran yang mengemuka bukan soal menghindari mata uang asing, melainkan belajar hidup berdampingan dengannya secara lebih sistematis agar pergerakan kurs tidak menjadi kejutan, melainkan faktor yang sudah diantisipasi dalam strategi keuangan.