BERITA TERKINI
Bisnis Vietnam Menatap 2026 dengan Optimisme, Ditopang Ekspor, FDI, dan Reformasi Pasar Modal

Bisnis Vietnam Menatap 2026 dengan Optimisme, Ditopang Ekspor, FDI, dan Reformasi Pasar Modal

Tahun 2025 menjadi catatan penting bagi perdagangan Vietnam setelah nilai impor dan ekspor mencapai rekor baru sebesar 930 miliar dolar AS. Pencapaian tersebut dinilai mencerminkan kemampuan adaptasi dunia usaha domestik di tengah fluktuasi ekonomi global.

Memasuki awal 2026, para ekonom menilai kesepakatan tarif timbal balik Vietnam dengan Amerika Serikat menjadi pijakan yang memperkuat posisi barang Vietnam di pasar yang lebih menuntut. Stabilitas diplomasi ekonomi ini disebut membantu pelaku ekspor menyusun rencana produksi jangka panjang, tidak lagi sekadar merespons perubahan pasar secara reaktif.

Dari sisi investasi, perwakilan Asosiasi Perusahaan Investasi Asing Vietnam (VAFIE) menyatakan daya tarik Vietnam bagi modal asing masih kuat. Arus relokasi manufaktur ke Vietnam disebut terus berlangsung, dengan kecenderungan pergeseran dari sektor padat karya menuju industri teknologi tinggi dan industri pendukung.

Pengamatan lapangan menunjukkan sejumlah sektor seperti industri pendukung, real estat industri, serta perusahaan tekstil dan garmen besar berada dalam situasi bisnis yang positif. Sejumlah perusahaan dilaporkan telah mengamankan pesanan hingga akhir kuartal II 2026, yang dipandang sebagai sinyal kepercayaan mitra internasional terhadap rantai pasok Vietnam. Optimisme ini tidak hanya tercermin dari laporan keuangan, tetapi juga dari aktivitas produksi di kawasan industri utama dari utara hingga selatan.

Wakil Ketua Asosiasi Tekstil dan Garmen Vietnam (VITAS), Truong Van Cam, mengatakan industri tekstil dan garmen telah melewati periode tersulit dan mulai mengalami percepatan berkat strategi “penghijauan”. Menurutnya, investasi pada energi terbarukan dan pengolahan air limbah sesuai standar internasional membantu industri mempertahankan daya saing di pasar Uni Eropa dan AS di tengah aturan keberlanjutan yang semakin ketat.

Cam juga menilai pemenuhan pesanan hingga pertengahan 2026 menunjukkan pergeseran respons industri terhadap tren konsumen global, dari produksi cepat menuju produksi berkelanjutan dan sirkular.

Di tingkat perusahaan, Direktur Thanh Huong Co., Ltd. (Hung Yen), Nguyen Thu Huong, menyampaikan perusahaannya menyelesaikan peningkatan seluruh lini produksi otomatis pada kuartal IV 2025. Ia menyebut perusahaan tidak hanya menambah kapasitas, tetapi juga menekan biaya operasional melalui sistem manajemen cerdas. Dengan pesanan yang stabil serta mitra dari AS dan Jepang yang mulai meningkatkan ukuran kontrak untuk keseluruhan 2026, perusahaan memperkirakan pendapatan tumbuh setidaknya 20% dibanding tahun sebelumnya. Huong menilai peluang terobosan terbuka bagi pelaku tekstil dan garmen yang mampu mengikuti transformasi digital dan personalisasi produk sesuai tuntutan pasar.

Optimisme juga terlihat pada usaha kecil dan menengah (UKM). Wakil Ketua Tetap Asosiasi Usaha Kecil dan Menengah Vietnam (VINASME), To Hoai Nam, menyebut kreativitas dan kemampuan adaptasi anggota asosiasi tetap terjaga. Menurutnya, meski menghadapi tekanan biaya input, dukungan kebijakan pajak dan suku bunga pemerintah pada 2025 memberi ruang bagi UKM untuk berinvestasi dalam transformasi digital. Ia menilai pola pikir bisnis pada 2026 bergeser dari “bertahan” menjadi “menyerang”, dengan upaya aktif mencari pasar khusus dan memperdalam partisipasi dalam rantai nilai perusahaan FDI, yang dipandang sebagai fondasi untuk kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan PDB.

Dari sisi permintaan dalam negeri, Nam menilai daya beli domestik menjadi pendorong penting di tengah proyeksi inflasi 2026 sekitar 4,5%. Ia mengatakan pelaku usaha memandang kebijakan pengurangan pajak pertambahan nilai (PPN), reformasi gaji, dan kenaikan pendapatan riil pekerja membantu menjaga konsumsi tetap stabil. Kondisi ini, menurutnya, menjelaskan mengapa saham ritel seperti MWG serta bisnis makanan dan minuman mendapat perhatian dari dana investasi besar. Pemulihan konsumsi domestik dinilai berperan sebagai “bantalan” yang menjaga momentum pertumbuhan saat ekonomi global berfluktuasi.

Kepercayaan investor juga disebut terdorong oleh reformasi pasar modal dan transformasi struktural ekonomi. Setelah mengalami lonjakan pada 2025, VN-Index disebut menatap tonggak baru. Meski indeks tumbuh lebih dari 40% dalam setahun terakhir, analisis menyebut valuasi pasar masih menarik: rasio P/E pasar sekitar 14,6 kali, lebih rendah dibanding rata-rata lima tahun 16,3 kali. Kondisi ini dipandang menunjukkan ruang pertumbuhan pasar saham Vietnam masih terbuka dan belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan bisnis.

Daya tarik valuasi tersebut disebut mendorong arus masuk modal asing bersih kembali berlanjut pada awal 2026. Investor institusional internasional dinilai lebih selektif, berfokus pada perusahaan dengan neraca sehat, tingkat utang rendah, dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Arus modal ini dipandang strategis, termasuk dengan pertimbangan potensi peningkatan status pasar saham Vietnam dari pasar perbatasan menjadi pasar berkembang.

Direktur Senior KIS Vietnam Securities, Truong Hien Phuong, menilai peluncuran resmi sistem teknologi informasi KRX dan penerapan solusi perdagangan baru seperti perdagangan intraday (T+0) menjadi pendorong penting bagi pasar saham. Ia mengatakan reformasi tersebut meningkatkan likuiditas dan menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih adil, transparan, dan profesional bagi investor ritel maupun institusional. Dengan dukungan infrastruktur dan landasan hukum, ia menilai VN-Index berpotensi menuju target 2.000 poin dalam jangka menengah dan panjang.

Selain memenuhi standar teknis dan mendukung persyaratan lembaga pemeringkat internasional terkait peningkatan peringkat pasar, infrastruktur baru ini juga dinilai penting dalam menyalurkan dana masyarakat ke sektor produksi dan bisnis melalui pasar modal. Kemudahan penghimpunan modal jangka menengah dan panjang di bursa saham disebut dapat mengurangi ketergantungan perusahaan pada kredit bank, memperbaiki struktur keuangan, dan meningkatkan daya saing.

Dalam kerangka strategi pembangunan 2026–2030, struktur ekonomi Vietnam disebut bergerak menuju reformasi kelembagaan, percepatan transformasi digital, dan pengembangan ekonomi hijau. Sejumlah proyek energi terbarukan skala besar serta infrastruktur digital modern disebut tengah digencarkan oleh perusahaan seperti Pow, Geg, dan FPT. Perbedaan kinerja laba pada kuartal IV 2025 juga dipandang memberi sinyal kepada investor untuk memprioritaskan perusahaan dengan pertumbuhan nyata yang diuntungkan oleh pendorong nasional seperti investasi publik, ekspor, dan penguasaan teknologi.

Secara keseluruhan, 2026 disebut berpotensi menjadi awal siklus pertumbuhan baru. Dengan dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang fleksibel, serta kapasitas domestik dan semangat inovasi komunitas bisnis, Vietnam menatap penguatan posisinya di peta ekonomi kawasan. Ketika kepercayaan investor ditopang oleh kinerja bisnis dan transparansi pasar, dunia usaha Vietnam dinilai berada dalam posisi untuk tidak hanya menghadapi tantangan jangka pendek, tetapi juga mengejar terobosan pada 2026.